Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Tuesday, June 24, 2008

Belajar Sambil Bermain di Alam Bebas

SD Mangunan

YOGYAKARTA -– Bisa jadi Sekolah Dasar Mangunan merupakan yang terunik di wilayah Kota Pelajar Yogyakarta. Di SD ini tidak diajarkan mata pelajaran agama, dan proses belajar mengajarnya pun bisa di mana saja.
Di dalam ruangan, di sawah, di sungai, di bawah naungan rindang pohon, atau malah di jalanan kampung. Bahkan ruang kelasnya pun bukan di kelas umum yang bersegi empat, namun justru di pendapa rumah penduduk.
Maklum saja, sekolah itu memang menyewa empat rumah penduduk di sana. Keanehan itu masih akan bertambah lagi. Misalnya, tempat duduk dan meja di ruangan kelas bisa diubah setiap saat. Bukan berderet dan berjajar seperti sekolah lainnya, tapi benar-benar bebas sesuai selera dan mata pelajaran yang sedang diajarkan. Bisa berbentuk ladam kuda, bisa pula berkelompok. Itulah Sekolah Dasar Kanisius Mangunan, yang kemudian lebih dikenal dengan SD Mangunan.
Terletak di Dusun Mangunan, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, sekitar 12 kilometer di sisi timur Kota Yogya, SD itu merupakan bentuk dan metode pendidikan obsesi almarhum Romo YB Mangunwijaya, seorang rohaniwan Katholik. Di SD ini Romo Mangun - begitu sapaan akrabnya di kala masih hidup - berusaha memadukan unsur proses bina religiositas, budi luhur, pencerdasan, serta semangat kerja nyata.
Apa kata Romo Mangun kala itu ketika menyatakan tidak perlu pendidikan agama secara resmi di SD Mangunan tersebut? Menurut Siswandi, salah seorang guru SD Mangunan yang telah mengajar lima tahun kepada SH pada Kamis (2/5), Romo Mangun memang menuntut anak-anak memiliki pendidikan dasar keimanan, sebab iman merupakan dasar dari semua agama.
Menurut pandangan Romo Mangun, orang yang beriman tentu beragama; namun mereka yang mengaku beragama belum tentu beriman. ”Oleh karena itulah di sini tidak ada pelajaran agama. Yang selalu kami gelar adalah komunikasi iman”, ujarnya.

Soal keimanan itu, maka yang diajarkan adalah seputar pengalaman hidup sehari-hari yang berhubungan dengan tingkah laku yang benar, budi pekerti, dan kerukunan umat beriman. ”Pengalaman mereka berdialog dengan rekan, orangtua, dan tetangganya didialogkan dengan teman-teman sekelas di sini,” kata Siswandi.
Siswandi yang mengajar kelas V menuturkan, anak-anak didiknya sering diajak keluar kelas dan belajar langsung di alam terbuka. ”Apa saja yang kami temui di sana dapat kami diskusikan. Tentu saja semua berhubungan dengan mata pelajaran yang sedang kami bahas,” katanya.
Untuk memacu kebebasan berpikir dan kreativitas, anak-anak usia SD itu selalu diminta untuk membuat semacam ”laporan” hasil pengamatan mereka. Laporan itu pun didiskusikan di antara mereka dan kemudian membuat kesimpulan.
Untuk menumbuhkan jiwa seni, pihak sekolah juga mengundang sejumlah seniman kondang dari Yogya. Dulu, sewaktu jadwal Butet Kartaredjasa belum sibuk, ia sering datang ke sekolah ini untuk mengajari anak-anak bercerita kisah-kisah menarik.
Kini sekolah itu masih mengundang penyair Wani Darmawan maupun Cak Agus Aceh untuk mengajari anak-anak membaca puisi dan membuat syair. Bahkan secara periodik siswa itu juga diajak ke Rumah Seni Senthong.
Kurikulum Gado-gado
SD Mangunan itu semula nyaris dibubarkan karena kekurangan murid sebagai salah satu akibat keberhasilan program Keluarga Berencana. Akan tetapi Romo YB Mangunwijaya kemudian meminta sekolah itu untuk tetap diteruskan sebagai SD Percobaan Mangunan. Ranting Dinas P&K Kecamatan Berbah, Sleman mengizinkan.
Sekolah itu dikelola Romo YB Mangunwijaya mulai tahun ajaran 1994/1995 di bawah sebuah lembaga yang diberi nama Pendidikan Dasar Eksperimental Mangunan (PDEM). Lembaga itu beraliansi dengan Yayasan Kanisius, Grasindo dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG), dan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar yang didirikan Romo Mangun.
Dalam menerapkan kurikulum belajar-mengajar di SD Mangunan ini akhirnya memang berbeda dengan sekolah yang lain. Meskipun tetap mengacu pada kurikulum pemerintah, namun ada pengembangan-pengembangan dengan metode pendidikan yang cukup modern meski tetap berpijak pada akar budaya lokal. ” Kurikulum dari pemerintah tetap kami pakai sebab itu merupakan kurikulum dasar. Sejalan dengan desentralisasi, kami diberi kebebasan untuk menjalankan kurikulum itu menurut selera di sekolah,” tutur Susana Endang Cahyani, guru Bahasa Inggris sekaligus coordinator kurikulum.
SD Mangunan itu kini memiliki 46 siswa. Ketika Romo Mangun meninggal dunia, sekolah ini sempat tidak menerima siswa kelas satu selama dua tahun. Kemudian kembali sekolah itu menerima siswa lagi. Bisa dimengerti jika pada tahun 1999 jumlah siswa mencapai 72 murid, kini tinggal 46 dikarenakan ada masa kosong dua tahun tersebut.
”Tujuan Romo Mangun dengan system pengajarannya itu adalah agar para siswanya memiliki jiwa kritis, kreatif, dan berani bertanya. Di sini, guru merupakan guru sejati, bukan pawang. Kami menjadi guru, teman, dan sahabat. Ada konsep ‘ajrih-asih’ dari Romo Mangun. Guru itu memang harus disegani, ditakuti, tapi harus welas asih,” ujar Endang.
Soal prestasi akademik, SD Mangunan masih bertengger di 10 besar dari 29 SD di Kecamatan Berbah jika dilihat dari hasil Ebtanas tahun 2001. Dari 11 lulusan kelas VI, lima anak diterima di SLTP Negeri, sementara lainnya meskipun bisa masuk ke negeri, tetapi memilih tetap di SLTP swasta dengan alasan tersendiri.

Konsep Homo Ludens
Dalam menerapkan sistem belajar mengajar, Romo Mangun membuat konsep dasar homo ludens. Artinya, manusia yang bermain. Dengan metode tersebut rohaniwan ini menginginkan agar anak-anak dapat belajar secara langsung berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari, tanpa meninggalkan sifat si anak, yaitu bermain. ” Anak didik kami di sini berusaha menyerap ilmu secara langsung dari pengalaman sehari-hari,” kata Endang.
Beberapa pelajaran di sana juga agak aneh jika dibandingkan sekolah umum lainnya. Lihat saja ada pelajaran ”Kotak Pertanyaan” dan ”Bacaan Bagus”. Dalam ”Kotak Pertanyaan”, para murid diberi kertas kecil yang kemudian diisi dengan berbagai pertanyaan yang ditemui sehari-hari.
Caranya, mereka menguraikan masalahnya terlebih dulu, baru kemudian bertanya. Sebagai contoh, ada seorang siswa yang menceritakan kenapa para tukang kayu setiap menyambung kayu tidak dengan paku, tetapi justru dipasak dengan bambu. Ada lagi yang menceritakan soal kehidupan belut. Mengapa belut bisa bernafas di dalam Lumpur, sementara ikan tidak? Semua pertanyaan itu kemudian dilemparkan kembali kepada para siswa untuk menjawabnya. Jika dalam dialog para siswa ternyata belum menemukan jawabnya, maka tugas guru yang menjelaskan.
Sementara untuk pelajaran ”Bacaan Bagus”, para murid diminta membaca sebuah bacaan yang menarik, biasanya tentang ilmu pengetahuan. Isi bacaan itu kemudian dibahas bersama dengan duduk berkelompok, saling berhadapan, dan guru hanya memandu diskusi anak-anak usia SD itu.
Di sekolah itu juga banyak disimpan alat-alat permainan simulasi yang berhubungan dengan pelajaran matematika, seperti perkalian, menghafal rumus, dsbnya. Alat-alat itu ada yang dibuat oleh guru, ada pula yang berasal dari Jerman dan Belanda. ” Yang penting, anak-anak di sini tidak takut dengan pelajaran matematika, IPA, maupun Bahasa Inggris. Semua diajarkan dengan suasana bermain yang menggemberikan,” kata Endang.
Pelajaran bahasa Inggris misalnya, anak-anak sering diajak keluar kelas untuk melihat alam sekitarnya. Bahkan di dalam kelas, Endang pun berusaha memacu anak-anak untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Sementara untuk matematika, mereka menggunakan metoda dan buku-buku dari Belanda seperti ”PLUS PUN”.
Dalam pelajaran Bahasa Inggris di Kelas VI, misalnya, setiap siswa diminta membaca dengan jelas setiap kosa kata bahasa Inggris tersebut. Meski masih terbata-bata, Yuli pun berusaha mengucapkan bacaan Bahasa Inggris tersebut tanpa takut salah, apalagi malu.

Berdinding Gedeg
SD Mangunan adalah sekolah yang amat sederhana. Karena menyewa empat rumah penduduk, dindingnya pun setengah tembok, separo gedeg dari anyaman bambu. Rumah itu sejak 1994 disewa untuk masa waktu sembilan tahun. Namun sejak 2001 lalu sewa rumah itu bisa diperpanjang hingga 15 tahun ke depan. Oleh karena itu, ada sebuah rumah yang dibuat agak permanen dengan ditembok. Kini sedang dikerjakan oleh para tukang.
Soal besarnya SPP, setiap bulan rata-rata tiap siswa ditarik Rp 4.000. ” Namun ada juga siswa yang gratis karena disumbang oleh orang lain secara personal. Jadi semacam beasiswa, bukan karena prestasi akademiknya, namun lebih melihat pada kemampuan ekonomi orangtuanya,” kata Endang.
Asal keluarga para siswa di sekolah itu pun sebagian besar dari kalangan ekonomi lemah. Para orangtua mereka adalah buruh tani, sopir angkutan, pedagang sayur di pasar. ” Yang tergolong kalangan menengah ke atas bisa dihitung dengan jari,” ujar Endang.
Hal itu diakui oleh guru kelas I Ch Rupini dan Ch Sri Siwiyanti. Salah seorang anak didiknya adalah putri dari seorang pedagang sayur. Akan tetapi ada juga siswa yang harus membayar Rp 9.000 per bulan karena ia dianggap dari kalangan orang yang berekonomi lebih baik.
Dan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2002, memang di sana digelar upacara, namun lebih bersifat serenomonial belaka. ” Anak-anak baru belajar upacara bendera pagi ini tadi,” ujar seorang guru. Hal itu berbeda dengan sebuah SD Negeri yang berjarak sekitar 500 meter dari SD Mangunan. Di sana digelar upacara resmi, lengkap dengan spanduk ” Memperingati Hardiknas 2002”.
Dari kasus itu bisa ditarik kesimpulan sementara dalam memaknai Hardiknas. Ada yang langsung mengambil makna pendidikan secara langsung, namun ada pula yang masih dibebani dengan segala tetek-bengek upacara resmi.
Hanya saja, beberapa sekolah negeri di Yogya, begitu upacara Hardikas usai, para siswa langsung meliburkan diri dan mereka ada yang ngeluyur ke warung internet untuk chatting. Di SD Mangunan, mereka masih sibuk belajar. (SH/Suherdjoko) sinar harapan



Tumbuhkan Kecintaan Anak Akan Alam


Bermain adalah hal yang paling disukai oleh anak dan menjadi fitrahnya. Beragam permainan menjadi pesona dan daya tarik anak, baik itu permainan yang dilakukan di dalam ruangan maupun diluar ruangan. Namun, pernahkah terbesit dalam benak dan pikiran Anda selaku orangtua untuk mengajak putra-putri bermain sambil belajar?.

Seperti bermain outbound,bercocok tanam,beternak,belajar mencuci baju, bermain sepakbola, menggambar bahkan berwiraswasta. Ada sekelompok anak yang sedang asyik bermain sepakbola, belajar mencuci baju, outbond. Walaupun tampak kotor, anak-anak terlihat senang. Mereka bukan hanya bermain saja, melainkan juga sedang bersekolah, sekolah alam tepatnya. Cara belajarnya pun berbeda dengan sekolah umum lainnya sesuai dengan namanya, anak-anak coba didekatkan dengan alam. Suasana dan sarana sekolah alam memang dirancang untuk menempa kecerdasan natural anak. Namun bukan mustahil sekolah biasa menjadikan anak didik juga mencintai lingkungan.

Apa Sih Sekolah Alam?

Semakin modernnya kota-kota besar, tak jarang banyak anak-anak zaman sekarang seolah asing dengan lingkungan alamnya sendiri. Misalnya saja nasi, mereka tahu nasi menjadi makanan pokok dan berasal dari padi, tapi mereka tak memahami bagaimana proses menanam padi, menuai hingga mengolahnya menjadi bulir-bulir beras sebelum kemudian ditanak menjadi nasi. Ironi memang, berangkat dari keprihatinan akan kondisi pengetahuan dan wawasan anak-anak tentang alam, kini banyak berbagai sarana baru ditawarkan sekolah-sekolah yang menamakan dirinya ’Sekolah Alam’. Sekolah semacam ini tak hanya dilengkapi laboratorium dan perangkat komputer, tapi sekolahnya sendiri ditata menjadi bagian dari alam terbuka, ruang-ruangnya terbuat dari saung daun kelapa dan ijuk. Pohon-pohon rindang dibiarkan tumbuh di hampir seluruh sudut sekolah, lengkap dengan berbagai sarana eksplorasi seperti rumah pohon, climbing, lapangan bola dan flying fox.

Menurut Efriyani Djuwita,M.Si seorang psikolog Perkembangan Anak dan staf pengajar Fakultas Psikologi UI, Sekolah alam adalah salah satu bentuk pendidikan alternatif yang menggunakan alam sebagai media utama sebagai pembelajaran siswa didiknya. Tidak seperti sekolah biasa yang lebih banyak menggunakan metode belajar mengajar di dalam kelas, para siswa belajar lebih banyak di alam terbuka. Di sekolah alam metode belajar mengajar lebih banyak menggunakan aktif atau action learning dimana anak belajar melalui pengalaman (red- dimana anak mengalami dan melakukan langsung) . Dengan mengalami langsung anak atau siswa diharapkan belajar dengan lebih bersemangat, tidak bosan, dan lebih aktif. Penggunaan alam sebagai media belajar menurut psikolog yang akrab disapa Ita ini diharapkan agar kelak anak atau siswa jadi lebih aware dengan lingkungannya dan tahu aplikasi dari pengetahuan yang dipelajari. Tidak hanya sebatas teori saja.

Efriyani Djuwita,M.Si juga mengatakan bahwa bisa dibilang konsep sekolah alam adalah konsep belajar aktif, menyenangkan dengan menggunakan alam sebagai media langsung untuk belajar. Jika dibilang Sekolah Alam mengacu pada pendidikan montesorri mungkin tidak bisa dibilang mengacu seratus persen. Namun ada beberapa dasar-dasar metode pendidikan montesorri yang menurutnya, juga diterapkan dalam Sekolah Alam. Baik Montesorri dan Sekolah Alam berusaha menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan, dimana atmosfer belajar tidak menegangkan, komunikasi antara guru dan siswa juga hangat dan juga mementingkan pada active learning dimana siswa tidak berfokus pada buku-buku pelajaran saja tapi mengalami langsung apa yang mereka pelajari, bisa lewat percobaan, observasi dan lain sebagainya. Hanya sekolah alam lebih memanfaatkan alam sebagai media untuk siswa belajar langsung, sementara dalam pendidikan montesorri, material yang digunakan bisa tidak disediakan di alam, namun bisa berupa material yang memang didesign khusus untuk membantu siswa belajar.

Kelebihan sekolah alam dibandingkan sekolah biasa, menurut psikolog yang mengambil S2 nya di UI ini, sekolah alam membuat anak tidak terpaku hanya pada teori saja. Namun mereka dapat mengalami langsung pengetahuan yang mereka pelajari di alam. Karena diakui saat ini sekolah-sekolah biasa lebih banyak menggunakan sistem belajar mengajar konvensional dimana guru menerangkan, siswa hanya mendapat pengetahuan dengan mengandalkan buku panduan saja, dan siswa jarang diberikan kesempatan untuk mengalami langsung atau melihat langsung bentuk pengetahuan yang mereka pelajari. Di sekolah alam, biasanya aturan yang diberlakukan tidak seketat sekolah biasa dimana siswa harus duduk mendengarkan gurunya atau mendapatkan hukuman jika tidak mengerjakan tugas.

Menurut Dasayoga Isbanu Jaya selaku ketua yayasan dan praktisi pengajar di sekolah alam Ciganjur, sekolah alam adalah sebuah impian yang jadi kenyataan bagi mereka yang mengangankan dan menginginkan perubahan dalam dunia pendidikan. Lebih lanjut Yoga menjelaskan bahwa yang diharapkan tidak sekedar perubahan sistem, metoda dan target pembelajaran melainkan paradigma pendidikan yang akan mengarah pada perbaikan mutu dan hasil dari pendidikan itu sendiri.Senada dengan Yoga, Hendra Setiawan selaku Management Kandank Jurank Doank juga mengamini bahwa sekolah alam dapat menjadi alternatif sekolah yang bisa membawa anak menjadi lebih kreatif, berani mengungkapkan keinginannya dan mengarahkan anak pada hal-hal yang positif.

Sistem Pendidikan Yang Beda

Di sekolah alam, jarang atau bahkan tidak menerapkan sistem pemberian PR (Pekerjaan Rumah),sebenarnya pada pendidikan konvensional (Sekolah biasa) pemberian PR asal proporsi dan tujuannya tepat dapat melatih anak juga untuk bertanggung jawab dengan tugas yang mereka miliki. Di sekolah alampun pengajaran tentang tanggung jawab dan disiplin diri diajarkan, misalnya saja dalam bentuk antrian baris saat akan mencuci tangan, bekerjasama dengan teman sebaya dalam mengerjakan tugas. Mungkin cara dan kegiatannya yang berbeda. Efriyani Djuwita,M.Si menjelaskan lebih lanjut mengenai sistem pendidikan sekolah alam yang banyak manfaatnya. Sekolah alam mengajarkan siswa belajar tidak hanya berdasarkan atau mengandalkan text book, tapi juga belajar aktif. Belajar dengan aktif dengan situasi, kondisi, komunikasi antara siswa dan guru yang menyenangkan tentunya diharapkan akan memberikan motivasi belajar yang besar untuk siswa dan menumbuhkan minat akan apa yang dipelajari. Situasi belajar yang menyenangkan, dukungan komunikasi yang hangat antara guru dan siswa memudahkan anak dalam beradaptasi dan memahami dirinya sendiri.

Kurikulum Dan Biaya Yang Beda

Jika berbicara tentang sekolah tak terlepas dari kurikulum yang ada dan ditetapkan pemerintah, berbeda dengan sekolah konvensional. Menurut Yoga, sekolah alam memiliki kurikulum yang berbeda, jikapun menggunakan kurikulum pendidikan biasanya dilakukan penyesuaian saja, hal senada juga dilontarkan Hendra. Menurutnya sekolah alam yang dirintis oleh Dik Doank bahkan tidak menggunakan kurikulum, sebab sekolah alamnya mengajarkan anak untuk menggali potensi dirinya tanpa harus menjadi beban sang anak dengan sekolahnya.

”Jika inti tujuan atau sasaran sesuai dengan kegiatan yang dilakukan, metode belajar aktif di alam ini akan banyak membantu siswa menyerap pelajaran atau proses pengajaran yang diberikan,”terang Ita. Dalam memberikan pendidikan bagi anak, orangtua biasanya akan memberikan yang terbaik buat putra-putrinya. Orang tua tak peduli dengan besarnya biaya pendidikan anak. Untuk sekolah alam biaya pendidikan jauh berbeda dengan sekolah konvensional pada umumnya. Untuk biaya pendidikan sekolah alam bagi anak perorangnya, orang tua harus merogoh kocek antara 300 ribu hingga 500 ribu rupiah. Namun, ada juga sekolah alam yang gratis seperti sekolah alam Kandank Jurank Doank, syaratnya siswa atau anak tidak boleh membuang sampah sembarangan dan mau mengisi formulir yang diberikan oleh pengelola.

Respon Positif Orangtua

Sikap orangtua akan adanya sekolah alam umumnya menyambut positif dan baik. Rieke misalnya, ibu rumah tangga yang tinggal berdekatan dengan sekolah alam Kandank Jurank Doank ini mengantarkan putranya yang baru berusia 3 tahun untuk gabung bersama di sekolah alamnya Dik Doank. Hal senada pun disampaikan oleh Yoga, bahwa sejauh ini sikap orangtua siswa sangat atusias, bahkan saat pendaftaran ada siswa yang tidak diterima karena terbatasnya kuota, orangtua bahkan ada yang sampai menangis segala,” jelas pria alumnus STAN,Jakarta.

Efriyani Djuwita,M.Si menyarankan ada baiknya kalau sikap orangtua terhadap anak mereka yang sekolah di sekolah alam , perlu juga melatih membawa anak mengalami atau melakukan kegiatan langsung berhubungan dengan pengetahuan yang mereka pelajari. Jadi tidak hanya di sekolah saja, namun kegiatan ini perlu dilakukan pula dalam setting rumah. Sehingga anak semakin terbiasa untuk belajar aktif, dan termotivasi untuk tau banyak lagi. Dan yang pasti, anak menjadi lebih cinta akan alam dan lingkungan tempat mereka berada, serta tau bagaimana alam memberikan pelajaran berharga akan kehidupan pada mereka. ISMAYANTI

Pengertian Silabus

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Materi Pokok/Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber Belajar. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menjawab permasalahan-permasalahan sebagai berikut.
  1. Kompetensi apa saja yang harus dicapai peserta didik sesuai dengan yang dirumuskan oleh Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar).
  2. Materi Pokok/Pembelajaran apa saja yang perlu dibahas dan dipelajari peserta didik untuk mencapai Standar Isi.
  3. Kegiatan Pembelajaran apa yang seharusnya diskenariokan oleh guru sehingga peserta didik mampu berinteraksi dengan sumber-sumber belajar.
  4. Indikator apa saja yang harus dirumuskan untuk mengetahui ketercapaian KD dan SK.
  5. Bagaimanakah cara mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan Indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai.
  6. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai Standar Isi tertentu.
  7. Sumber Belajar apa yang dapat diberdayakan untuk mencapai Standar Isi tertentu.

Pengembangan Silabus

Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dan Dinas Pendidikan.

1. Sekolah dan komite sekolah
Pengembang silabus adalah sekolah bersama komite sekolah. Untuk menghasilkan silabus yang bermutu, sekolah bersama komite sekolah dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, dan lembaga terkait seperti Balitbang Depdiknas


2. Kelompok Sekolah
Apabila guru kelas atau guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru kelas atau guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan dipergunakan oleh sekolah tersebut


3. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
Beberapa sekolah atau sekolah-sekolah dalam sebuah yayasan dapat bergabung untuk menyusun silabus. Hal ini dimungkinkankarena sekolah dan komite sekolah karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan penyusunan silabus. Kelompok sekolah ini juga dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, dan lembaga terkait seperti Balitbang Depdiknas dalam menyusun silabus.


4 Dinas Pendidikan
Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.

Dalam pengembangan silabus ini sekolah, kelompok kerja guru, atau dinas pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, atau unit utama terkait yang ada di Departemen Pendidikan Nasional

Perinsip Pengembangan Silabus

  1. Ilmiah: Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertangungjawabkan secara keilmuan.
  2. Relevan: Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.
  3. Sistematis: Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
  4. Konsisten: Ada hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.
  5. Memadai: Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapain kompetensi dasar.
  6. Aktual dan Kontekstual: Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
  7. Fleksibel: Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidikan, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat. Sementara itu, materi ajar ditentukan berdasarkan dan atau memperhatikan kultur daerah masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar kehidupan peserta didik tidak tercerabut dari lingkungannya.
  8. Menyeluruh: Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

Contoh Rencana Pengajaran

Nama Sekolah : SMKN

Mata Pelajaran : Ketrampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI)

Materi Pokok : Aplikasi Software Presentasi Dengan menggunakan Microsoft PowerPoint

Kelas / Semester : 11 (Sebelas) / 2

Pertemuan ke : 2 waktu ( 2×45 menit)

Standart Kompetensi : 2. Mengoperasikan sistem operasi software.

Kompetensi Dasar :2.1 Mengoperasikan software presentasi Microsoft PowerPoint

Indikator :

a. Mendeskripsikan software Presentasi.

b. Mengidentifikasi Software presentasi menggunakan Microsoft PowerPoint.

c. Mengolah file presentasi (Membuka, membuat baru, menyimpan dengan nama lain.).

Setrategi Pembelajaran :

A. Kegiatan Awal

· Do’a

· Pembukaan

· Memberi sedikit pengetahuan tentang Perkembangan informasi yang terbaru

B. Kegiatan Inti

· Pengenalan menu-menu yang ada di software presentasi

· Membuat File Document Baru

· Mangolah Font yang ada pada content

· Membuat animation pada text dan gambar

· Fitur-fitur editing dan lay-out pada lembar kerja

· Menyimpulkan bersama langkah-langkah yang kita lakukan selama praktikum dan memberikan tips dan trik desain presentasi.

B. Kegiatan Akhir

· Penutup

· Do’a

Uraian Singkat Materi Pokok :

Materi pembelajaran :

a. Fitur-fitur editing : font, text, aligment, numbering bullet table.

b. Fitur-fitur lay-out judul dan isi dengan berbagai variasi, pemilihan desain warna dan gambar latar belakang.

c. Fitur-fitur isian berulang header, footer dan page number.

d. Lay-out dengan isian standart Master slide.

Metode pembelajaran : Ceramah dan Praktikum

Sumber Bahan / Alat :

a. Modul KKPI dikmenjur 2005

b. Buku panduan pengoprasian software pengolah kata.

c. Internet

d. Personal Computer

e. Software Aplikasi pengolah kata.

f. printer

Lembar Penilaian

1. Tes tertulis

2. Tes Praktik

3. Tugas-tugas

4. Observasi