PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI SALAH SATU
SARANA PENDIDIKAN PENUNJANG
KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)
Disusun sebagai Tugas akhir pelatihan Jardiknas 2008
di seluruh Indonesia
Oleh:
KUSWANTORO
E-Mail : kuswantoro.wawan@yahoo.co.id
PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO
DINAS PENDIDIKAN
SDN SUKABUMI I KOTA PROBOLINGGO
Jl. Dr. Moch. Saleh No. 36 Probolinggo (0335) 423068
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas Ridho dan karuniaNya, penulis diberi kesempatan dan kesehatan
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Kedua kalinya Shalawat serta salam penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad S.A.W yang telah memberi petunjuk bagi kita sehingga kita menuju jalan
yang benar Amien.
Dalam hal ini penulis dapat berterima kasih kepada pihak-pihak yang membantu
kelancaran penyusunan makalah ini kepada :
1. Ibu Dra. Niniek Sudarmi selaku Kepala SDN Sukabumi 1 Kota Probolinggo
yang telah memberikan segala bantuan dan dukungan hingga terselesainya
pembuatan makalah ini.
2. Bapak Suradi selaku Penanggung Jawab perpustakaan SDN Sukabumi 1 Kota
Probolinggo atas segala fasilitas dan bantuannya.
3. Bapak ketua penyelenggara Jardiknas 2007 Kota Probolinggo
4. Para tutor Jardiknas 2007 Kota Probolinggo
5. Rekan – rekan peserta Jardiknas 2007 Kota Probolinggo, terima kasih atas segala
bantuannya.
6. Serta tak lupa untuk Guru-guru SDN Sukabumi 1 yang telah mendukung dan
mensuport saya.
Demikian pembuatan makalah ini, semoga bermanfaat bagi banyak pihak, kritik
serta saran yang membangun selaku penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.
Probolinggo, 24 Januari 2008
Penulis
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Tujuan Penulisan ............................................................................. 2
1.3 Manfaat Penulisan ........................................................................... 2
BAB 2 PEMBAHASAN ................................................................................... 3
2.1 Arti Perpustakaan ............................................................................ 3
2.2 Fungsi Pepustakaan ......................................................................... 3
2.3 Fungsi Manajemen .......................................................................... 4
BAB 3 PENUTUP ............................................................................................ 5
3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 5
3.2 Saran ............................................................................................... 5
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 6
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koneksi buku dan
majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun
perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan
dioperasikan oleh sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah
kota/insyitusi dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu
membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.
Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan penunjang
KBM memegang peranan penting dalam mewujudkan tercapainya tujuan
pendidikan di sekolah. Pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik bila
para tenaga kependidikan maupun para peserta didik tidak didukung oleh sumber
belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar yang
bersangkutan. Salah satu sumber belajar yang amat penting, tetapi bukan satusatunya
adalah Perpustakaan.
Hakikat perpustakaan sekolah adalah pusat sumber belajar dan sumber
informasi bagi pemakainya. Perpustakaan dapat pula diartikan sebagai tempat
kumpulan buku-buku atau tempat buku dihimpun dan diorganisasikan sebagai
media belajar siswa. Wafford (1969:1) menerjemahkan perpustakaan sebagai salah
satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola, dan memberikan
layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku yang digunakan sebagai sumber
informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan.
Perpustakaan sekolah sangat diperlukan keberadaanya dengan
pertimbangan bahwa :
a. Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar di lingkungan sekolah
b. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu komponen system pengajar
2
c. Perpustakaan sekolah merupakan sumber untuk menunjang kualitas pendidikan
dan pengajaran
d. Perpustakaan sekolah sebagai laboraturium belajar yang memungkinkan peserta
didik dapat mempertajam dan memperluas kemampuan untuk membaca,
menulis, berpikir dan berkomunikasi.
Dalam praktiknya belum semua sekolah dapat menyelenggarakan
perpustakaan sekolah dengan baik. Masih banyak kendala yang dihadapi oleh
sekolah, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan para pengelola perpustakaan
tentang masalah manajemen perpustakaan. Buku-buku tentang perpustakaan sekolah
beredar sementara ini kebanyakan membahas hal-hal teknis tentang
penyelenggaraan perpustakaan dan bukan manajemen dari perpustakaan itu sendiri.
1.2. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang di atas adapun tujuan penulisan makalah ini
adalah :
1. Untuk mengetahui kendala-kendala di dalam pengelolaan perpustakaan
2. Untuk membantu pihak pengelola perpustakaan untuk mengatasi permasalahan
yang dihadapi.
1.3. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah :
1. Sebagai sarana untuk mengetahui teori-teori atau konsep – konsep tentang
manajemen atau pengelolaan perpustakaan.
2. Sebagai upaya perbaikan dalam pengelolaan perpustakaan
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Arti Perpustakaan
Perpustakaan menurut Wafford (1961:1) adalah salah satu organisasi
sumber belajar yang menyimpan, mengelola dan memberikan bahan pustaka baik
buku maupun non buku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum.
Sedangkan menurut Mbulu (1992:89) menyatakan bahwa perpustakaan
sekolah sangat diperlukan keberadaannya dengan pertimbangan bahwa :
a. Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar dilingkungan sekolah
b. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu komponen sistem pengajaran
c. Perpustakaan sekolah merupakan sumber untuk menunjang kualitas pendidikan
dan pengajaran
d. Perpustakaan sekolah sebagai laboratorium belajar yang memungkinkan peserta
didik dapat mempertajam daya pikirnya.
2.2. Fungsi Perpustakaan
Fungsi perpusstakaan sekolah pada dasarnya adalah sebagai berikut :
a. Sebagai pusat kegiatan belajar mengajar
Mengembangkan kemampuan membaca dan menggunakan sumber-sumber
informasi lain bagi siswa, bagi guru, perpustakaan merupakan tempat untuk
menambah pengetahuannya dalam mempersiapkan bahan mengajar.
b. Sebagai tempat membantu siswa dalam memperjelas pengetahuan tentang
pelajaran yang diterimanya di dalam kelas
c. Sebagai pusat dalam penelitian sederhana
Misalnya penelusuran kepustakaan yang kemudian dilanjutkan dengan
penelitian yang berkaitan dengan mata pelajaran yang dipelajari
d. Sebagai tempat untuk memupuk daya kritis anak
e. Sebagai pusat informasi
4
f. Sebagai tempat mengembangkan bakat, minat dan kegemaran anak
g. Sebagai pusat pengembangan apresiasi budaya
Perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang mendidik murid dan guru untuk
menghargai nilai – nilai budaya
h. Sebagai tempat rekreasi
Perpustakaan dapat dijadikan tempat untuk memulihkan kejenuhan bagi anak
dengan jalan menyediakan buku-buku fiksi disamping buku non-fiksi.
2.3. Fungsi Manajemen
Agar perpustakaan dapat dilaksanakan dengan baik dibutuhkan suatu
manajemen yang baik pula. Pada prinsipnya tugas seorang kepala perpustakaan
dapat dibagi dalam beberapa fungsi yang disebut POSDCORB yaitu akronim dari
planning, organizing, staffing, directing, Coordinating dan Budgeting.
Perencanaan (Planning), penetapan tujuan, penentuan strategi,
kebijaksanaan, prosedur dan dana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
Pengorganisasian (Organizing). Penentuan struktur formal dengan
mengelompokkan aktifitas-aktifitas kedalam bagian-bagian, koordinasi dan
pendelegasian wewenang kepada individu-individu untuk melaksanakan tugasnya.
Penyusunan personalia ( Staffing). Penempatan staf pada berbagai posisi
sesuai dengan kemampuannya. Fungsi ini mencakup kegiatan penilaian karyawan
untuk promosi, transfer atau bahkan demosi dan pemecatan serta latihan dan
pengembangan karyawan Pengarahan (Directing). Sesudah rencana dibuat,
organisasi dibentuk dan disusun personalianya, langkah selanjutnya menugaskan
staf untuk bergerak menuju tujuan yang telah ditentukan.
Koordinasi ( Coordinating ). Pengkoordinasian berbagai kegiatan pada
pekerjaanpekerjaan.
Pelaporan ( Reporting) Pimpinan harus selalu mengetahui apa yang sedang
dilakukan, karena itu laporan diperlukan.
Penganggaran ( Budgeting) Pembiayaan dalam bentuk rencana anggaran
dan pengawasan anggaran.
5
a. Kendala manajemen perpustakaan sekolah
Pada umumnya perpustakaan di Indonesia masih mengalami berbagai
hambatan, sehingga belum bisa berjalan sebagaimana mestinya. Hambatan
tersebut berasal dari dua aspek. Pertama adalah aspek struktural, dalam arti
keberadaan perpustakaan sekolah kurang memperoleh perhatian dari pihak
manajemen sekolah. Kedua adalah aspek teknis, artinya keberadaan
perpustakaan sekolah belum ditunjang aspek-aspek bersifat teknis yang sangat
dibutuhkan oleh perpustakaan sekolah seperti tenaga, dana serta sarana
prasarana.
b. Kebijakan pengembangan koleksi
Secara umum, pengembangan koleksi perlu merujuk pada prinsipprinsip
pengembangan koleksi, yaitu sebagai berikut :
· Relevansi, aktivitas pemilihan dan pengadaan terkait dengan program
pendidikan yang disesuaikan dengan kurikulum yang ada. Berorientasi
kepada pemakai. Dengan demikian kepentingan pengguna menjadi acuan
dalam pemilihan dan pengadaan bahan pustaka.
· Kelengkapan
Koleksi perpustakaan diusahakan tidak hanya terdiri dari buku teks yang
langsung dipakai untuk mata pelajaran yang diberikan tetapi juga
menyangkut bidang ilmu yang berkaitan erat dengan program yang ada
dalam kurikulum.
· Kemuktahiran
Selain masalah kelengkapan, kemuktahiran sumber informasi harus
diupayakan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemuktahiran
bahan pustaka dapat dilihat dari tahun terbit.
· Kerjasama
Unsur- unsur yang terkait dalam pembinaan koleksi harus ada kerjasama
yang baik dan harmonis sehingga pelaksanaan kegiatan pembinaan koleksi
berjalan efektif dan efisien.
6
c. Sistem layanan perpustakaan
Secara umum sistem layanan perpustakaan ada dua macam yaitu
layanan yang bersifat tertutup dan layanan perpustakaan yang bersifat terbuka.
Pemilihan sistem layanan terbuka atau sistem layanan tertutup tergantung dari
beberapa faktor :
· Pertimbagan tingkat keselamatan koleksi perpustakaan
· Pertimbangan jenis koleksi dan sifat rentan dari koleksi
· Perbandingan antara jumlah staf, jumlah pemakai dan jumlah koleksi
· Luas gedung perpustakaan
· Ratio antara jam layanan dengan jum;lah staf perpustakaan.
d. Manajemen Sumber Daya Pustakawan
Agar dapat memberikan layanan yang baik sesuai dengan fungsinya,
perpustakaan memerlukan tenaga yang memadai baik dari jumlah dan kualitas
yang harus dimilikinya. Jumlah dan kualitas dari tenaga pustakawan sangat
tergantung dari jenis perpustakaan serta cakupan tugas yang harus
dilaksanakannya.
Menurut Bafadal (1996) pembinaan terhadap kemampuan petugas dan
semangat kerja petugas perpustakaan sangat dibutuhkan karena tenaga
perpustakaan selalu dituntut mengerjakan tugas-tugasnya dengan sebaikbaiknya,
dan dengan moral kerja yang tinggi petugas perpustakaan akan
mengerjakan tugas-tuganya dengan penuh semangat dan semata-mata
mengabdikan dirinya untuk kepentingan pendidikan bangsa.
7
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil suatu kesimpulan :
Perpustakaan sekolah merupakan sarana yang penting dalam setiap program
pendidikan dan pengajaran. Kepala sekolah dan kepala perpustakaan memegang
peranan yang sangat penting atas keberhasilan suatu perpustakaan. Apabila kepala
sekolah menyadari pentingnya perpustakaan untuk mendukukng program
pendidikan sudah tentu perhatian kepada perkembangan perpustakaan
diprioritaskan, baik dari segi alokasi dana, tenaga maupun ruangan perpustakaan.
Pustakawan sebagai roda penggerak dituntut berdedikasi tinggi serta penuh
pengabdian dalam bertugas untuk meningkatkan peran serta perpustakaan. Dengan
kemajuan teknologi pustakawan harus meningkatkan kualitas serta kepekaannya
terhadap kemajuan – kemajuan yang ada hubungannya dengan perkembangan serta
peningkatan pelayanan. Anggaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
menentukan keberhasilan suatu perpustakaan.
3.2 Saran
Kita menyadari sepenuhnya bahwa banyak masalah – masalah yang
dihadapi perpustakaan sekolah saat ini,,untuk memecahkan masalah tersebut
diperlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak yaitu pemerintah, kepala
sekolah, kepala perpustakaan, guru, pustakawan,wali murid dan murid ssendiri.
8
DAFTAR PUSTAKA
Maryono, Agus. 2003. Manajemen Perpustakaan. Probolinggo : Dinas Pendidikan dan
kebudayaan, perpustakaan Umum Kota Probolinggo.
Darmono, 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta : Grasindo.
Bafadal, Ibrahim. 1996. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara.
Mbulu, Yoseph. 1992. Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah dalam Kegiatan Belajar
Mengajar. Majalah Pendidikan. XIX, 27.
Showing posts with label makalah. Show all posts
Showing posts with label makalah. Show all posts
Tuesday, June 24, 2008
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
Di susun oleh :
Dra. Ummul Murtafiah Hasan
MTs NUSANTARA
Jl. Sunan Giri no 52 telp. ( 0335 ) 429048
Sumber Taman Kota Probolinggo
I. Pendahuluan
A. Rasional
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar
menjadi manusia yang beriman dan betakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk
mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi
peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disusun dengan mengacu
pada Standar Isi dan (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang
telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjamin pencapaian tujuan
pendidikan nasional. Penyusunan KTSP berpedoman pada panduan yang
disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan Pendidikan (BSNP) dan
ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP
19/2005.
Penyusunan KTSP sangat diperlukan untuk mengakomodasi semua
potensi yang ada di daerah dan untuk meningkatkan kualitas satuan
pendidikan dalam bidang akademis maupun non akademis, memelihara
budaya daerah, mengikuti perkembangan iptek yang dilandasi iman dan
takwa.
B. Visi dan Misi
Visi :
Berprestasi, berbudaya, beriptek, dan berlandaskan iman dan takwa
Misi :
- Meningkatkan perolehan selisih NUN. (Gain score achievement)
- Mengoptimalkan proses pembelajaran dan Bimbingan
- Meningkatkan prestasi dalam KIR, jurnalistik, dan olimpiade.
- Melestarikan budaya daerah dan lingkungan hidup.
- Mengoptimalkan kemampuan baca tulis Al-Qur’an dan pelaksanaan
sholat berjamaah
- Meningkatkan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi.
Tujuan :
Pada akhir tahun pelajaran 2006/2007 sekolah dapat:
1. memperoleh selisih NUN (gain score achievement): 0,5 (dari 8,5
menjadi 9,0);
2. mengoptimalkan proses pembelajaran dengan pendekatan,
diantaranya, CTL, PAKEM, serta layanan bimbingan dan konseling;
3. meraih kejuaraan dalam bidang KIR tingkat Provinsi;
4. mendapat ISSN buletin sekolah dalam bidang jurnalistik;
5. memperoleh kejuaraan olimpade sains tingkat dunia;
6. melestarikan budaya daerah melalui MULOK bahasa daerah dengan
indikator; 85% siswa mampu berbahasa Jawa sesuai dengan konteks;
7. menjadikan 85% siswa memiliki kesadaran terhadap kelestarian
lingkungan hidup di sekitarnya;
8. membekali 85% siswa mampu mengakses berbagai informasi yang
positif melalui internet;
9. membekali 85% siswa mampu membaca dan menulis Al-Qur’an;
10. membiasakan 85% siswa melaksanakan Sholat berjamaah.
II. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM
A. Struktur Kurikulum
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang
harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap
satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai
peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur
kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar
kompetensi lulusan.
Struktur kurikulum terdiri dari tiga komponen, yakni komponen mata
pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. Komponen mata
pelajaran dikelompokkan sebagai berikut :
1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia
2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
4. Kelompok mata pelajaran estetika
5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan
Komponen muatan lokal dan pengemabnagan diri merupakan bagian
integral dari struktur kurikulum dan dikembangkan sendiri oleh sekolah.
Struktur kurikulum ini meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh
dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai
dengan Kelas IX. Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar
kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran dengan
ketentuan sebagai berikut.
a. Kurikulum ini memuat 10 mata pelajaran, muatan lokal, dan
pengembangan diri seperti tertera pada Tabel 3.
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah,
termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat
dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan
lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus
diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan
mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat
setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan
pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru,
atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk
kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan
melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah
diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir
peserta didik.
b. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS merupakan “IPA Terpadu” dan
“IPS Terpadu”.
c. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan
sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan
dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per
minggu secara keseluruhan.
d. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit.
e. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-
38 minggu.
Struktur kurikulum SMP disajikan pada tabel berikut
Kelas dan Alokasi Waktu
Komponen VII VIII IX
A. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama 2 2 2
2. Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3. Bahasa Indonesia 5 5 5
4. Bahasa Inggris 4 4 5
5. Matematika 5 5 5
6. Ilmu Pengetahuan Alam 4 4 5
7. Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4
8. Seni Budaya 2 2 2
9. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan
2 2 2
10. Keterampilan/Teknologi Informasi
dan Komunikasi
2 2 2
B. Muatan Lokal
1. Pendidikan Lingkungan Hidup
2. Bahasa Jawa
2
2
2
2
-
2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*)
Jumlah 36 36 36
2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran
B. Muatan Kurikulum
1. Mata Pelajaran
a. Pendidikan Agama
Meliputi :
Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, mengingat kondisi
social budaya masyarakat dilingkungan sekitar sekolah
Tujuan :
Memberikan wawasan terhadap keberagaman agama di Indonesia.
Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa sesuai keyakinan
agamanya masing-masing.
b. Kewarganegaraan dan Kepribadian
Tujuan :
Memberikan pemahaman terhadap siswa tentang kesadaran hidup
berbangsa dan bernegara dan pentingnya penanaman rasa persatuan
dan kesatuan.
c. Bahasa Indonesia
Tujuan :
Membina ketrampilan berbahasa secara lisan dan tertulis serta dapat
menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dan sarana pemahaman
terhadap IPTEK
d. Bahasa Inggris
Tujuan :
Membina ketrampilan berbahasa dan berkomunikasi secara lisan dan
tertulis untuk menghadapi perkembangan IPTEK dalam menyongsong
era globalisasi.
e. Matematika
Tujuan :
Memberikan pemahaman logika dan kemampuan dasar matematika
dalam rangka penguasaan IPTEK.
f. Ilmu Pengetahuan Alam
Meliputi : Fisika dan Biologi
Tujuan :
Memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada siswa untuk
menguasai dasar-dasar sains dalam rangka penguasaan IPTEK.
g. Ilmu Pengetahuan Sosial
Meliputi : Sejarah, Ekonomi dan Geografi
Tujuan :
Memberikan pengetahuan sosio cultural masyarakat yang majemuk,
mengembangkan kesadaran hidup bermasyarakat serta memiliki
ketrampilan hidup secara mandiri,
h. Seni Budaya
Meliputi : Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari dan Seni Teater.
Tujuan :
Mengembangkan apresiasi seni, daya kreasi dan kecintaan pada seni
budaya Nasional
i. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
Tujuan :
Menanamkan kebiasaan hidup sehat, meningkatkan kebugaran dan
ketrampilan dalam bidang olahraga, menanamkan rasa sportifitas,
tanggung jawab disiplin dan percaya diri pada siswa.
j. Ketrampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi
Meliputi :
Elektronika, Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Tujuan :
Memberikan ketrampilan dibidang Teknologi Informatika dan
ketrampilan Elektronika yang sesuai dengan bakat dan minat siswa
2. Muatan Lokal
Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Jawa timur, dan Surat
keputusan Walikota/Bupati tentang penetapan Mulok sebagai berikut:
a. Bahasa Daerah (Jawa) sebagai upaya mempertahankan nilai-nilai
budaya (jawa) masyarakat setempat dalam wujud komunikasi dan
apresiasi sastra.
b. Perndidikan Lingkungan Hidup (PLH) sebagai upaya menanamkan
rasa cinta loingkungan hidup dalam benuk kegiatan pembelajran
pola hidup bersih dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Tiap-tiap Mulok beralokasi dua jam pelajaran.
3. Kegiatan Pengembangan Diri
Berdasarkan kondisi Obyektif sekolah maka kegiatan pengembangan diri
dipilih dan ditetapkan adalah :
a. Kegiatan pelayanan Konseling
Melayani :
1) Masalah kesulitan belajar siswa
2) Pengembangan karir siswa
3) Pemilihan jen jang pendidikan yang lebih tinggi
4) Masalah dalam kehidupan social siswa
b. Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa
Bertujuan untuk
1) Melatih siswa dalam berorganisasi
2) Mempersiapkan siswa untuk menjadi pemimpin yang handal
3) Melatih siswa untuk bersikap demokratis
4) Melatih siswa belajar mengambil keputusan dengan tepat
c. Kepramukaan
1) Sebagai wahana siswa untuk berlatih berorganisasi
2) Melatih siswa untuk trampil dan mandiri
3) Melatih siswa untuk mempertahankan hidup
4) Memiliki jiwa social dan peduli kepada orang lain
5) Memiliki sikap kerjasama kelompok
6) Dapat menyelesaikan permasalahan dengan tepat
d. Kegiatan PMR
1) Praktik PPPK
2) Memiliki jiwa social dan peduli kepada orang lain
3) Memiliki sikap kerjasama kelompok
4) Melatih siswa untuk cepat dan tepat dalam memberikan
pertolongan pertama
5) Membentuk piket UKS
e. Kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja
1) Melatih siswa berfikir kritis
2) Melatih siswa trampil dalam menulis karya ilmiah
3) Mampu berkompetisi dalam berbagai lomba IPTEK
4) Mampu berkompetisi dalam lomba bidang IMTAQ
f. Kegiatan Olahraga Seni dan Budaya
1) Pengembangan Olahraga Prestasi
2) Pengembangan Seni Rupa, Musik, Tari dan Teater
3) Pengembangan seni baca al Quran dan Kaligrafi
4) Pengembangan seni Bela Diri
Mekanisme Pelaksanaan
a) Kegiatan Pengembangan Diri diberikan di luar jam pembelajaran
(ekstrakurikuler) dibina oleh guru-guru yang memiliki kualifikasi
yang baik berdasarkan surat keputusan Kepala Sekolah.
b) Jadwal Kegiatan
NO
NAMA KEGIATAN
HARI
WAKTU
1 Kegiatan pelayanan
Konseling
SENIN -
SABTU
2 Kegiaytan LDKS SABTU
3 Kegiatan kepramukaan SABTU
4 Kegiatan palang merah
remaja
SABTU
5 Kegiatan kelompok ilmiah
remaja
SABTU
6 Kegiatan seni budaya SABTU
Menyesuaikan
Sekolah masingmasing
06.30 – 13.00
c) Alokasi Waktu
Untuk kelas 7 dan kelas 8 diberikan 2 jam pelajaran (ekuivalen 2 x 40
menit)
Untuk kelas 9 diberi kegiatan Bimbingan Belajar secara intensif untuk
persiapan menghadapi Unas
d) Penilaian :
Kegiatan pengembangan diri dinilai dan dilaporkan secara berkala
kepada sekolah dan orang tua dalm bentuk kualitatif :
Katagori Keterangan
A Sangat Baik
B Baik
C Cukup
D Kurang
*) 2 jam pelajaran untuk pengembangan diri dilaksanakan diluar jam tatap
muka (ekstrakurikuler pada hari Sabtu)
4. Pengaturan Beban Belajar
Kelas Satu jam pembelajaran
tatap muka/menit
Jumlah jam
pembelajaran
perminggu
Minggu efektif
Pertahun
ajaran
Waktu
pembelajaran
/jam per
tahun
VII
40
36
34 - 38
1224 - 1368
VIII
40
36
34 – 38
1224 – 1368
IX
40 36 34 - 36 1224 – 1296
5. Ketuntasan Belajar
Ketuntasan Belajar didasarkan pada beberapa pertimbangan, diantaranya
input peserta didik, tingkat esensial dari masing-masing KD/Mata Pelajaran,
kemampuan daya dukung dan kompleksitas tiap-tiap mata pelajaran.
Berdasarkan pertimbangan tersebut ditentukan ketuntasan belajar 75 %.
Peserta didik yang belum dapat mencapai ketuntasan belajar 75% harus
mengikuti program perbaikan (remedial) sampai mencapai ketuntasan belajar
yang dipersyaratkan. Yang telah mencapai ketuntasan belajar 80% sampai
90% dapat mengikuti program pengayaan (Enrichment), sedangkan yang
mencapai ketuntasan belajar lebih dari 90% mengikuti program percepatan
(accelerated).
6. Kriteria Kenaikan Kelas
Peserta didik dinyatakan naik kelas apabila memenuhi syarat sebagai berikut
:
a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran pada dua semester di kelas
yang diikuti .
b. Tidak terdapat nilai dibawah SKBM maksimal 3 mata pelajaran pada
semester yang diikuti.
c. Memiliki nilai minimal Baik untuk aspek kepribadian, kelakuan dan
kerajinan pada semester yang ikuti.
Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) 75 untuk semua kelompok mata
pelajaran
7. Kriteria Kelulusan
Berdasarkan PP 19/ 2005 pasal 72 ayat 1 Peserta didik dinyatakan lulus
apabila :
a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran
b. Memperoleh nilai minimal 75 pada penilaian akhir untuk seluruh kelompok
mata pelajaran :
1) Agama dan Akhlak mulia
2) Kewarganegaraan dan Kepribadian
3) Estetika
4) Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
c. Lulus Ujian Sekolah untuk kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi
d. Lulus Ujian Nasional
III. KALENDER PENDIDIKAN
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran
peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun
pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari
libur.
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran
pada awal tahun pelajaran pada SMP ”X” Jawa Timur
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk
setiap tahun pelajaran pada SMP ”X” Jawa Timur
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap
minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran
termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan
pengembangan diri
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan
pembelajaran pada SMP ”X” Jawa Timur. Waktu libur dapat berbentuk jeda
tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur
keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari
libur khusus.
Alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur dan kegiatan lainnya pada
SMP ”X” Jawa Timur
Kalender Pendidikan SMP ”X” Jawa Timur Tahun Pelajaran 2006/2007
Semester I
NO BULAN JME HES HEF KTS LU LHB LS LPP LHR JML
1 Juli 2006 2 12 2 14
2 Agustus 2006 4 26 4 1 31
3 September
2006
4 25 4 1 30
4 Oktober 2006 0 2 17 3 5 3 30
5 November
2006
3 16 4 10 30
6 Desember
2006
4 24 4 28
7 Januari 2006 3 16 5 2 6 29
JML 20 121 17 3 28 4 6 3 10 194
Semester II
NO BULAN JME HES HEF KTS LU LHB LS LPP LHR JML
1 Januari 2006 0 1 1
2 Februari 2006 4 23 4 1 28
3 Maret 2006 4 26 4 1 31
4 April 2006 3 23 2 4 1 30
5 Mei 2006 4 25 4 1 30
6 Juni 2006 3 23 4 1 28
7 Juli 2006 0 1 2 12 15
JML 18 122 3 23 6 12 163
Keterangan :
JPE : Jumlah Minggu Efektif
HES : Hari Efektif Sekolah
HEF : Hari Efektif Fakultatif
KTS : Kegiatan Tengah Semester
LU : Libur Umum
LHB : Libur Hari Besar
LS : Libur Semester
LPP : Libur Permulaan Puasa
LHR : Libur Hari Raya
Di susun oleh :
Dra. Ummul Murtafiah Hasan
MTs NUSANTARA
Jl. Sunan Giri no 52 telp. ( 0335 ) 429048
Sumber Taman Kota Probolinggo
I. Pendahuluan
A. Rasional
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar
menjadi manusia yang beriman dan betakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk
mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi
peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disusun dengan mengacu
pada Standar Isi dan (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang
telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjamin pencapaian tujuan
pendidikan nasional. Penyusunan KTSP berpedoman pada panduan yang
disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan Pendidikan (BSNP) dan
ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP
19/2005.
Penyusunan KTSP sangat diperlukan untuk mengakomodasi semua
potensi yang ada di daerah dan untuk meningkatkan kualitas satuan
pendidikan dalam bidang akademis maupun non akademis, memelihara
budaya daerah, mengikuti perkembangan iptek yang dilandasi iman dan
takwa.
B. Visi dan Misi
Visi :
Berprestasi, berbudaya, beriptek, dan berlandaskan iman dan takwa
Misi :
- Meningkatkan perolehan selisih NUN. (Gain score achievement)
- Mengoptimalkan proses pembelajaran dan Bimbingan
- Meningkatkan prestasi dalam KIR, jurnalistik, dan olimpiade.
- Melestarikan budaya daerah dan lingkungan hidup.
- Mengoptimalkan kemampuan baca tulis Al-Qur’an dan pelaksanaan
sholat berjamaah
- Meningkatkan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi.
Tujuan :
Pada akhir tahun pelajaran 2006/2007 sekolah dapat:
1. memperoleh selisih NUN (gain score achievement): 0,5 (dari 8,5
menjadi 9,0);
2. mengoptimalkan proses pembelajaran dengan pendekatan,
diantaranya, CTL, PAKEM, serta layanan bimbingan dan konseling;
3. meraih kejuaraan dalam bidang KIR tingkat Provinsi;
4. mendapat ISSN buletin sekolah dalam bidang jurnalistik;
5. memperoleh kejuaraan olimpade sains tingkat dunia;
6. melestarikan budaya daerah melalui MULOK bahasa daerah dengan
indikator; 85% siswa mampu berbahasa Jawa sesuai dengan konteks;
7. menjadikan 85% siswa memiliki kesadaran terhadap kelestarian
lingkungan hidup di sekitarnya;
8. membekali 85% siswa mampu mengakses berbagai informasi yang
positif melalui internet;
9. membekali 85% siswa mampu membaca dan menulis Al-Qur’an;
10. membiasakan 85% siswa melaksanakan Sholat berjamaah.
II. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM
A. Struktur Kurikulum
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang
harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap
satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai
peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur
kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar
kompetensi lulusan.
Struktur kurikulum terdiri dari tiga komponen, yakni komponen mata
pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. Komponen mata
pelajaran dikelompokkan sebagai berikut :
1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia
2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
4. Kelompok mata pelajaran estetika
5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan
Komponen muatan lokal dan pengemabnagan diri merupakan bagian
integral dari struktur kurikulum dan dikembangkan sendiri oleh sekolah.
Struktur kurikulum ini meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh
dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai
dengan Kelas IX. Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar
kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran dengan
ketentuan sebagai berikut.
a. Kurikulum ini memuat 10 mata pelajaran, muatan lokal, dan
pengembangan diri seperti tertera pada Tabel 3.
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah,
termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat
dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan
lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus
diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan
mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat
setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan
pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru,
atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk
kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan
melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah
diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir
peserta didik.
b. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS merupakan “IPA Terpadu” dan
“IPS Terpadu”.
c. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan
sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan
dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per
minggu secara keseluruhan.
d. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit.
e. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-
38 minggu.
Struktur kurikulum SMP disajikan pada tabel berikut
Kelas dan Alokasi Waktu
Komponen VII VIII IX
A. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama 2 2 2
2. Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3. Bahasa Indonesia 5 5 5
4. Bahasa Inggris 4 4 5
5. Matematika 5 5 5
6. Ilmu Pengetahuan Alam 4 4 5
7. Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4
8. Seni Budaya 2 2 2
9. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan
2 2 2
10. Keterampilan/Teknologi Informasi
dan Komunikasi
2 2 2
B. Muatan Lokal
1. Pendidikan Lingkungan Hidup
2. Bahasa Jawa
2
2
2
2
-
2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*)
Jumlah 36 36 36
2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran
B. Muatan Kurikulum
1. Mata Pelajaran
a. Pendidikan Agama
Meliputi :
Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, mengingat kondisi
social budaya masyarakat dilingkungan sekitar sekolah
Tujuan :
Memberikan wawasan terhadap keberagaman agama di Indonesia.
Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa sesuai keyakinan
agamanya masing-masing.
b. Kewarganegaraan dan Kepribadian
Tujuan :
Memberikan pemahaman terhadap siswa tentang kesadaran hidup
berbangsa dan bernegara dan pentingnya penanaman rasa persatuan
dan kesatuan.
c. Bahasa Indonesia
Tujuan :
Membina ketrampilan berbahasa secara lisan dan tertulis serta dapat
menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dan sarana pemahaman
terhadap IPTEK
d. Bahasa Inggris
Tujuan :
Membina ketrampilan berbahasa dan berkomunikasi secara lisan dan
tertulis untuk menghadapi perkembangan IPTEK dalam menyongsong
era globalisasi.
e. Matematika
Tujuan :
Memberikan pemahaman logika dan kemampuan dasar matematika
dalam rangka penguasaan IPTEK.
f. Ilmu Pengetahuan Alam
Meliputi : Fisika dan Biologi
Tujuan :
Memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada siswa untuk
menguasai dasar-dasar sains dalam rangka penguasaan IPTEK.
g. Ilmu Pengetahuan Sosial
Meliputi : Sejarah, Ekonomi dan Geografi
Tujuan :
Memberikan pengetahuan sosio cultural masyarakat yang majemuk,
mengembangkan kesadaran hidup bermasyarakat serta memiliki
ketrampilan hidup secara mandiri,
h. Seni Budaya
Meliputi : Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari dan Seni Teater.
Tujuan :
Mengembangkan apresiasi seni, daya kreasi dan kecintaan pada seni
budaya Nasional
i. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
Tujuan :
Menanamkan kebiasaan hidup sehat, meningkatkan kebugaran dan
ketrampilan dalam bidang olahraga, menanamkan rasa sportifitas,
tanggung jawab disiplin dan percaya diri pada siswa.
j. Ketrampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi
Meliputi :
Elektronika, Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Tujuan :
Memberikan ketrampilan dibidang Teknologi Informatika dan
ketrampilan Elektronika yang sesuai dengan bakat dan minat siswa
2. Muatan Lokal
Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Jawa timur, dan Surat
keputusan Walikota/Bupati tentang penetapan Mulok sebagai berikut:
a. Bahasa Daerah (Jawa) sebagai upaya mempertahankan nilai-nilai
budaya (jawa) masyarakat setempat dalam wujud komunikasi dan
apresiasi sastra.
b. Perndidikan Lingkungan Hidup (PLH) sebagai upaya menanamkan
rasa cinta loingkungan hidup dalam benuk kegiatan pembelajran
pola hidup bersih dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Tiap-tiap Mulok beralokasi dua jam pelajaran.
3. Kegiatan Pengembangan Diri
Berdasarkan kondisi Obyektif sekolah maka kegiatan pengembangan diri
dipilih dan ditetapkan adalah :
a. Kegiatan pelayanan Konseling
Melayani :
1) Masalah kesulitan belajar siswa
2) Pengembangan karir siswa
3) Pemilihan jen jang pendidikan yang lebih tinggi
4) Masalah dalam kehidupan social siswa
b. Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa
Bertujuan untuk
1) Melatih siswa dalam berorganisasi
2) Mempersiapkan siswa untuk menjadi pemimpin yang handal
3) Melatih siswa untuk bersikap demokratis
4) Melatih siswa belajar mengambil keputusan dengan tepat
c. Kepramukaan
1) Sebagai wahana siswa untuk berlatih berorganisasi
2) Melatih siswa untuk trampil dan mandiri
3) Melatih siswa untuk mempertahankan hidup
4) Memiliki jiwa social dan peduli kepada orang lain
5) Memiliki sikap kerjasama kelompok
6) Dapat menyelesaikan permasalahan dengan tepat
d. Kegiatan PMR
1) Praktik PPPK
2) Memiliki jiwa social dan peduli kepada orang lain
3) Memiliki sikap kerjasama kelompok
4) Melatih siswa untuk cepat dan tepat dalam memberikan
pertolongan pertama
5) Membentuk piket UKS
e. Kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja
1) Melatih siswa berfikir kritis
2) Melatih siswa trampil dalam menulis karya ilmiah
3) Mampu berkompetisi dalam berbagai lomba IPTEK
4) Mampu berkompetisi dalam lomba bidang IMTAQ
f. Kegiatan Olahraga Seni dan Budaya
1) Pengembangan Olahraga Prestasi
2) Pengembangan Seni Rupa, Musik, Tari dan Teater
3) Pengembangan seni baca al Quran dan Kaligrafi
4) Pengembangan seni Bela Diri
Mekanisme Pelaksanaan
a) Kegiatan Pengembangan Diri diberikan di luar jam pembelajaran
(ekstrakurikuler) dibina oleh guru-guru yang memiliki kualifikasi
yang baik berdasarkan surat keputusan Kepala Sekolah.
b) Jadwal Kegiatan
NO
NAMA KEGIATAN
HARI
WAKTU
1 Kegiatan pelayanan
Konseling
SENIN -
SABTU
2 Kegiaytan LDKS SABTU
3 Kegiatan kepramukaan SABTU
4 Kegiatan palang merah
remaja
SABTU
5 Kegiatan kelompok ilmiah
remaja
SABTU
6 Kegiatan seni budaya SABTU
Menyesuaikan
Sekolah masingmasing
06.30 – 13.00
c) Alokasi Waktu
Untuk kelas 7 dan kelas 8 diberikan 2 jam pelajaran (ekuivalen 2 x 40
menit)
Untuk kelas 9 diberi kegiatan Bimbingan Belajar secara intensif untuk
persiapan menghadapi Unas
d) Penilaian :
Kegiatan pengembangan diri dinilai dan dilaporkan secara berkala
kepada sekolah dan orang tua dalm bentuk kualitatif :
Katagori Keterangan
A Sangat Baik
B Baik
C Cukup
D Kurang
*) 2 jam pelajaran untuk pengembangan diri dilaksanakan diluar jam tatap
muka (ekstrakurikuler pada hari Sabtu)
4. Pengaturan Beban Belajar
Kelas Satu jam pembelajaran
tatap muka/menit
Jumlah jam
pembelajaran
perminggu
Minggu efektif
Pertahun
ajaran
Waktu
pembelajaran
/jam per
tahun
VII
40
36
34 - 38
1224 - 1368
VIII
40
36
34 – 38
1224 – 1368
IX
40 36 34 - 36 1224 – 1296
5. Ketuntasan Belajar
Ketuntasan Belajar didasarkan pada beberapa pertimbangan, diantaranya
input peserta didik, tingkat esensial dari masing-masing KD/Mata Pelajaran,
kemampuan daya dukung dan kompleksitas tiap-tiap mata pelajaran.
Berdasarkan pertimbangan tersebut ditentukan ketuntasan belajar 75 %.
Peserta didik yang belum dapat mencapai ketuntasan belajar 75% harus
mengikuti program perbaikan (remedial) sampai mencapai ketuntasan belajar
yang dipersyaratkan. Yang telah mencapai ketuntasan belajar 80% sampai
90% dapat mengikuti program pengayaan (Enrichment), sedangkan yang
mencapai ketuntasan belajar lebih dari 90% mengikuti program percepatan
(accelerated).
6. Kriteria Kenaikan Kelas
Peserta didik dinyatakan naik kelas apabila memenuhi syarat sebagai berikut
:
a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran pada dua semester di kelas
yang diikuti .
b. Tidak terdapat nilai dibawah SKBM maksimal 3 mata pelajaran pada
semester yang diikuti.
c. Memiliki nilai minimal Baik untuk aspek kepribadian, kelakuan dan
kerajinan pada semester yang ikuti.
Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) 75 untuk semua kelompok mata
pelajaran
7. Kriteria Kelulusan
Berdasarkan PP 19/ 2005 pasal 72 ayat 1 Peserta didik dinyatakan lulus
apabila :
a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran
b. Memperoleh nilai minimal 75 pada penilaian akhir untuk seluruh kelompok
mata pelajaran :
1) Agama dan Akhlak mulia
2) Kewarganegaraan dan Kepribadian
3) Estetika
4) Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
c. Lulus Ujian Sekolah untuk kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi
d. Lulus Ujian Nasional
III. KALENDER PENDIDIKAN
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran
peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun
pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari
libur.
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran
pada awal tahun pelajaran pada SMP ”X” Jawa Timur
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk
setiap tahun pelajaran pada SMP ”X” Jawa Timur
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap
minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran
termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan
pengembangan diri
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan
pembelajaran pada SMP ”X” Jawa Timur. Waktu libur dapat berbentuk jeda
tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur
keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari
libur khusus.
Alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur dan kegiatan lainnya pada
SMP ”X” Jawa Timur
Kalender Pendidikan SMP ”X” Jawa Timur Tahun Pelajaran 2006/2007
Semester I
NO BULAN JME HES HEF KTS LU LHB LS LPP LHR JML
1 Juli 2006 2 12 2 14
2 Agustus 2006 4 26 4 1 31
3 September
2006
4 25 4 1 30
4 Oktober 2006 0 2 17 3 5 3 30
5 November
2006
3 16 4 10 30
6 Desember
2006
4 24 4 28
7 Januari 2006 3 16 5 2 6 29
JML 20 121 17 3 28 4 6 3 10 194
Semester II
NO BULAN JME HES HEF KTS LU LHB LS LPP LHR JML
1 Januari 2006 0 1 1
2 Februari 2006 4 23 4 1 28
3 Maret 2006 4 26 4 1 31
4 April 2006 3 23 2 4 1 30
5 Mei 2006 4 25 4 1 30
6 Juni 2006 3 23 4 1 28
7 Juli 2006 0 1 2 12 15
JML 18 122 3 23 6 12 163
Keterangan :
JPE : Jumlah Minggu Efektif
HES : Hari Efektif Sekolah
HEF : Hari Efektif Fakultatif
KTS : Kegiatan Tengah Semester
LU : Libur Umum
LHB : Libur Hari Besar
LS : Libur Semester
LPP : Libur Permulaan Puasa
LHR : Libur Hari Raya
KERUKUNAN WARGA NEGARA
i
KERUKUNAN WARGA NEGARA
Disusun Oleh :
NUR RAHMAT, S.Ag
NIP. 131 550 122
SDN SUKABUMI I
KEC. MAYANGAN KOTA PROBOLINGGO
TAHUN 2007
ii
Kata-kata Mutiara ;
Tuhan memiliki bejana di
bumi. Itulah hati dan
bejana yang paling
disukai_Nya adalah bejana
yang bersih.
Kebanyakan orang marah
bila ada yang salah. Orang
bijak tetap tenang dan
mengatasi keadaan dengan
tenang.
iii
KATA PENGANTAR
Segala syukur kita limpahkan kepada Allah SWT. dan Nabi Muhammad
SAW. karena atas limpahan rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktu dan benar.
Tak lupa kami juga ucapkan terima kasih kepada teman sekelompok karena
atas kerja kami masalah ini selesai atas dukungan, kesempatan, dan bantuan dari
mereka semua kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Tak lupa juga
saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman karena atas bantuan dan kesempatan
dari mereka semua bahan yang kami perlukan untuk menyusun makalah ini, kami
dapatkan.
Dan semoga makalah ini kelak nantinya dapat berguna bagi generasi
penerus. Harapan kami agar makalah ini tetap dijaga kelayakannya agar bermanfaat
bagi pihak yang membutuhkan ataupun pembaca. Semoga pembaca, teman-teman,
dan dosen kewarganegaraan berkenan akan isi makalah kami ini.
Penyusun,
Nur Rahmat, S.Ag.
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
KATA MUTIARA .......................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kewarganegaraan ....................................................................... 3
2.2 Kerukunan Warganegara ............................................................ 4
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................ 11
Daftar Pustaka ................................................................................................. 12
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebinekaan bangsa Indonesia mencakup agama, bahasa, suku bangsa,
maupun adat dan budayanya adalah ciri khas bagi bangsa Indonesia yang
menjadi sumber kebudayaannya. Kebhinekaan ini dapat tergambar pula dalam
kehidupan bermasyarakat seperti yang tertulis dalam kitab negara kertagama oleh
Empu Prapanca, tentang penyusunan pemerintahan Majapahit yang
mencerminkan unsur-unsur musyawarah. Dalam kehidupan beragama tertulis
dalam kitab Sutasoma oleh Empu Tantular dengan Bhineka Tunggal Ika.
Dimana kita sebagai warganegara selalu menginginkan terciptanya
kehidupan yang tertib, aman, tentram, rukun, dan damai agar tercipta
kebhinekaan tadi. Oleh karena itu setiap anggota masyarakat harus mempunyai
kesadaran akan pentingnya kerukunan hidup. Kerukunan sangatlah penting
ditanamkan dan dilaksanakan mengingat bangsa Indonesia terdiri atas beragam
suku bangsa, agama, budaya, dan latar belakang yang berbeda-beda kerukunan
juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam masyarakat yang berbangsa
dan majemuk. Untuk itulah makalah ini kami susun, agar pembaca, teman-teman
dan dosen kewarganegaraan tau pentingnya kerukunan dalam warga negara kita.
2
1.2 Rumusan Masalah
Setelah melihat dan memahami pentingnya makalah ini maka ada
beberapa maka ada beberapa rumusan masalah yang harus dijawab di
pembahasan nantinya agar makalah ini sempurna. Rumusan masalah itu adalah
sebagai berikut :
a. Apa kewarganegaraan dan warganegara itu ?
b. Apa pengertian kerukunan ?
c. Apa landasan dan sumber formal kerukunan ?
d. Apa tugas dan tanggung jawab warganegara dalam membina kerukunan ?
e. Apakah insan agamis penting dalam membina kerukunan warganegara ?
f. Apa bahaya penyimpangan terhadap kehidupan ?
g. Apa tantangan dan hambatan dalam membina kerukunan ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Agar kita mengetahui warga negara dan kewarganegaraan itu apa.
b. Agar kita tahu pengertian kerukunan.
c. Agar kita tahu dan paham landasan dan sumber formal kerukunan.
d. Agar kita tahu tugas dan tanggung jawab kita sebagai warga negara dalam
membina kerukunan.
e. Agar kita tahu bahasa penyimpangannya dalam kehidupan.
f. Agar kita tahu penting atau tidak pentingnya peran insan agamis dalam
membina kerukunan.
g. Agar kita tahu tantangan dan hambatan dalam membina kerukunan.
3
BAB II
P E M B A H A S A N
2.1 Kewarganegaraan
Adalah anggota dalam sebuah komunitas politik (negara), dan dengannya
membawa hak untuk berpartisipasi dalam politik. Seseorang dengan keanggotaan
tersebut disebut warga negara. Istilah ini secara umum mirip dengan
kebangsaan, walaupun dimungkinkan untuk memiliki kebangsaan tanpa menjadi
seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan subyek suatu negara
dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak berpartisipasi dalam politik).
Juga dimungkinkan untuk memiliki hak politik tanpa menjadi bangsa dari suatu
negara.
Kewarganegaraan juga dimaksudkan agar kita memiliki wawasan
kesadaran bernegara untuk bela negara dan memiliki pola pikir, pola sikap dan
perilaku sebagai pola tindak yang cinta tanah air berdasarkan Pancasila. Semua
itu diperlukan demi tetap utuh dan tegaknya negara kesatuan republik Indonesia.
Tujuan utama kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan
dan kesadaran bernegara, sikap serta perilaku yang cinta tanah air dan
bersendikan kebudayaan bangsa, wawasan nusantara, serta ketahanan nasional
dalam diri para mahasiswa calon sarjana atau ilmuwan warga negara Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang sedang mengkaji dan akan menguasai IPTEK
dan seni, tujuan tersebut terdapat dalam pendidikan kewarganegaraan.
4
2.2 Kerukunan Warga Negara
A. Pengertian Rukun
Kerukunan berasal dari kata rukun berarti baik dan damai, tidak
bertengkar. Kerukunan bermakna rasa damai dan baik serta tidak ada
pertengkaran. Kerukunan merupakan suatu keamanan untuk hidup bersama,
berdampingan serta damain dan tertib. Dengan demikian dalam masyarakat
tercipta suasana kedamaian, ketertiban, dan ketentraman tanpa ada pertikan
dan pertengkaran.
Rukun dalam bahasa Arab berarti asas atau hukum dasar. Jadi rukun
dapat diartikan sebagai hidup yang konsisten dalam menjalankan ajaran
agamanya (norma-norma yang berlaku). Dengan demikian kerukunan lahir
secara sadar dikehendaki oleh setiap orang tanpa ada paksaan atau motifmotif
tertentu.
B. Landasan dan Sumber Formal Kerukunan
1. Landasan Kerukunan
a. Landasan Ideal Pancasila
Pancasila sebagai dasar negara merupakan sumber dari segala sumber
tertib hukum bagi perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Landasan kerukunan bersumber pada nilai norma-norma Ketuhanan
Yang Maha Esa, yang menjiwai sila-sila lainnya.
5
b. Landasan Konstitusional
1) Pasal 29 ayat 1 UUD 1945 “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang
Maha Esa”
2) Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 “Negara menjamin kemerdekaan tiaptiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan
untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu”
c. Landasan Operasional GBHN
Yaitu Tap MPR RI No. IV/MPR/1999, tentang GBHN 1999-2004 bab
IV arah kebijakan sub.d.agama yaitu peningkatan pengamalan ajaran
agama dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan kualitas
keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam
kehidupan mantapnya persaudaraan umat beragama yang berakhlak
mulia, toleren, rukun dan damai.
2. Sumber Formal Kerukunan
a. Menurut ajaran Agama Islam
Terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al Kafirun ayat 1-6 dan dalam Surat
Ali Imraan ayat 103
b. Menurut ajaran Agama Hindu
Terdapat dalam Ath.XII.1.45 dan Yayur Weda 26.7
c. Menurut ajaran Agama Budha
Terdapat dalam Khudaka Nikaya, Caritiyotaka 33/395 dan
Dhammapada 194.
6
d. Menurut ajaran Agama Kristiani (Protestan dan Khatolik)
Terdapat dalam Roma 14.19 dan 1 Korintus 1:10
e. Menurut Kebudayaan
Kebudayaan bisa dikatakan sebagai hasil budidaya kekuatan akal
manusia yang dilakukan secara sadar, baik berupa cipta, rasa, karsa.
Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, kebudayaan merupakan
keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur
oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang
semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Kebudayaan dibentuk baik materiil maupun spiritual. Nilai
kebudayaan terkait erat dengan budaya dimana nilai keagamaan
memberi warna budaya bangsa.
C. Tugas dan Tanggung Jawab Warga Negara dalam membina Kerukunan
1. Sebagai Umat Beragama
Ada Tri kerukunan, yaitu :
a. Kerukunan antar umat beragama
b. Kerukunan Intern umat seagama
c. Kerukunan antar sesama umat beragama dengan pemerintah
2. Sebagai Anggota Masyarakat dan Negara
a. Menghayati dan mengamalkan Pancasila
b. Menjunjung tinggi konstitusi negara
7
c. Membina ketertiban dan ketahanan nasional
d. Patuh dan tertib dalam kehidupan umum
e. Mengutamakan musyawarah dan mufakat
f. Rela berkorban dan berjiwa sosial
D. Pentingnya insan agamis dalam membina kerukunan
Insan agamis adalah insan (manusia) yang hidup dan kehidupannya
berdasarkan pada norma-norma atau ajaran agama. Ciri-cirinya yaitu peri
kehidupannya selalu bernafaskan agama, baik dalam hubungannya dengan
Tuhan Yang Maha Esa maupun dengan manusia. Dengan demikian segala
perbuatannya semata-mata karena Allah SWT., sehingga yang diperbuatnya
dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan YME.
Prinsip utama insan agamis dalam berbagai aspek dan lingkungan
kehidupan adalah bahwa umat beragama yang baik selalu taat kepada
Tuhannya, Rasulnya, dan taat kepada perintah, sepanjang pemerintah tidak
menjerumuskan rakyat kedalam kemaksiatan dan kezoliman.
E. Bahaya dan kerugian penyimpangan terhadap kehidupan
1. Kehidupan Keagamaan
Beberapa bentuk penyimpangan terhadap kehidupan keagamaan yang
harus dihindari, antara lain sebagai berikut :
8
a. Sinkretisme (paham yang hendak mencampur adukkan segala ajaran
agama menjadi satu dan menyatakan semua ajaran agama adalah
sama).
b. Indeferentisme (paham yang menganggap bahwa semua agama sama,
semua baik dan semua menuju Tuhan).
c. Dangkalnya pengertian dan kesadaran beragama.
d. Fanatisme sempit
e. Ekstramisme, yaitu paham yang berusaha menggantikan dan
menggulingkan pemerintahan yang sah, melalui cara yang
inkonstritusional seperti ekstrem kanan (berhaluan agama) ektrem kiri
(berhaluan ideologi).
f. Pelecehan atau menjelek-jelekkan agama dan kepercayaan orang lain.
2. Kehidupan Sosial
Beberapa bentuk penyimpangan terhadap kehidupan sosial, antara lain :
a. Perilaku egoisme
b. Main hakim sendiri
c. Senang menggunakan kekerasan
d. Merasa lebih dan paling hebat
3. Kehidupan Kenegaraan
4. Beberapa bentuk penyimpangan terhadap kehidupan kenegaraan, antara
lain :
a. Sifat Individualisme
9
b. Fanatisme partai politik
c. Pemberontakan dan ekstremisme, baik yang bersifat kedaerahan,
kesukuan, maupun bersifat keagamaan ideologi politik.
F. Tantangan dan Hambatan dalam membina kerukunan
Beberapa tantangan dan hambatan dalam membina kerukunan perlu
diwaspadai dan ditanggulangi sedini mungkin. Hal ini dimaksudkan agar
tidak berkembang menjadi masalah yang mengoyakkan persatuan dan
kesatuan. Tantangan dan hambatan tersebut antara lain :
1. Keterbatasan komunikasi antara pemerintah dengan rakyat di daerah
pedalaman atau terpencil.
2. Keanekaragaman kepentingan dan budaya serta rasa kesukuan yang
kadang muncul kepermukaan.
3. Kerawanan SARA dalam masyarakat negara kita yang kadang
dimanfaatkan oleh kelompok tertentu.
4. Berbagai ketimpangan dan kesenjangan terutama sosial ekonomi dan pola
hidup yang mewah.
5. Kemajuan IPTEK dan pola komunikasi terbuka yang dimanfaatkan untuk
merusak moral, tata nilai budaya, serta jati diri bangsa Indonesia.
Tantangan dan hambatan tersebut perlu segera di antisipasi jauh-jauh
agar tidak menabur ancaman bagi kerukunan hidup bangsa Indonesia. Oleh
karena itu upaya yang harus dilakukan antara lain :
10
1. Pengamalan nilai-nilai iman dan taqwa.
2. Perilaku yang sesuai dan sejalan dengan tata nilai dan norma.
3. Meningkatkan persahabatan dan komunikasi yang baik.
4. Menjalin solidaritas.
Dengan demikian, harapan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang
aman, tentram, rukun, dan damai dapat terwujud.
11
BAB III
P E N U T U P
3.1 Kesimpulan
Dari makalah yang telah kami buat, kami menjabarkan kewarganegaraan
dari sisi “kerukunan warga negaranya”.
Dapat kami simpulkan bahwa kerukunan merupakan suatu kemauan
untuk hidup bersama berdampingan secara damai dan tertib. Dimana dalam bab 2
telah tertulis jelas bagi kita kewarganegaraan dan kerukunan warganya, landasan
dan sumber formalnya, tugas dan tanggung jawab warga negaranya. Terdapat
juga bahaya dan kerugian penyimpangan terhadap kehidupan serta tantangan dan
hambatan dalam membina kerukunan warga negaranya. Dengan demikian
kerukunan warga negara dalam hubungan bermasyarakat akan tercipta suasana
kedamaian, ketertiban, dan ketentraman tanpa ada pertikaian dan pertengkaran.
12
DAFTAR PUSTAKA
1. ______________, 1999. Simpati Kewarganegaraan Semester I Kelas XII.
Surabaya : CV. Grahadi.
2. ______________, 2004. PPKn Kelas 3. Kahen:Cempaka Putih.
3. Internet.
KERUKUNAN WARGA NEGARA
Disusun Oleh :
NUR RAHMAT, S.Ag
NIP. 131 550 122
SDN SUKABUMI I
KEC. MAYANGAN KOTA PROBOLINGGO
TAHUN 2007
ii
Kata-kata Mutiara ;
Tuhan memiliki bejana di
bumi. Itulah hati dan
bejana yang paling
disukai_Nya adalah bejana
yang bersih.
Kebanyakan orang marah
bila ada yang salah. Orang
bijak tetap tenang dan
mengatasi keadaan dengan
tenang.
iii
KATA PENGANTAR
Segala syukur kita limpahkan kepada Allah SWT. dan Nabi Muhammad
SAW. karena atas limpahan rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktu dan benar.
Tak lupa kami juga ucapkan terima kasih kepada teman sekelompok karena
atas kerja kami masalah ini selesai atas dukungan, kesempatan, dan bantuan dari
mereka semua kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Tak lupa juga
saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman karena atas bantuan dan kesempatan
dari mereka semua bahan yang kami perlukan untuk menyusun makalah ini, kami
dapatkan.
Dan semoga makalah ini kelak nantinya dapat berguna bagi generasi
penerus. Harapan kami agar makalah ini tetap dijaga kelayakannya agar bermanfaat
bagi pihak yang membutuhkan ataupun pembaca. Semoga pembaca, teman-teman,
dan dosen kewarganegaraan berkenan akan isi makalah kami ini.
Penyusun,
Nur Rahmat, S.Ag.
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
KATA MUTIARA .......................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kewarganegaraan ....................................................................... 3
2.2 Kerukunan Warganegara ............................................................ 4
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................ 11
Daftar Pustaka ................................................................................................. 12
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebinekaan bangsa Indonesia mencakup agama, bahasa, suku bangsa,
maupun adat dan budayanya adalah ciri khas bagi bangsa Indonesia yang
menjadi sumber kebudayaannya. Kebhinekaan ini dapat tergambar pula dalam
kehidupan bermasyarakat seperti yang tertulis dalam kitab negara kertagama oleh
Empu Prapanca, tentang penyusunan pemerintahan Majapahit yang
mencerminkan unsur-unsur musyawarah. Dalam kehidupan beragama tertulis
dalam kitab Sutasoma oleh Empu Tantular dengan Bhineka Tunggal Ika.
Dimana kita sebagai warganegara selalu menginginkan terciptanya
kehidupan yang tertib, aman, tentram, rukun, dan damai agar tercipta
kebhinekaan tadi. Oleh karena itu setiap anggota masyarakat harus mempunyai
kesadaran akan pentingnya kerukunan hidup. Kerukunan sangatlah penting
ditanamkan dan dilaksanakan mengingat bangsa Indonesia terdiri atas beragam
suku bangsa, agama, budaya, dan latar belakang yang berbeda-beda kerukunan
juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam masyarakat yang berbangsa
dan majemuk. Untuk itulah makalah ini kami susun, agar pembaca, teman-teman
dan dosen kewarganegaraan tau pentingnya kerukunan dalam warga negara kita.
2
1.2 Rumusan Masalah
Setelah melihat dan memahami pentingnya makalah ini maka ada
beberapa maka ada beberapa rumusan masalah yang harus dijawab di
pembahasan nantinya agar makalah ini sempurna. Rumusan masalah itu adalah
sebagai berikut :
a. Apa kewarganegaraan dan warganegara itu ?
b. Apa pengertian kerukunan ?
c. Apa landasan dan sumber formal kerukunan ?
d. Apa tugas dan tanggung jawab warganegara dalam membina kerukunan ?
e. Apakah insan agamis penting dalam membina kerukunan warganegara ?
f. Apa bahaya penyimpangan terhadap kehidupan ?
g. Apa tantangan dan hambatan dalam membina kerukunan ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Agar kita mengetahui warga negara dan kewarganegaraan itu apa.
b. Agar kita tahu pengertian kerukunan.
c. Agar kita tahu dan paham landasan dan sumber formal kerukunan.
d. Agar kita tahu tugas dan tanggung jawab kita sebagai warga negara dalam
membina kerukunan.
e. Agar kita tahu bahasa penyimpangannya dalam kehidupan.
f. Agar kita tahu penting atau tidak pentingnya peran insan agamis dalam
membina kerukunan.
g. Agar kita tahu tantangan dan hambatan dalam membina kerukunan.
3
BAB II
P E M B A H A S A N
2.1 Kewarganegaraan
Adalah anggota dalam sebuah komunitas politik (negara), dan dengannya
membawa hak untuk berpartisipasi dalam politik. Seseorang dengan keanggotaan
tersebut disebut warga negara. Istilah ini secara umum mirip dengan
kebangsaan, walaupun dimungkinkan untuk memiliki kebangsaan tanpa menjadi
seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan subyek suatu negara
dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak berpartisipasi dalam politik).
Juga dimungkinkan untuk memiliki hak politik tanpa menjadi bangsa dari suatu
negara.
Kewarganegaraan juga dimaksudkan agar kita memiliki wawasan
kesadaran bernegara untuk bela negara dan memiliki pola pikir, pola sikap dan
perilaku sebagai pola tindak yang cinta tanah air berdasarkan Pancasila. Semua
itu diperlukan demi tetap utuh dan tegaknya negara kesatuan republik Indonesia.
Tujuan utama kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan
dan kesadaran bernegara, sikap serta perilaku yang cinta tanah air dan
bersendikan kebudayaan bangsa, wawasan nusantara, serta ketahanan nasional
dalam diri para mahasiswa calon sarjana atau ilmuwan warga negara Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang sedang mengkaji dan akan menguasai IPTEK
dan seni, tujuan tersebut terdapat dalam pendidikan kewarganegaraan.
4
2.2 Kerukunan Warga Negara
A. Pengertian Rukun
Kerukunan berasal dari kata rukun berarti baik dan damai, tidak
bertengkar. Kerukunan bermakna rasa damai dan baik serta tidak ada
pertengkaran. Kerukunan merupakan suatu keamanan untuk hidup bersama,
berdampingan serta damain dan tertib. Dengan demikian dalam masyarakat
tercipta suasana kedamaian, ketertiban, dan ketentraman tanpa ada pertikan
dan pertengkaran.
Rukun dalam bahasa Arab berarti asas atau hukum dasar. Jadi rukun
dapat diartikan sebagai hidup yang konsisten dalam menjalankan ajaran
agamanya (norma-norma yang berlaku). Dengan demikian kerukunan lahir
secara sadar dikehendaki oleh setiap orang tanpa ada paksaan atau motifmotif
tertentu.
B. Landasan dan Sumber Formal Kerukunan
1. Landasan Kerukunan
a. Landasan Ideal Pancasila
Pancasila sebagai dasar negara merupakan sumber dari segala sumber
tertib hukum bagi perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Landasan kerukunan bersumber pada nilai norma-norma Ketuhanan
Yang Maha Esa, yang menjiwai sila-sila lainnya.
5
b. Landasan Konstitusional
1) Pasal 29 ayat 1 UUD 1945 “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang
Maha Esa”
2) Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 “Negara menjamin kemerdekaan tiaptiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan
untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu”
c. Landasan Operasional GBHN
Yaitu Tap MPR RI No. IV/MPR/1999, tentang GBHN 1999-2004 bab
IV arah kebijakan sub.d.agama yaitu peningkatan pengamalan ajaran
agama dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan kualitas
keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam
kehidupan mantapnya persaudaraan umat beragama yang berakhlak
mulia, toleren, rukun dan damai.
2. Sumber Formal Kerukunan
a. Menurut ajaran Agama Islam
Terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al Kafirun ayat 1-6 dan dalam Surat
Ali Imraan ayat 103
b. Menurut ajaran Agama Hindu
Terdapat dalam Ath.XII.1.45 dan Yayur Weda 26.7
c. Menurut ajaran Agama Budha
Terdapat dalam Khudaka Nikaya, Caritiyotaka 33/395 dan
Dhammapada 194.
6
d. Menurut ajaran Agama Kristiani (Protestan dan Khatolik)
Terdapat dalam Roma 14.19 dan 1 Korintus 1:10
e. Menurut Kebudayaan
Kebudayaan bisa dikatakan sebagai hasil budidaya kekuatan akal
manusia yang dilakukan secara sadar, baik berupa cipta, rasa, karsa.
Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, kebudayaan merupakan
keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur
oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang
semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Kebudayaan dibentuk baik materiil maupun spiritual. Nilai
kebudayaan terkait erat dengan budaya dimana nilai keagamaan
memberi warna budaya bangsa.
C. Tugas dan Tanggung Jawab Warga Negara dalam membina Kerukunan
1. Sebagai Umat Beragama
Ada Tri kerukunan, yaitu :
a. Kerukunan antar umat beragama
b. Kerukunan Intern umat seagama
c. Kerukunan antar sesama umat beragama dengan pemerintah
2. Sebagai Anggota Masyarakat dan Negara
a. Menghayati dan mengamalkan Pancasila
b. Menjunjung tinggi konstitusi negara
7
c. Membina ketertiban dan ketahanan nasional
d. Patuh dan tertib dalam kehidupan umum
e. Mengutamakan musyawarah dan mufakat
f. Rela berkorban dan berjiwa sosial
D. Pentingnya insan agamis dalam membina kerukunan
Insan agamis adalah insan (manusia) yang hidup dan kehidupannya
berdasarkan pada norma-norma atau ajaran agama. Ciri-cirinya yaitu peri
kehidupannya selalu bernafaskan agama, baik dalam hubungannya dengan
Tuhan Yang Maha Esa maupun dengan manusia. Dengan demikian segala
perbuatannya semata-mata karena Allah SWT., sehingga yang diperbuatnya
dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan YME.
Prinsip utama insan agamis dalam berbagai aspek dan lingkungan
kehidupan adalah bahwa umat beragama yang baik selalu taat kepada
Tuhannya, Rasulnya, dan taat kepada perintah, sepanjang pemerintah tidak
menjerumuskan rakyat kedalam kemaksiatan dan kezoliman.
E. Bahaya dan kerugian penyimpangan terhadap kehidupan
1. Kehidupan Keagamaan
Beberapa bentuk penyimpangan terhadap kehidupan keagamaan yang
harus dihindari, antara lain sebagai berikut :
8
a. Sinkretisme (paham yang hendak mencampur adukkan segala ajaran
agama menjadi satu dan menyatakan semua ajaran agama adalah
sama).
b. Indeferentisme (paham yang menganggap bahwa semua agama sama,
semua baik dan semua menuju Tuhan).
c. Dangkalnya pengertian dan kesadaran beragama.
d. Fanatisme sempit
e. Ekstramisme, yaitu paham yang berusaha menggantikan dan
menggulingkan pemerintahan yang sah, melalui cara yang
inkonstritusional seperti ekstrem kanan (berhaluan agama) ektrem kiri
(berhaluan ideologi).
f. Pelecehan atau menjelek-jelekkan agama dan kepercayaan orang lain.
2. Kehidupan Sosial
Beberapa bentuk penyimpangan terhadap kehidupan sosial, antara lain :
a. Perilaku egoisme
b. Main hakim sendiri
c. Senang menggunakan kekerasan
d. Merasa lebih dan paling hebat
3. Kehidupan Kenegaraan
4. Beberapa bentuk penyimpangan terhadap kehidupan kenegaraan, antara
lain :
a. Sifat Individualisme
9
b. Fanatisme partai politik
c. Pemberontakan dan ekstremisme, baik yang bersifat kedaerahan,
kesukuan, maupun bersifat keagamaan ideologi politik.
F. Tantangan dan Hambatan dalam membina kerukunan
Beberapa tantangan dan hambatan dalam membina kerukunan perlu
diwaspadai dan ditanggulangi sedini mungkin. Hal ini dimaksudkan agar
tidak berkembang menjadi masalah yang mengoyakkan persatuan dan
kesatuan. Tantangan dan hambatan tersebut antara lain :
1. Keterbatasan komunikasi antara pemerintah dengan rakyat di daerah
pedalaman atau terpencil.
2. Keanekaragaman kepentingan dan budaya serta rasa kesukuan yang
kadang muncul kepermukaan.
3. Kerawanan SARA dalam masyarakat negara kita yang kadang
dimanfaatkan oleh kelompok tertentu.
4. Berbagai ketimpangan dan kesenjangan terutama sosial ekonomi dan pola
hidup yang mewah.
5. Kemajuan IPTEK dan pola komunikasi terbuka yang dimanfaatkan untuk
merusak moral, tata nilai budaya, serta jati diri bangsa Indonesia.
Tantangan dan hambatan tersebut perlu segera di antisipasi jauh-jauh
agar tidak menabur ancaman bagi kerukunan hidup bangsa Indonesia. Oleh
karena itu upaya yang harus dilakukan antara lain :
10
1. Pengamalan nilai-nilai iman dan taqwa.
2. Perilaku yang sesuai dan sejalan dengan tata nilai dan norma.
3. Meningkatkan persahabatan dan komunikasi yang baik.
4. Menjalin solidaritas.
Dengan demikian, harapan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang
aman, tentram, rukun, dan damai dapat terwujud.
11
BAB III
P E N U T U P
3.1 Kesimpulan
Dari makalah yang telah kami buat, kami menjabarkan kewarganegaraan
dari sisi “kerukunan warga negaranya”.
Dapat kami simpulkan bahwa kerukunan merupakan suatu kemauan
untuk hidup bersama berdampingan secara damai dan tertib. Dimana dalam bab 2
telah tertulis jelas bagi kita kewarganegaraan dan kerukunan warganya, landasan
dan sumber formalnya, tugas dan tanggung jawab warga negaranya. Terdapat
juga bahaya dan kerugian penyimpangan terhadap kehidupan serta tantangan dan
hambatan dalam membina kerukunan warga negaranya. Dengan demikian
kerukunan warga negara dalam hubungan bermasyarakat akan tercipta suasana
kedamaian, ketertiban, dan ketentraman tanpa ada pertikaian dan pertengkaran.
12
DAFTAR PUSTAKA
1. ______________, 1999. Simpati Kewarganegaraan Semester I Kelas XII.
Surabaya : CV. Grahadi.
2. ______________, 2004. PPKn Kelas 3. Kahen:Cempaka Putih.
3. Internet.
1
Manual VoIP
(Voice Over Internet Ptotocol)
Ditulis Oleh : Matekur
A. Pengantar
VoIP – Voice over Internet Protocol adalah teknologi yang mampu menyediakan
komunikasi suara real-time dengan berbasiskan Internet Protocol. VoIP ini dapat
memanfaatkan infrastruktur internet yang sudah ada untuk berkomunikasi seperti
layaknya menggunakan telepon biasa dan tidak dikenakan biaya telepon biasa untuk
berkomunikasi dengan pengguna VoIP lainnya dimana saja dan kapan saja
VoIP adalah transfer suara/voice melewati paket IP pada jaringan, seperti gambar 1
Gambar 1 Topologi VoIP
Mengapa VoIP?
Berkomunikasi menggunakan VoIP tidak dikenai biaya telepon biasa,
termasuk biaya SLJJ untuk komunikasi antar pengguna VoIP Jardiknas yang
tersebar diseluruh Indonesia.
Layanan VoIP Jardiknas meningkatkan keterhubungan user di pusat dan
daerah, atau antar daerah, dengan komunikasi yang lebih intensif, mudah dan
murah
VoIP sebagai bentuk layanan IP Telephony adalah legal secara hukum untuk
diselenggarakan oleh siapapun di Indonesia
Mengapa Protokol SIP?
2
Mudah diimplementasikan
Membangun jaringan VoIP berbasiskan komponen-komponen SIP relatif
lebih mudah
Software mudah diperoleh dan status produksinya setara dengan
komersil
Terbukti bekerja cukup baik untuk beberapa VoIP Service Provider
Software berlisensi opensource
Mudah untuk mengimplementasikan fitur-fitur baru dan digabungkan dengan
layanan lainnya seperti Free Mail
Mampu bekerja untuk user agent yang berada dibelakang NAT atau common
firewall dengan relatif mudah
Kualitas suara dan sebagian besar penggunaan bandwidth diserahkan pada
peer to peer
B. Persiapan
1. Aplikasi VoIP meliputi:
Untuk server softwarenya adalah Asterisk@home 2.8
Untuk client softwarenya antara lain X-Lite, SJPhone, Softphone,
Eyebeam, IPPhone, ATA (Analog Telephone Adapter), ITG (Internet
Telephone Gateway)
Protocol menggunakan SIP (Session Initiation Protocol)
2. Perangkat VoIP yang dibutuhkan antara lain:
Menggunakan PC:
Minimal PC Intel Pentium 200 MMX (atau yang setara)
Minimal RAM 64 MB
Minimal ruang kosong dalam harddisk 3GB (untuk instalasi program)
Ethernet Phone (IP Phone) yang support protokol H322
Regular Phone dengan ATA (Analog Telephone Adapter)
Internet Telephony Gateway (Yang mengadopsi standar SIP)
Headset yang berkualitas bagus
3
Soundcard yang memadai
C. Membuat Extension Pada Server Asterisk
Asterisk adalah server VoIP (Voice Over Internet Protocol) yang dapat
digunakan untuk komunikasi audio dan video. Server yang digunakan oleh
penulis ini dibangun dengan source code Linux Redhat, sehingga kalau user
sudah menguasai Sistem Operasi Linux Redhat, maka cara menjalankan dan
konfigurasinya sangat mudah. Master aserisk dapat didownload dari
www.matekur.cjb.net
Cara membuat extensions pada server Asterisk adalah sebagai berikut:
1. Ketik lewat brouser //118.98.215.3 ¿
2. Ketik user dan password, defaultnya user: maint, password: password,
kemudian klik OK. Maka akan keluar menu seperti gambar 3
3. Klik setup untuk mengawali pembuatan extensions
4. Klik extensions
Gambar 3 Menu Setup Server Asterisk
5. Klik SIP, maka akan muncul menu seperti gambar 4
4
6. Ada tiga form yang harus diisi yaitu Extensions Number, Display Name dan
secret. Misalnya kita membuat extensions:
Extension Number : 0008
Display Name : siti (huruf kecil agar mudah dihafal)
Secret : 0008 (dibuat sama dengan extension number agar
mudah dihafal)
7. Kemudian klik submit
Gambar 4 Form Isian SIP
8. Setelah diklik submit akan muncul garis tebal warna merah, seperti gambar 3.
Warna merah ini harus diklik supaya pendaftaran SIP diakui oleh sistem.
5
Gambar 3 Warna Merah Finishing
9. Maka pada daftar extensions sudah muncul extensions baru bernama ”siti”,
seperti gambar 5
Gambar 5 Extensions Siti Nomor 0008
Setelah ekstensi ”siti” berhasil dibuat, maka langkah selanjutnya adalah
setting X-Lite
D. Setting X-Lite
Cara setting X-Lite sebagai berikut:
1. Jalankan X-Lite, kemudian klik kanan pada layar monitor, seprti gambar 6
6
Gambar 6 Layar X-Lite
2. Akan muncul menu SIP dan isilah sesuai dengan nama dan nomor ekstensi
yang sudah dibuat di server Asterisk, seperti gambar 7
Gambar 7 Menu SIP X-Lite
3. Klik menu Voicmail dan isilah form number of dial dan number for sending
dengan nomor ekstensi yang telah dibuat, seperti gambar 8
7
Gambar 8 Menu Voicmail
4. Kalau sudah jalan menu voicmail akan berubah seperti gambar 9
Ganbar 9 Verifikasi Voicmail
8
5. Klik OK, maka pada layar X-Lite akan muncul tulisan Ready, Your username
is: 0008. Berarti Anda telah berhasil setting X-Lite dengan data yang benar,
seperti gambar 10
Gambar 10 X-Lite Berhasil
E. Percobaan
1. Dipanggil dari ekstensi lain, seperti gambar 11
2. Memanggil ekstensi lain, seperti gambar 12
Gambar 11 X-Lite dipanggil 0003 dinpdk
9
Gambar 12 X-Lite Memanggil 0003
Manual VoIP
(Voice Over Internet Ptotocol)
Ditulis Oleh : Matekur
A. Pengantar
VoIP – Voice over Internet Protocol adalah teknologi yang mampu menyediakan
komunikasi suara real-time dengan berbasiskan Internet Protocol. VoIP ini dapat
memanfaatkan infrastruktur internet yang sudah ada untuk berkomunikasi seperti
layaknya menggunakan telepon biasa dan tidak dikenakan biaya telepon biasa untuk
berkomunikasi dengan pengguna VoIP lainnya dimana saja dan kapan saja
VoIP adalah transfer suara/voice melewati paket IP pada jaringan, seperti gambar 1
Gambar 1 Topologi VoIP
Mengapa VoIP?
Berkomunikasi menggunakan VoIP tidak dikenai biaya telepon biasa,
termasuk biaya SLJJ untuk komunikasi antar pengguna VoIP Jardiknas yang
tersebar diseluruh Indonesia.
Layanan VoIP Jardiknas meningkatkan keterhubungan user di pusat dan
daerah, atau antar daerah, dengan komunikasi yang lebih intensif, mudah dan
murah
VoIP sebagai bentuk layanan IP Telephony adalah legal secara hukum untuk
diselenggarakan oleh siapapun di Indonesia
Mengapa Protokol SIP?
2
Mudah diimplementasikan
Membangun jaringan VoIP berbasiskan komponen-komponen SIP relatif
lebih mudah
Software mudah diperoleh dan status produksinya setara dengan
komersil
Terbukti bekerja cukup baik untuk beberapa VoIP Service Provider
Software berlisensi opensource
Mudah untuk mengimplementasikan fitur-fitur baru dan digabungkan dengan
layanan lainnya seperti Free Mail
Mampu bekerja untuk user agent yang berada dibelakang NAT atau common
firewall dengan relatif mudah
Kualitas suara dan sebagian besar penggunaan bandwidth diserahkan pada
peer to peer
B. Persiapan
1. Aplikasi VoIP meliputi:
Untuk server softwarenya adalah Asterisk@home 2.8
Untuk client softwarenya antara lain X-Lite, SJPhone, Softphone,
Eyebeam, IPPhone, ATA (Analog Telephone Adapter), ITG (Internet
Telephone Gateway)
Protocol menggunakan SIP (Session Initiation Protocol)
2. Perangkat VoIP yang dibutuhkan antara lain:
Menggunakan PC:
Minimal PC Intel Pentium 200 MMX (atau yang setara)
Minimal RAM 64 MB
Minimal ruang kosong dalam harddisk 3GB (untuk instalasi program)
Ethernet Phone (IP Phone) yang support protokol H322
Regular Phone dengan ATA (Analog Telephone Adapter)
Internet Telephony Gateway (Yang mengadopsi standar SIP)
Headset yang berkualitas bagus
3
Soundcard yang memadai
C. Membuat Extension Pada Server Asterisk
Asterisk adalah server VoIP (Voice Over Internet Protocol) yang dapat
digunakan untuk komunikasi audio dan video. Server yang digunakan oleh
penulis ini dibangun dengan source code Linux Redhat, sehingga kalau user
sudah menguasai Sistem Operasi Linux Redhat, maka cara menjalankan dan
konfigurasinya sangat mudah. Master aserisk dapat didownload dari
www.matekur.cjb.net
Cara membuat extensions pada server Asterisk adalah sebagai berikut:
1. Ketik lewat brouser //118.98.215.3 ¿
2. Ketik user dan password, defaultnya user: maint, password: password,
kemudian klik OK. Maka akan keluar menu seperti gambar 3
3. Klik setup untuk mengawali pembuatan extensions
4. Klik extensions
Gambar 3 Menu Setup Server Asterisk
5. Klik SIP, maka akan muncul menu seperti gambar 4
4
6. Ada tiga form yang harus diisi yaitu Extensions Number, Display Name dan
secret. Misalnya kita membuat extensions:
Extension Number : 0008
Display Name : siti (huruf kecil agar mudah dihafal)
Secret : 0008 (dibuat sama dengan extension number agar
mudah dihafal)
7. Kemudian klik submit
Gambar 4 Form Isian SIP
8. Setelah diklik submit akan muncul garis tebal warna merah, seperti gambar 3.
Warna merah ini harus diklik supaya pendaftaran SIP diakui oleh sistem.
5
Gambar 3 Warna Merah Finishing
9. Maka pada daftar extensions sudah muncul extensions baru bernama ”siti”,
seperti gambar 5
Gambar 5 Extensions Siti Nomor 0008
Setelah ekstensi ”siti” berhasil dibuat, maka langkah selanjutnya adalah
setting X-Lite
D. Setting X-Lite
Cara setting X-Lite sebagai berikut:
1. Jalankan X-Lite, kemudian klik kanan pada layar monitor, seprti gambar 6
6
Gambar 6 Layar X-Lite
2. Akan muncul menu SIP dan isilah sesuai dengan nama dan nomor ekstensi
yang sudah dibuat di server Asterisk, seperti gambar 7
Gambar 7 Menu SIP X-Lite
3. Klik menu Voicmail dan isilah form number of dial dan number for sending
dengan nomor ekstensi yang telah dibuat, seperti gambar 8
7
Gambar 8 Menu Voicmail
4. Kalau sudah jalan menu voicmail akan berubah seperti gambar 9
Ganbar 9 Verifikasi Voicmail
8
5. Klik OK, maka pada layar X-Lite akan muncul tulisan Ready, Your username
is: 0008. Berarti Anda telah berhasil setting X-Lite dengan data yang benar,
seperti gambar 10
Gambar 10 X-Lite Berhasil
E. Percobaan
1. Dipanggil dari ekstensi lain, seperti gambar 11
2. Memanggil ekstensi lain, seperti gambar 12
Gambar 11 X-Lite dipanggil 0003 dinpdk
9
Gambar 12 X-Lite Memanggil 0003
PUISI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
PUISI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
TINGKAT SMP
Oleh
Hilmin Dwi Astuti, SPd
Dilema Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah
Pembelajaran Bahasa Inggris dewasa ini telah mencapai tingkat yang sangat
diperhitungkan. Hal ini disebabkan karena Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran
utama dalam ujian nasional. Selain hal tersebut, fakta yang tidak bisa disangkal bahwa Bahasa
Inggris merupakan bahasa internasional semakin memperkokoh kedudukannya sebagai mata
pelajaran yang sangat penting.
Fakta di atas haruslah membuka kesadaran dari para pelaku pendidikan, dalam hal ini
adalah pendidik atau guru untuk melakukan banyak terobosan dalam proses pembelajaran. Hal
ini perlu dilakukan karena beberapa alasan. Diantara alasan tersebut adalah bahwa proses belajar
mengajar Bahasa Inggris sudah menjadi pengajaran life skill. Kemampuan yang dihasilkan oleh
siswa pada tahap inilah yang nantinya akan lebih berguna bagi siswa di masa mendatang.
Kemampuan ini akan melebihi manfaat dari hanya sekedar kemampuan mengerjakan soal ujian
atau hanya sekedar lulus ujian saja.
Permasalahan yang terjadi sekarang adalah kenyataan bahwa guru dituntut untuk bisa
meloloskan para siswanya dalam menjalani ujian nasional. Bayang-bayang ujian nasional seolah
memberi semacam peringatan pada guru bahwa tujuan utama proses pembelajaran ini adalah
lulus ujian nasional. Bagaimana tidak demikian jika kita tidak selalu dikejar dead line
menyelesaikan materi pada waktu tertentu dengan sekian banyak kemampuan yang harus
dikuasai oleh siswa. Alokasi waktu yang semestinya bisa dipakai oleh siswa untuk kegiatan
praktek penggunaan Bahasa Inggris juga harus dipakai untuk menyelesaikan materi atau
pemantapan materi yang telah ada. Prosentase ketakutan akan ketidaklulusan jauh melebihi
ketakutan akan ketidakmampuan siswa dalam menggunakan bahasa internasional ini dengan
baik.
Kenyataan di atas tentunya akan menjadi semacam tantangan bagi guru untuk bisa
mengkombinasikan tujuan utama pembelajarannya, yaitu sukses membuat siswa mampu
berbahasa Inggris juga sukses mengantarkan mereka lulus ujian nasional. Dari sisilah kita perlu
semacam terobosan proses pembelajaran. Siswa memerlukan sesuatu yang lebih dari sekedar
belajar secara konvensional. Materi-materi pembelajaranpun sudah waktunya diubah mendekati
kebutuhan-kebutuhan mereka serta pada dunia yang mendekati rona hidup para siswa tersebut.
Maka jadilah kurikulum terbaru yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan seolah menjadi
jawaban atas kebutuhan ini. Materi Bahasa Inggris tidak lagi disusun secara tematik dimana
siswa dipakasa untuk mempelajari materi yang kadang terlampau jauh dari tingkat kebutuhan
mereka.
Dari kenyataan inilah, penulis merasa perlu untuk mencari upaya pembelajaran Bahasa
Inggris yang nantinya bertujuan untuk mencapai dua tujuan utama pengajaran seperti yang
disebutkan di atas. Sebagai pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP, penulis melihat
adanya ketakutan banyak guru dalam menggunakan puisi sebagai materi ajar. Banyak guru yang
menghindari penggunaan jenis karya sastra yang satu ini dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa puisi oleh sebagian guru dianggap kurang relevan
di bandingkan dengan prosa semacam cerita pendek ataupun drama. Apalagi jika tujuan utama
dari pembelajaran adalah communicative competence, puisi akan semakin dipinggirkan (Maher,
1982: 17).
Puisi dianggap menakutkan sebagai bahan ajar telah terjadi dengan demikian kuatnya.
Burton Raffel sampai perlu untuk mengatakan poetry is not a frightening monster lurking in the
academic darkness, waiting to leap out and trap the poor, unsuspecting reader (Tedjasudhana,
1988:233). Dikatakan olehnya bahwa puisi bukanlah monster yang menakutkan yang hinggap
pada kegelapan akademis yang siap untuk menjebak orang-orang yang malang, dalam hal ini
adalah pembacanya.
Berdasarkan hal inilah penulis akan mencoba untuk memaparkan sebuah alternative
pengajaran dengan menggunakan puisi sebagai bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Cara ini nantinya akan semakin memperkaya kita dalam melakukan pengajaran di kelas
sehingga siswa juga akan merasakan atmosfer kelas yang berlainan. Dengan suasana kelas yang
berbeda kegiatan belajar mengajarpun akan semakin diminati siswa. Hal inilah yang nantinya
akan semakin mendorong kmita untuk menciptakan suasana fun learning yang semakin diminati
oleh pelajar dan pengajarnya.
Apakah Puisi Itu?
Anggapan bahwa puisi adalah materi yang sulit dipakai dalam pembelajaran Bahasa
Inggris mungkin karena banyak yang belum paham apa sebenarnya yang dimaksud dengan puisi
itu sendiri. Bahkan banyak juga yang salah mengartikannya.
Birk (1969:366) mengatakan poetry is rhythmic, melodic utterance which, through
human history, has expressed the deepest feeling of man
. Puisi adalah ungkapan yang ritmis
dari perasaan manusia yang paling dalam. Dalam seluruh sejarah manusia, puisi dikatakan
sebagai ungkapan yang paling alami, karena emosi-emosi yang terekam didalamnya cenderung
lebih ritmis. Isinyapun sangat natural seperti suara-suara anak dalam bermain, bahasa cinta, rasa
marah, sedih dan sebagainya.
Makna ini semakin diperjelas oleh Perrine sebagaimana yang ada pada buku
Tedjasudhana (1988:233). Dia mengatakan bahwa puisi menggunakan segala aspek kehidupan
sebagai bahan isinya. Fokus utamanya bukanlah keindahan, kebenaran filosofis, persuasi, tapi
pengalaman. Perrine juga mengatakan bahwa keindahan dan kebenaran filosofis adalah aspek
pengalaman, dan biasanya para penyair terikat dengannya. Sehingga pada dasarnya puisi
mempunyai focus yang sangat luas yaitu seluruh aspek pengalaman hidup. Hal ini berarti
meliputi keindahan dan keburukan, hal aneh maupun hal umum, hal yang nyata ataupun yang
fiksi dan sebagainya. Bahkan kematian dan rasa sakit yang dalam kehidupan sehari-hari
merupakan hal yang tidak menyenangkan , dalam puisi hal-hal tersebut bisa jadi akan berubah
sebaliknya.
Matthew Arnold juga senada dalam mengatakan bahwa puisi adalah tidak lebih dari
ungkapan manusia yang paling sempurna. Ungkapan ini adalah hal-hal yang mengandung
unghkapan tentang kebenaran (Birk, 1965: 367).
Jadi jelaslah bahwa puisi bukanlah milik kalangan tertentu saja tapi semua manusia
tergantung pada level pemahaman dimana dia berada, sebenarnya sudah terbiasa dengan
penggunaan puisi bahkan bisa dikategorikan sebagai penikmat puisi karena seluruh aspek hidup
merupakan unsur yang bisa diangkat dalam puisi.
Memahami Puisi
Anggapan bahwa puisi adalah a frightening monster sering kali dihubungkan dengan
kesulitan pembaca memahami sebuah puisi. Tidak jarang puisi dalam bahasa kita sendiri juga
terlalu sulit untuk dijelaskan maknanya. Oleh karena itu ada baiknya kita terlebih daluhu
mengetahui seberapa jauh tingkat kemampuan dalam memahami karya sastra yang satu ini. Hal
ini akan berguna nantinya pada saat kita akan menggunakannya dalam kegiatan di kelas. Siswa
akan terarahkan pada sisi yang kita harapkan.
Menurut Simanjuntak (1988: 118) ada empat (4) level dalam memahami bacaan termasuk
bacaan dalam bentuk puisi. Level-level tersebut adalah:
1. Level Literal (literal level)
Pada tahap ini pembaca perlu untuk menghasilkan kembali atau dengan kata lain
menceritakan kembali fakta-fakta yang telah ditulis oleh penulis dalam karyanya.
2. Level interpretative (interpretative level)
Level ini menuntut pembaca untuk melihat informasi dalam bacaan secara lebih jauh dan
mengetahui hubungan fakta-fakta yang ada atau membuat perbandingan-perbandingan
dan sebagainya.
3. Level Kritis (Critical Level)
Pembaca harus mampu mengevaluasi dan menilai informasi dengan mencatat bukti-bukti
yang ada dalam materi baca tersebut.
4. Level Kreatif (Creative Level)
Pada level ini memerlukan keterlibatan pembaca dengan informasi yang disajikan seperti
kemampuan mereka dalam menggunakan formula-formula atau untuk memikirkan
kembali ide-ide merka sendiri.
Dengan memahami level mana nantinya para siswa akan dibawa, guru akan mampu
mencapai tujuan yang telah direncanakan. Tentunya kita sebagai guru bisa melihat kemampuan
siswa kita sudah pada tahap apa, sehingga kita tidak akan mengharapkan kemampuan yang di
liar jangkauan para siswa kita.
Hal lain yang perlu kita ketahui dalam pemahaman puisi adalah bahwa puisi mempunyai
dua level makna. Makna tersebut adalah makna literal (literal meaning) dan makna simbolik
(symbolic meaning). Level pertama ini tentunya lebih mudah, karena makna puisi tidak jauh
beda dengan apa yang tertulis di dalamnya, sementara makna symbolis menuntut kemampuan
pembaca untuk melihat lebih jauh hal-hal yang terdapat pada puisi tersebut. Makna ini sering
kali tersembunyi (hidden) bahkan seringkali berbentuk perlambangan-perlambangan sehingga
pembaca harus mempunyai pengetahuan dasar yang melatarbelakangi karya sastra tersebut.
(Reaske, 1966: 9).
Sebenarnya memahami puisi itu sama halnya dengan bertanya. Tentunya pertanyaanpertanyaan
yang dikeluarkan haruslah tepat. Dalam hal ini tidak ada batasan-batasa dalam
memberikan pertanyaan. Reaske menyatakan bahwa jika kita ingin mengertahui banyak hal
tentang puisi, kita tidak hanya harus tahu dimana kita memulainya tapi juga harus tahu dimana
harus mengakhirinya. Seorang pembaca yang sukses bisa dilihat tidak hanya dari
kemampuannya menajamkan pemahamannya tetapi juga kemampuannya dalam mengungkapkan
pertanyaan-pertanyaan. (Reaske, 1966: 134).
Tetapi kita juga perlu tahu bahwa respon pembaca terhadap karya sastra dalam hal ini
puisi juga dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan, minat serta pola hidup (Rahman, 1981: 5).
Budi Darma juga pernah mengatakan bahwa pemahaman yang berbeda dalam membaca puisi
dikarenakan minat, selera, bakat dan juga kemampuan intelektual yang berbeda pula (1993: 12).
Dari fakta ini akan menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa menyalahkan siswa yang tidak bisa
mendapatkan respon yang bagus dalam memahami bacaan. Kemungkinan-kemungkinan yang
ada mungkin karena dia tidak tertarik dengan puisi, masyarakat dimana dia hidup juga tidak
memberikan akses luas untuk tumbuhnya seni berpuisi. Mungkin juga mereka minatnya tidak
pada bidang ini, tetapi mempunyai kemampuan yang bagus pada bidang lain.
Memahami puisi berari juga merupakan upaya untuk mengapresiasi karya tersebut.
Proses ini tentunya bukan merupakan pekerjaan mudah jika kita melihatnya dari sudut tertentu
saja. Abdul Rahman (1981:19) membagi skope apresiasi menjadi tiga. Yaitu aspek kognitif,
aspek emosional dan aspek evaluatif.
Aspek kognitif meliputi pemahaman masalah teoritis, prinsip-prinsip intrinsic dasar yang
siknifikan dengan karya sastra tersebut. Indikator dari aspek ini adalah menemukan
danmmamahami masalah teoritis dan prinsip-prinsid dasar sebuah karya yang diantaranya adalah
sudut pandang, seting dan lainnya.
Pada aspek emosional, siswa bisa mempengaruhi nilai estetika dari sebuah karya sastra.
Sementara pada aspek evaluatif, kemampuan siswa meliputi pemberikan nilai dan apresiasi
terhadap nilai estetika yang siknifikan terhadap karya sastra tersebut.
Pengajaran Puisi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Dalam banyak buku teks Bahasa Inggris yang dipakai di sekolah, penulis menemukan
fakta bahwa puisi sangat jarang ditemui di dalamya. Seandainya ditemukan dalam sebuah buku,
puisi tersebut dipakai sebaih materi tambahan atau just for fun activity. Sangat jarang ditemui
puisi dipergunakan sebagai bahan ajar utamanya.
Bila kita melihat kurikulum yang sedang dipakai sekarang yaitu Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), guru mempunyai banyak ruang untuk menggunakan puisi sebagai
bahan ajar. Jenis-jenis teks yang harus dipelajari pada tingkat SMP beberapa diantaranya juga
memungkinkannya. Diantara narrative text, descriptive text, recount text, report text dan
procedure text, memang kita tidak mungkin menggunakannya semua. Tapi paling tidak salah
satu jenisnya, yaitu descriptive text bisa kita manfaatkan.
Maher (1982:18) memaparkan bahwa puisi bisa kita maksimalkan untuk mengajarkan
keempat kemampuan berbahasa sekaligus. Pada kemampuan membaca (reading), puisi
memungkinkan siswa untuk melakukan pemahaman dengan isi yang ada, menginterpretasikan,
membuat teori-teori serta merasakannya. Hal ini disebabkan puisi adalah sumber yang efektif
dari makna structural dan leksikal. Seperti diketahui proses membaca adalah proses pemahaman.
Dan proses pemahaman dalam puisi bisa dikatakan sebagai bentuk analisa. Sementara itu,
menganalisa puisi berarti mengungkapkan sejumlah pertanyaan yang relevan. Jadi dengan proses
membaca puisi ini siswa dihadapkan pada proses yang sangat penting yaitu pemahaman dan
analisa sekaligus.
Pada kegiatan membaca, guru bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang relevan
sehingga pada akhirnya siswa akan mendapatkan gagasan tentang puisi yang sedang mereka
pelajari. Pertanyaan yang diberikan haruslah disesuaikan dengan tujuan utama menggunakan
puisi tersebut dalam pengajaran. Apakah untuk mendapatkan informasi rinci yang tersedian di
dalammya ataukah menganalisanya sebagai bentuk karya sastra. Tujuan yang terakhir tersebut
tentunya bisa dikatakan terlalu demanding untuk siswa ditingkat lanjutan pertama. Jadi gurulah
yang nantinya menjadi penentu kearah mana kegiatan dibawa.
Kemampuan kedua yang bisa dilakukan dengan puisi adalah menulis (writing). Maher
menyadari bahwa menulis puisi apalagi dengan menggnakan bahasa asing (Bahasa Inggris) bisa
dianggap sebagai kegiatan yang terlalu tinggi bagi siswa. Hal ini karena kemampuan yang
dilibatkan meliputi kemampuan yang kompleks. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan di kelas.
Kegiatan ini dianggap kegiatan yang menyenangkan dan dapat dilakukan oleh semuanya
termasuk siswa dengan kemampuan terbatas.
Kemampuan selanjutnya adalah berbicara dan menyimak (speaking and listening).
Sebuah puisi haruslah dibaca dengan keras, bukan dibaca dalam hati. Hal ini karena puisi adalah
salah satu bentuk seni verbal dan untuk memahaminya kadang kita harus melakukannya dengan
mengacu pada saat ditampilkan. Sehingga aliterasi, ritme, intonasi, asonansi serta jedah yang
digunakan dalam membaca puisi dapat membantu siswa mendapatkan kesan serta pemahaman
yang baik tentang pola ucapan yang benar dalam Bahasa Inggris. Pada konteks ini ketrampilan
menyimak dan berbicara bisa dilakukan secara bersamaan.
Bagaimana dengan pengajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan puisi sebagai bahan
ajarnya? Beberapa petunjuk yang dipaparkan oleh Simanjuntak (1988:21) tentang pengajaran
membaca (reading) pada konteks tertentu berikut akan memberikan ide bagi kita semua.
Diantara petunjuk itu diantaranya adalah:
Gunakan kosakata (vocabulary) dan konsep yang didapat dari area yang sesuai dengan
level siswa. Guru harus mampu membedakan antara drill dan latihan yang ditujukan
sebagai bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai basa asing (English as a
Foreign Language) ini.
Pertimbangakan apa yang seharusnya siswa kuasai pada akhir kegiatan belajar.
Persiapkan kerangka (outline) yang akan dilakukan di dalam kelas.
Teliti alur dan integritas materi secara bertahap.
Sediakan bermacam kegiatan kelas yang mungkin dilakukan.
Evaluasi rencana pembelajaran tersebut.
Dari petunjuk-petunjuk yang terpapar di atas, penulis ingin menggarisbawahi item
pertama, yaitu menggunakan kosakata yang sesuai dengan konsep dan level kemampuan siswa.
Hal inilah yang dirasakan paling penting serta memegang peranan dalam kesuksesas kita
menggunakan puisi sebagai bahan ajar. Guru haruslah sangat selektif memilih puisi sehingga
bahan ajar tidak akan terlalu tinggi ataupun sebaliknya.
Memang puisi adalah sebuah karya sastra yang identik dengan membaca. Padahal
membaca puisi berarti pemahaman itu sendiri. Jadi tidaklah heran bila penggunaan puisi dalam
pengajaran Bahasa Inggris lebih banyak diarahkan pada kemampuan membaca (reading).
Sehingga beberapa guideline yang terpampang di atas lebih terasa kemampuan membacanya.
Simanjuntak menambahkan,guru juga perlu menghindarai hal-hal berikut bila mengajar
di kelas (1988: 21). Hal-hal tersebut seperti mengharapkan siswa melakukan kegiatan dimana
meeka tidak dibekali dengan pengetahuan atau kemampuan pendukungnya. Bila kita melihat
saran ini, tentulah tahapan pembelajaran Bahasa Inggris pertama baik siklus lisan ataupun
siklus tulis yaitu building knowledge of the field tentulah mempunyai peranan yang sangat
menentukan. Kita bisa memaksimalkan apa yang seharusnya siswa ketahui dulu sebelum
melangkah pada tahap content seharusnya.
Hal kedua yang harus dihindari guru adalah mengasumsikan bahwa penampilan siswa
aka sempurna dan seperti penutur asli bahwa jika mereka telah dipersiapakan sebelumnya.
Tentunya tidaklah bijaksana kita mengharapkan hasil yang sempurna dalam kegiatan di dalam
kelas. Kemampuan siswa yang bervariasi serta daya tangkap pembelajaran yang berbeda-beda
pula akan mempengaruhi hal ini.
Guru juga harus menghindari cara memposisikan diri di luar ranah pembelajaran dengan
tidak menghubungkan aspek-aspek bahasa yang ada. Pembelajaran puisi memang salah satu
pembelajaran aspek sastra. Walaupun demikian kita tetaplah berada pada lingkup bahasa.
Apalagi dalam pembelajaran ini puisi adalah sarana atau bahan pembelajaran yang mungkin
hanya bagian yang teramat kecil dari materi-materi lain yang dipergunakan. Dengan kata lain
puisi bukanlah materi yang tiap hari dipilih dan digunakan guru dalam pembelakaran Bahasa
Inggris
.
Penutup
Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa menggunakan puisi di dalam kelas bukanlah hal
perlu dihindari lagi. Kita tentunya sangat menginginkan kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris di
dalam kelas bisa lebih berwarna dan bervariasi. Siswapun akan merasakan dampaknya kita kita
mampu melakukannya. Kemungkinan yang lain adalah bila ada diantara siswa kita yang
mempunyai minat dan bakat dalam sastra terutama puisi, tentunya minat mereka akan
mendapatkan perhatian. Hasilnya kemampuan mereka akan terarah dengan karena kita
memberikan bekal pengetahuan yang mendukung.
Adalah guru yang mempunyai kewenangan menciptakan suasana kelas yang kondusif
atau sebaliknya. Penggunaan puisi sebagai bahan ajar salah salah satu upaya untuk menciptakan
proses pembelajaran yang lebih bervariasi untuk siswa. Dengan cara ini diharapkan siswa akan
mampu mengembangkan ketrampilan berbahasa asingnya dengan lebih baik pula
Daftar Bacaan
Birk dan Birk. 1965. Understanding and Using English. New York: The Odyssey Press Inc.
Conomy, George. 1967. Enjoying Literature. Sidney: Whitcombe & Tombs PTY. Ltd
Darma, Budi. 1993. Perihal Studi Sastra, PRASASTI, nomor 9 tahun III Januari 1993, 1-13.
Surabaya: Unipress IKIP Surabaya.
Maher, John C. 1982. Poetry for Intstructional Purposes: Aunthenticity and Aspects of
Performance, FORUM, volume XX number 1 January 1982, 17-21
Rahman, Abdul. 1981. Kemampuan Apresiasi Sastra Murid SMA Jatim. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Reaske, C R. 1966. How to Analize Poetry. United States: Monarch Press
Sayuti, Suminto A. 1985. Puisi dan Pengajarannya (Sebuah Pengantar). Semarang: IKIP
Semarang Press
Simanjuntak, E G. 1988. Developing Reading Skill for EFL Students. Jakarta: Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan.
Tedjasudhana, L D. 1988. Developing Critical Reading Skill for Information and
Enjoyment. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan tenaga Kependidikan.
TINGKAT SMP
Oleh
Hilmin Dwi Astuti, SPd
Dilema Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah
Pembelajaran Bahasa Inggris dewasa ini telah mencapai tingkat yang sangat
diperhitungkan. Hal ini disebabkan karena Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran
utama dalam ujian nasional. Selain hal tersebut, fakta yang tidak bisa disangkal bahwa Bahasa
Inggris merupakan bahasa internasional semakin memperkokoh kedudukannya sebagai mata
pelajaran yang sangat penting.
Fakta di atas haruslah membuka kesadaran dari para pelaku pendidikan, dalam hal ini
adalah pendidik atau guru untuk melakukan banyak terobosan dalam proses pembelajaran. Hal
ini perlu dilakukan karena beberapa alasan. Diantara alasan tersebut adalah bahwa proses belajar
mengajar Bahasa Inggris sudah menjadi pengajaran life skill. Kemampuan yang dihasilkan oleh
siswa pada tahap inilah yang nantinya akan lebih berguna bagi siswa di masa mendatang.
Kemampuan ini akan melebihi manfaat dari hanya sekedar kemampuan mengerjakan soal ujian
atau hanya sekedar lulus ujian saja.
Permasalahan yang terjadi sekarang adalah kenyataan bahwa guru dituntut untuk bisa
meloloskan para siswanya dalam menjalani ujian nasional. Bayang-bayang ujian nasional seolah
memberi semacam peringatan pada guru bahwa tujuan utama proses pembelajaran ini adalah
lulus ujian nasional. Bagaimana tidak demikian jika kita tidak selalu dikejar dead line
menyelesaikan materi pada waktu tertentu dengan sekian banyak kemampuan yang harus
dikuasai oleh siswa. Alokasi waktu yang semestinya bisa dipakai oleh siswa untuk kegiatan
praktek penggunaan Bahasa Inggris juga harus dipakai untuk menyelesaikan materi atau
pemantapan materi yang telah ada. Prosentase ketakutan akan ketidaklulusan jauh melebihi
ketakutan akan ketidakmampuan siswa dalam menggunakan bahasa internasional ini dengan
baik.
Kenyataan di atas tentunya akan menjadi semacam tantangan bagi guru untuk bisa
mengkombinasikan tujuan utama pembelajarannya, yaitu sukses membuat siswa mampu
berbahasa Inggris juga sukses mengantarkan mereka lulus ujian nasional. Dari sisilah kita perlu
semacam terobosan proses pembelajaran. Siswa memerlukan sesuatu yang lebih dari sekedar
belajar secara konvensional. Materi-materi pembelajaranpun sudah waktunya diubah mendekati
kebutuhan-kebutuhan mereka serta pada dunia yang mendekati rona hidup para siswa tersebut.
Maka jadilah kurikulum terbaru yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan seolah menjadi
jawaban atas kebutuhan ini. Materi Bahasa Inggris tidak lagi disusun secara tematik dimana
siswa dipakasa untuk mempelajari materi yang kadang terlampau jauh dari tingkat kebutuhan
mereka.
Dari kenyataan inilah, penulis merasa perlu untuk mencari upaya pembelajaran Bahasa
Inggris yang nantinya bertujuan untuk mencapai dua tujuan utama pengajaran seperti yang
disebutkan di atas. Sebagai pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP, penulis melihat
adanya ketakutan banyak guru dalam menggunakan puisi sebagai materi ajar. Banyak guru yang
menghindari penggunaan jenis karya sastra yang satu ini dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa puisi oleh sebagian guru dianggap kurang relevan
di bandingkan dengan prosa semacam cerita pendek ataupun drama. Apalagi jika tujuan utama
dari pembelajaran adalah communicative competence, puisi akan semakin dipinggirkan (Maher,
1982: 17).
Puisi dianggap menakutkan sebagai bahan ajar telah terjadi dengan demikian kuatnya.
Burton Raffel sampai perlu untuk mengatakan poetry is not a frightening monster lurking in the
academic darkness, waiting to leap out and trap the poor, unsuspecting reader (Tedjasudhana,
1988:233). Dikatakan olehnya bahwa puisi bukanlah monster yang menakutkan yang hinggap
pada kegelapan akademis yang siap untuk menjebak orang-orang yang malang, dalam hal ini
adalah pembacanya.
Berdasarkan hal inilah penulis akan mencoba untuk memaparkan sebuah alternative
pengajaran dengan menggunakan puisi sebagai bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Cara ini nantinya akan semakin memperkaya kita dalam melakukan pengajaran di kelas
sehingga siswa juga akan merasakan atmosfer kelas yang berlainan. Dengan suasana kelas yang
berbeda kegiatan belajar mengajarpun akan semakin diminati siswa. Hal inilah yang nantinya
akan semakin mendorong kmita untuk menciptakan suasana fun learning yang semakin diminati
oleh pelajar dan pengajarnya.
Apakah Puisi Itu?
Anggapan bahwa puisi adalah materi yang sulit dipakai dalam pembelajaran Bahasa
Inggris mungkin karena banyak yang belum paham apa sebenarnya yang dimaksud dengan puisi
itu sendiri. Bahkan banyak juga yang salah mengartikannya.
Birk (1969:366) mengatakan poetry is rhythmic, melodic utterance which, through
human history, has expressed the deepest feeling of man
. Puisi adalah ungkapan yang ritmis
dari perasaan manusia yang paling dalam. Dalam seluruh sejarah manusia, puisi dikatakan
sebagai ungkapan yang paling alami, karena emosi-emosi yang terekam didalamnya cenderung
lebih ritmis. Isinyapun sangat natural seperti suara-suara anak dalam bermain, bahasa cinta, rasa
marah, sedih dan sebagainya.
Makna ini semakin diperjelas oleh Perrine sebagaimana yang ada pada buku
Tedjasudhana (1988:233). Dia mengatakan bahwa puisi menggunakan segala aspek kehidupan
sebagai bahan isinya. Fokus utamanya bukanlah keindahan, kebenaran filosofis, persuasi, tapi
pengalaman. Perrine juga mengatakan bahwa keindahan dan kebenaran filosofis adalah aspek
pengalaman, dan biasanya para penyair terikat dengannya. Sehingga pada dasarnya puisi
mempunyai focus yang sangat luas yaitu seluruh aspek pengalaman hidup. Hal ini berarti
meliputi keindahan dan keburukan, hal aneh maupun hal umum, hal yang nyata ataupun yang
fiksi dan sebagainya. Bahkan kematian dan rasa sakit yang dalam kehidupan sehari-hari
merupakan hal yang tidak menyenangkan , dalam puisi hal-hal tersebut bisa jadi akan berubah
sebaliknya.
Matthew Arnold juga senada dalam mengatakan bahwa puisi adalah tidak lebih dari
ungkapan manusia yang paling sempurna. Ungkapan ini adalah hal-hal yang mengandung
unghkapan tentang kebenaran (Birk, 1965: 367).
Jadi jelaslah bahwa puisi bukanlah milik kalangan tertentu saja tapi semua manusia
tergantung pada level pemahaman dimana dia berada, sebenarnya sudah terbiasa dengan
penggunaan puisi bahkan bisa dikategorikan sebagai penikmat puisi karena seluruh aspek hidup
merupakan unsur yang bisa diangkat dalam puisi.
Memahami Puisi
Anggapan bahwa puisi adalah a frightening monster sering kali dihubungkan dengan
kesulitan pembaca memahami sebuah puisi. Tidak jarang puisi dalam bahasa kita sendiri juga
terlalu sulit untuk dijelaskan maknanya. Oleh karena itu ada baiknya kita terlebih daluhu
mengetahui seberapa jauh tingkat kemampuan dalam memahami karya sastra yang satu ini. Hal
ini akan berguna nantinya pada saat kita akan menggunakannya dalam kegiatan di kelas. Siswa
akan terarahkan pada sisi yang kita harapkan.
Menurut Simanjuntak (1988: 118) ada empat (4) level dalam memahami bacaan termasuk
bacaan dalam bentuk puisi. Level-level tersebut adalah:
1. Level Literal (literal level)
Pada tahap ini pembaca perlu untuk menghasilkan kembali atau dengan kata lain
menceritakan kembali fakta-fakta yang telah ditulis oleh penulis dalam karyanya.
2. Level interpretative (interpretative level)
Level ini menuntut pembaca untuk melihat informasi dalam bacaan secara lebih jauh dan
mengetahui hubungan fakta-fakta yang ada atau membuat perbandingan-perbandingan
dan sebagainya.
3. Level Kritis (Critical Level)
Pembaca harus mampu mengevaluasi dan menilai informasi dengan mencatat bukti-bukti
yang ada dalam materi baca tersebut.
4. Level Kreatif (Creative Level)
Pada level ini memerlukan keterlibatan pembaca dengan informasi yang disajikan seperti
kemampuan mereka dalam menggunakan formula-formula atau untuk memikirkan
kembali ide-ide merka sendiri.
Dengan memahami level mana nantinya para siswa akan dibawa, guru akan mampu
mencapai tujuan yang telah direncanakan. Tentunya kita sebagai guru bisa melihat kemampuan
siswa kita sudah pada tahap apa, sehingga kita tidak akan mengharapkan kemampuan yang di
liar jangkauan para siswa kita.
Hal lain yang perlu kita ketahui dalam pemahaman puisi adalah bahwa puisi mempunyai
dua level makna. Makna tersebut adalah makna literal (literal meaning) dan makna simbolik
(symbolic meaning). Level pertama ini tentunya lebih mudah, karena makna puisi tidak jauh
beda dengan apa yang tertulis di dalamnya, sementara makna symbolis menuntut kemampuan
pembaca untuk melihat lebih jauh hal-hal yang terdapat pada puisi tersebut. Makna ini sering
kali tersembunyi (hidden) bahkan seringkali berbentuk perlambangan-perlambangan sehingga
pembaca harus mempunyai pengetahuan dasar yang melatarbelakangi karya sastra tersebut.
(Reaske, 1966: 9).
Sebenarnya memahami puisi itu sama halnya dengan bertanya. Tentunya pertanyaanpertanyaan
yang dikeluarkan haruslah tepat. Dalam hal ini tidak ada batasan-batasa dalam
memberikan pertanyaan. Reaske menyatakan bahwa jika kita ingin mengertahui banyak hal
tentang puisi, kita tidak hanya harus tahu dimana kita memulainya tapi juga harus tahu dimana
harus mengakhirinya. Seorang pembaca yang sukses bisa dilihat tidak hanya dari
kemampuannya menajamkan pemahamannya tetapi juga kemampuannya dalam mengungkapkan
pertanyaan-pertanyaan. (Reaske, 1966: 134).
Tetapi kita juga perlu tahu bahwa respon pembaca terhadap karya sastra dalam hal ini
puisi juga dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan, minat serta pola hidup (Rahman, 1981: 5).
Budi Darma juga pernah mengatakan bahwa pemahaman yang berbeda dalam membaca puisi
dikarenakan minat, selera, bakat dan juga kemampuan intelektual yang berbeda pula (1993: 12).
Dari fakta ini akan menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa menyalahkan siswa yang tidak bisa
mendapatkan respon yang bagus dalam memahami bacaan. Kemungkinan-kemungkinan yang
ada mungkin karena dia tidak tertarik dengan puisi, masyarakat dimana dia hidup juga tidak
memberikan akses luas untuk tumbuhnya seni berpuisi. Mungkin juga mereka minatnya tidak
pada bidang ini, tetapi mempunyai kemampuan yang bagus pada bidang lain.
Memahami puisi berari juga merupakan upaya untuk mengapresiasi karya tersebut.
Proses ini tentunya bukan merupakan pekerjaan mudah jika kita melihatnya dari sudut tertentu
saja. Abdul Rahman (1981:19) membagi skope apresiasi menjadi tiga. Yaitu aspek kognitif,
aspek emosional dan aspek evaluatif.
Aspek kognitif meliputi pemahaman masalah teoritis, prinsip-prinsip intrinsic dasar yang
siknifikan dengan karya sastra tersebut. Indikator dari aspek ini adalah menemukan
danmmamahami masalah teoritis dan prinsip-prinsid dasar sebuah karya yang diantaranya adalah
sudut pandang, seting dan lainnya.
Pada aspek emosional, siswa bisa mempengaruhi nilai estetika dari sebuah karya sastra.
Sementara pada aspek evaluatif, kemampuan siswa meliputi pemberikan nilai dan apresiasi
terhadap nilai estetika yang siknifikan terhadap karya sastra tersebut.
Pengajaran Puisi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Dalam banyak buku teks Bahasa Inggris yang dipakai di sekolah, penulis menemukan
fakta bahwa puisi sangat jarang ditemui di dalamya. Seandainya ditemukan dalam sebuah buku,
puisi tersebut dipakai sebaih materi tambahan atau just for fun activity. Sangat jarang ditemui
puisi dipergunakan sebagai bahan ajar utamanya.
Bila kita melihat kurikulum yang sedang dipakai sekarang yaitu Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), guru mempunyai banyak ruang untuk menggunakan puisi sebagai
bahan ajar. Jenis-jenis teks yang harus dipelajari pada tingkat SMP beberapa diantaranya juga
memungkinkannya. Diantara narrative text, descriptive text, recount text, report text dan
procedure text, memang kita tidak mungkin menggunakannya semua. Tapi paling tidak salah
satu jenisnya, yaitu descriptive text bisa kita manfaatkan.
Maher (1982:18) memaparkan bahwa puisi bisa kita maksimalkan untuk mengajarkan
keempat kemampuan berbahasa sekaligus. Pada kemampuan membaca (reading), puisi
memungkinkan siswa untuk melakukan pemahaman dengan isi yang ada, menginterpretasikan,
membuat teori-teori serta merasakannya. Hal ini disebabkan puisi adalah sumber yang efektif
dari makna structural dan leksikal. Seperti diketahui proses membaca adalah proses pemahaman.
Dan proses pemahaman dalam puisi bisa dikatakan sebagai bentuk analisa. Sementara itu,
menganalisa puisi berarti mengungkapkan sejumlah pertanyaan yang relevan. Jadi dengan proses
membaca puisi ini siswa dihadapkan pada proses yang sangat penting yaitu pemahaman dan
analisa sekaligus.
Pada kegiatan membaca, guru bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang relevan
sehingga pada akhirnya siswa akan mendapatkan gagasan tentang puisi yang sedang mereka
pelajari. Pertanyaan yang diberikan haruslah disesuaikan dengan tujuan utama menggunakan
puisi tersebut dalam pengajaran. Apakah untuk mendapatkan informasi rinci yang tersedian di
dalammya ataukah menganalisanya sebagai bentuk karya sastra. Tujuan yang terakhir tersebut
tentunya bisa dikatakan terlalu demanding untuk siswa ditingkat lanjutan pertama. Jadi gurulah
yang nantinya menjadi penentu kearah mana kegiatan dibawa.
Kemampuan kedua yang bisa dilakukan dengan puisi adalah menulis (writing). Maher
menyadari bahwa menulis puisi apalagi dengan menggnakan bahasa asing (Bahasa Inggris) bisa
dianggap sebagai kegiatan yang terlalu tinggi bagi siswa. Hal ini karena kemampuan yang
dilibatkan meliputi kemampuan yang kompleks. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan di kelas.
Kegiatan ini dianggap kegiatan yang menyenangkan dan dapat dilakukan oleh semuanya
termasuk siswa dengan kemampuan terbatas.
Kemampuan selanjutnya adalah berbicara dan menyimak (speaking and listening).
Sebuah puisi haruslah dibaca dengan keras, bukan dibaca dalam hati. Hal ini karena puisi adalah
salah satu bentuk seni verbal dan untuk memahaminya kadang kita harus melakukannya dengan
mengacu pada saat ditampilkan. Sehingga aliterasi, ritme, intonasi, asonansi serta jedah yang
digunakan dalam membaca puisi dapat membantu siswa mendapatkan kesan serta pemahaman
yang baik tentang pola ucapan yang benar dalam Bahasa Inggris. Pada konteks ini ketrampilan
menyimak dan berbicara bisa dilakukan secara bersamaan.
Bagaimana dengan pengajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan puisi sebagai bahan
ajarnya? Beberapa petunjuk yang dipaparkan oleh Simanjuntak (1988:21) tentang pengajaran
membaca (reading) pada konteks tertentu berikut akan memberikan ide bagi kita semua.
Diantara petunjuk itu diantaranya adalah:
Gunakan kosakata (vocabulary) dan konsep yang didapat dari area yang sesuai dengan
level siswa. Guru harus mampu membedakan antara drill dan latihan yang ditujukan
sebagai bahan ajar dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai basa asing (English as a
Foreign Language) ini.
Pertimbangakan apa yang seharusnya siswa kuasai pada akhir kegiatan belajar.
Persiapkan kerangka (outline) yang akan dilakukan di dalam kelas.
Teliti alur dan integritas materi secara bertahap.
Sediakan bermacam kegiatan kelas yang mungkin dilakukan.
Evaluasi rencana pembelajaran tersebut.
Dari petunjuk-petunjuk yang terpapar di atas, penulis ingin menggarisbawahi item
pertama, yaitu menggunakan kosakata yang sesuai dengan konsep dan level kemampuan siswa.
Hal inilah yang dirasakan paling penting serta memegang peranan dalam kesuksesas kita
menggunakan puisi sebagai bahan ajar. Guru haruslah sangat selektif memilih puisi sehingga
bahan ajar tidak akan terlalu tinggi ataupun sebaliknya.
Memang puisi adalah sebuah karya sastra yang identik dengan membaca. Padahal
membaca puisi berarti pemahaman itu sendiri. Jadi tidaklah heran bila penggunaan puisi dalam
pengajaran Bahasa Inggris lebih banyak diarahkan pada kemampuan membaca (reading).
Sehingga beberapa guideline yang terpampang di atas lebih terasa kemampuan membacanya.
Simanjuntak menambahkan,guru juga perlu menghindarai hal-hal berikut bila mengajar
di kelas (1988: 21). Hal-hal tersebut seperti mengharapkan siswa melakukan kegiatan dimana
meeka tidak dibekali dengan pengetahuan atau kemampuan pendukungnya. Bila kita melihat
saran ini, tentulah tahapan pembelajaran Bahasa Inggris pertama baik siklus lisan ataupun
siklus tulis yaitu building knowledge of the field tentulah mempunyai peranan yang sangat
menentukan. Kita bisa memaksimalkan apa yang seharusnya siswa ketahui dulu sebelum
melangkah pada tahap content seharusnya.
Hal kedua yang harus dihindari guru adalah mengasumsikan bahwa penampilan siswa
aka sempurna dan seperti penutur asli bahwa jika mereka telah dipersiapakan sebelumnya.
Tentunya tidaklah bijaksana kita mengharapkan hasil yang sempurna dalam kegiatan di dalam
kelas. Kemampuan siswa yang bervariasi serta daya tangkap pembelajaran yang berbeda-beda
pula akan mempengaruhi hal ini.
Guru juga harus menghindari cara memposisikan diri di luar ranah pembelajaran dengan
tidak menghubungkan aspek-aspek bahasa yang ada. Pembelajaran puisi memang salah satu
pembelajaran aspek sastra. Walaupun demikian kita tetaplah berada pada lingkup bahasa.
Apalagi dalam pembelajaran ini puisi adalah sarana atau bahan pembelajaran yang mungkin
hanya bagian yang teramat kecil dari materi-materi lain yang dipergunakan. Dengan kata lain
puisi bukanlah materi yang tiap hari dipilih dan digunakan guru dalam pembelakaran Bahasa
Inggris
.
Penutup
Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa menggunakan puisi di dalam kelas bukanlah hal
perlu dihindari lagi. Kita tentunya sangat menginginkan kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris di
dalam kelas bisa lebih berwarna dan bervariasi. Siswapun akan merasakan dampaknya kita kita
mampu melakukannya. Kemungkinan yang lain adalah bila ada diantara siswa kita yang
mempunyai minat dan bakat dalam sastra terutama puisi, tentunya minat mereka akan
mendapatkan perhatian. Hasilnya kemampuan mereka akan terarah dengan karena kita
memberikan bekal pengetahuan yang mendukung.
Adalah guru yang mempunyai kewenangan menciptakan suasana kelas yang kondusif
atau sebaliknya. Penggunaan puisi sebagai bahan ajar salah salah satu upaya untuk menciptakan
proses pembelajaran yang lebih bervariasi untuk siswa. Dengan cara ini diharapkan siswa akan
mampu mengembangkan ketrampilan berbahasa asingnya dengan lebih baik pula
Daftar Bacaan
Birk dan Birk. 1965. Understanding and Using English. New York: The Odyssey Press Inc.
Conomy, George. 1967. Enjoying Literature. Sidney: Whitcombe & Tombs PTY. Ltd
Darma, Budi. 1993. Perihal Studi Sastra, PRASASTI, nomor 9 tahun III Januari 1993, 1-13.
Surabaya: Unipress IKIP Surabaya.
Maher, John C. 1982. Poetry for Intstructional Purposes: Aunthenticity and Aspects of
Performance, FORUM, volume XX number 1 January 1982, 17-21
Rahman, Abdul. 1981. Kemampuan Apresiasi Sastra Murid SMA Jatim. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Reaske, C R. 1966. How to Analize Poetry. United States: Monarch Press
Sayuti, Suminto A. 1985. Puisi dan Pengajarannya (Sebuah Pengantar). Semarang: IKIP
Semarang Press
Simanjuntak, E G. 1988. Developing Reading Skill for EFL Students. Jakarta: Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan.
Tedjasudhana, L D. 1988. Developing Critical Reading Skill for Information and
Enjoyment. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan tenaga Kependidikan.
1
Perpustakaan Sebagai Sarana Penunjang
Tercapainya Tujuan Pendidikan
Oleh : Hartati, S.Pd.
E-mail : hartati_jombor@yahoo.co.id
A. Pendahuluan
Untuk mempercepat tercapainya tujuan pendidikan diperlukan banyak
sarana dan prasaran, salah satunya adalah tersedianya perpustakaan sekolah yang
memadai. Perpustakaan sekolah mutlak dibutuhkan oleh peserta didik sebab didalam
perpustakaan itulah mereka menemukan banyak pengetahuan dan informasi,
seghingga para peserta didik memiliki wawasan yang luas dan mengembangkan
imajinasi.
Dalam pasal undang-undang Sisdiknas no.2 tahun 1989, ditegaskan bahwa
perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang sangat penting. Sebagai
sumber belajar maka keberadaan perpustakaan di sekolah sangatlah vital.
Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, maka sudah merupakan kewajiban
bagi setiap sekolah untuk mengusahakan perpustakaan yang ideal untuk kepentingan
kegiatan belajar mengajar bagi peserta didik maupun guru. Perpustakaan yang ideal di
sekolah dapat memberikan banyak informasi, merupakan sumber pengetahuan dan
inspirasi bagi semua yang mau memanfaatkannya, sehingga tujuan pendidikan akan
segera terwujud.
B. Perpustakaan Sekolah dan Proses Belajar Mengajar
Kita melihat kemajuan dunia yang berputar semakin pesat, teknologi
semakin maju dan pembangunan yang hebat telah dikerjakan oleh sementara orang.
Dalam hal ini manusia bukan sekedar sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai
subjek pembangunan. Untuk itu melalui profesi perpustakaan kita ikut ambil bagian
dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Pembanguan adalah masalah teknologi. Dan teknologi adalah informasi.
Sedangkan informasi adalah masalah perpustakaan. Demikianlah urutan yang dapat
kami simpulkan. Tidak mungkin kita memiliki teknologi canggih kalau kita tidak
memiliki informasinya. Semakin maju teknologi, semakin banyak informasi yang kita
2
perlukan. Informasi dari berbagi teknologi yang kita perlukan dalam pembangunan
tersebut harus menyertainya, kalau tidak teknologi tersebut akan cacat. Dan jika
demikian pembangunan akan gagal. Kita mamiliki sebuah televise yang canggih,
tetapi tidak ada informasi yang menyertainya, kemungkinan kita akan memperoleh
kesulitan kalau ingin mengganti sparepart, atau ingin memainkan video, karena buku
petunjuknya tidak ada. Karena itu informasi harus menyertai sebuah teknologi.
Kadang-kadang kita enggan menyimpan informasi demi informasi, sebab kalau kita
kumpulkan semakin banyak semakin menjadi beban. Sebaiknya berbagi informasi itu
dikumpulkan di sebuah tampat yang disebut sebagi perpustakaan. Sumber informasi
di perpustakaan diolah dan diatur sehingga mudah menemukan kembali untuk
dipakai, walaupun perpustakaan masih kecil sumber informasinya tetap kita olah
sesuai dengan standar, dan akhirnya jika perpustakaan menjadi besar, layanan akan
tetap baik dan lancar.
Dalam hal ini kita sorot keberadaan perpustakaan sekolah, sebagai suatu
lembaga yang akan memberikan dasar dari segala dasar. Perpustakaan sekolah
diharapkan dapat menemukan kembali mutu pendidikan dasar, menjadi dasar bagi
pendidikan berikutnya atau menjadi bekal utama dalam menempuh kehidupan. Kita
sering mendengar mutu guru yang demikian merosot. Mutu tersebut dapat kita
naikkan jika kita mau menengok ke perpustakaan, disana ada harapan. Dari
perpustakaan sekolah ini diharapkan guru mau belajar lagi membaca apa yang
berhubungan dengan masalah belajar mengajar. Berbagi metode mengajar yang paling
efektif untuk masa kini. Di perpustakaan sekolah anak dapat mengembangkan minat
mereka, mencari bacaan yang memperkaya pengalaman melalui bacaaan yang
tersedia. Melalui perpustakaan sekolah diharapkan anak dapat mengembangkan
ketrampilan untuk mencari informasi guna keperluan mereka secara mandiri. Mereka
kita berikan wawasan mengenai “era informasi”, “era globalisasi”. Kita berikan cara
mengatasi hidup di dalam kedua era tersebut.dan dalam hal ini perpustakaan
menjawab kedua tantangan tersebut.
C. Tugas dan Fungsi Perpustakaan Sekolah dan Proses Belajar Mengajar
Secara garis besar tugas dan fungsi perpustakaan sekolah adalah sebagi
berikut :
a. Sebagai pusat belajar mengajar. Perustakaan sekolah berfungsi membantu
program pendidikan pada umumnya sesuai dengan tujuan kurikulum
3
masing-masing. Mengembangkan kemampuan anak mengembangkan
sumber informasi. Bagi guru, perpustakaan sekolah merupakan tempat untuk
membantu guru mengajar dan memperkaya pengetahuan.
b. Membantu anak didik memperjelas dan memperluas pengtahuannya tentang
suatu pelajaran di kelas.
c. Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca yang menuju
ke kebiasaan belajar mandiri.
d. Membantu anak untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemarannya.
e. Membiasakan anak untuk mencari informasi di perpusakaan akan
menolongnya kelak dalam pelajaran selanjutnya.
f. Perustakaan sekolah merupakan tempat memperoleh bahan rekreasi sehat,
melalui buku-buku bacaan fiksi.
g. Perpustakaan sekolah memperluas kesempatan belajar bagi anak didik.
Semua keterangan di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tanpa
perpustakaan tidak mungkin proses belajar mengajar berjalan lancar. Bahan bacaan
yang paling murah adalah yang disediakan oleh perpustakaan, tidak disediakan
masing-masing siswa. Dengan adanya perpustakaan sekolah, anak belajar hidup
bersama, bekerja sama dengan teman mereka dengan bimbingan dari guru. Mereka
akan bisa menghargai milik orang lain, yaitu harta milik perpustakaan. Dengan
perpustakaan, gru dapat meningkatkan pengajaran dengan bahan yang ada di
perpustakaan.
D. Peranan Perpustakaan Sekolah Dalam Menunjang Kurikulum
Tugas dan fungsi perpustakaan sekolah tidak boleh menyimpang dari tugas
dan fungsi di mana perpustakaan itu bernaung.
Pada jaman dahulu tugas utama dari sekolah adalah melatih kemahiran
dalam mata pelajaran tertentu. Untuk tiap-tiap mata pelajaran disediakan buku-buku
pelajaran. Seluruh program dan organisasi sekolah serta metode mengajar dan alatalat
pelajaran ditujukan untuk mencapai taraf kemahiran yang telah ditentukan. Bukubuku
pelajaran memainkan peran penting dalam system ini. Buku dan sumber
pengetahuan lain tiadak dirasa perlu, sebab buku pelajaran sudah dianggap cukup
mencakup segala sesuatu yang perlu diketahui anak. Mengajar adalah menguasai
kepada anak untuk mempelajari halaman demi halaman buku pelajaran itu. Dan tidak
jarang guru menyuruh untuk menghafal bagian tertentu dari buku pelajaran tersebut.
4
Perpustakaan yang berisikan berbagai jenis sumber pengetahuan dan diatur dalam
ruang khusus, tidak dirasa perlu; kalaupun ada buku-buku gunanya hanya sekedar
persediaan untuk bacaan berupa hiburan. Jenis dan ruang lingkup buku tidak
ditentukan dengan seksama. Para pelajar diperbolehkan meminjam buku-buku, tetapi
tidak diatur dan diharuskan memakai buku-buku untuk menambah pengetahuan
mereka.
Cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang dewasa ini
membuat manusia sadar, bahwa tugas sekolah tidak cukup melatih ingatan dan
kemahiran dalam beberapa mata pelajaan saja. Isi pelajaran tidak bisa lagi dibatasi
kepada isi buku pelajaran dan metode mengajar tidak cukup berdasarkan hafalan dan
ingatan, pendidikan bukan hanya menyampaikan dari mutu dan buku pelajaran kepada
anak didik, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak didik untuk ikut aktif
dalam usaha membuka pikirannya dan membiasakan dia memperkaya pengetahuan
dengan usaha sendiri. Pendidikan di jaman sekarang menginginkan agar semata-mata
pelajaran sebanyak mungkin diintegrasikan. Batas antara mata pelajaran yang satu
dengan yang lain makin kabur, dan terkadang hilang. Kurikulum tidak lagi dianggap
sebagai seri mata-mata pelajaran yang mempunyai batas isi antara yang satu dengan
yang lain.
Isi pelajaran haruslah lebih mendekati pengalaman-pengalaman hidup yang
sebenarnya agar tiap-tiap anak lebih mampu lagi mampersiapkan diri untuk hari
kemudian. Pelajaran harus mengikuti arah perkembangan anak didik dan pendidikan
modern lebih banyak memperhatikan bakat individual anak-anak. Tetapi ada beberapa
bidang pengetahuan dan kemahiran yang dianggap wajib dikuasai oleh tiap-tiap anak
dan sekolah-sekolah harus mengajarkan mata pelajaran inti kepada tiap anak. Setelah
para pelajar makin tinggi kelasnya masing-masing sebaiknya sudah mampu memupuk
bakat-bakat tertentu yang mereka miliki dan memperluas pengetahuan di bidang yang
sesuai dengan bakat-bakat masing-masing. Kurikulum yang sudah hidup dan dinamis,
serta proses belajar yang berdasarkan integrasi dan koordinasi ini memerlukan
sumber-sumber pengetahuan yang luas dan beraneka ragam : buku pelajaran, buku
bacaan, berkala, pamphlet, gambar, peta, guntingan surat kabar dan bahan audio
visual.
Perpustakaan sekolah diadakan bukan lagi sekedar melayani selera pelajar
untuk membaca buku-buku pelipur lara perpustakaan itu harus mampu membantu
pelajar mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan, dan melahirkan
5
kecekatan. Perpustakaan itu harus mampu mendorong anak-anak dalam aktifitas
kulikuler dan ekstrakulikuler. Dengan kata lain perpustakaan sekolah merupakan satu
kesatuan integral dengan alat-alat pendidikan yang lain. Koleksi yang lengkap serta
variasi subjek yang cukup, memperluas kesempatan pada pemakainya untuk
menambah cakrawala pengetahuannya.
Sebuah perpustakaan yang baik, dapat memberikan latihan kepada pelajar
cara-cara mencari dan menemukan informasi dalam perpustakaan yang walau bagai
mana besarnya. Mereka akan mendapatkan ketrampilan menemukan, menjaring dan
menilai informasi. Kemampuan mereka menarik kesimpulan yang tepat akan terbina.
Ketrampilan-ketrampilan ini sangat berguna bagi anak didik di hari kemudian.
Kebiasaan belajar sendiri memakai buku, majalah dan bahan pustaka yang lain akan
membawa manfaat besar dalam hidupnya. Dunia yang cepat maju menginginkan agar
orang jangan berhenti belajar setelah meninggalkan bangku sekolah. Penemuanpenemuan
baru setiap tahun menambah pengetahuan manusia dan ikut merubah
hidupnya dan kita mau tidak mau harus berusaha mendapatkannya, bukan hanya
mengikuti perubahan-perubahan itu, tetapi juga ikut membneri sumbangan terhadap
kemajuan manusia.
E. Guru Pustakawan dan Tugasnya
Guru pustakawan hendaknya mampu menyebarluaskan isi dan pencapaian
tugas perpustakaan, membina dan mengembangkan minat baca anak. Sekolah
merupakan alat untuk meletakkan dasar-dasar dan citra yang sebenarnya mengenai
perpustakaan. Sekolah juga merupakan tempat pesemaian minat dan kebiasaan
membaca yang sangat potensial bagi anak-anak. Guru pustakawan hendaknya
terampil dan mempunyai kemauan untuk membantu orang lain. Guru senior atau
wakil kepala sekolah kiranya sangat tepat untuk koordinator ini.
Besar kecilnya hasil yang dicapai oleh perpustakaan terganung sifap-sifap
guru pada sekolah tersebut. Perpustakaan dapat memberi kesan hidup bila petugasnya
mencintai pekerjaannya, tahu seluk beluknya, mengerti perannya dalam pendidikan
modern, dapat menyelami jiwa anak-anak, dapat membuat warga sekolah merasa
bahwa perpustakaan itu ada di sekolah untuk melayani keperluan intelektual, moral
dan kultural mereka.
Perpustakaan ini dapat cepat tumbuh, bila kepala sekolah dan guru serta
murid-murid merasa bahwa persoalan perpustakaan itu adalah tanggung jawab
6
bersama. Peran guru haruslah pandai membawakan peranan perpustakaan itu agar
betul-betul menjadi darah daging system pendidikan dan pengajaran,, dan bukan
bagian yang terpisah berdiri sendiri. Organisasi, rencana dan aktifitas perpustakaan itu
haruslah tertuju kepada maksud ini.
Guru pustakawan seharusnya mengetahui rencana pelajaran sekolah agar ia
dapat membantu guru-guru dan pelajar-pelajar. Ia harus menanamkan kebiasaan
membaca buku-buku ilmiah dan juga buku hiburan. Ia juga harus pandai menciptakan
suasana ruang atau tempat perpustakaan yang menyenangkan, sehingga para pemakai
merasa betah membaca dan belajar di perpustakaan.
Dengan kebijaksanaan, petugas perpustakaan haruslah pandai menanamkan
tanggung jawab kepada anak-anak agar mereka ikut bekerja sama menjaga agar aturan
tata tertib perpustakaan jangan dilanggar. Disiplin dalam perpustakaan baiknya dating
dari hati sanubari anak-anak sendiri, jangan karena tekanan dan teguran atau
hukuman.
Bakat-bakat dengan pengetahuan perlu sekali, tetapi agar perpustakaan
efektif dapat dipakai, jangan sampai kacau dan jangan sampai hilang buku-bukunya.
Diperlukan teknik pengendalian perpustakaan, pengetahuan teknik yang seksama
perlu sekali jika jumlah buku-buku sudah mencapai jumlah ribuan. Koleksi
perpustakaan di bawah seribu dapat memakai system sederhana.
F. Kesimpulan
Dengan terciptanya Undang-Undang No.2 tahun 1989, kita memasuki era
pendidikan modern. Pada pendidikan yang modern, tidak mungkin sebuah sekolah
sebagai penyelenggara pendidikan tanpa memiliki perpustakaan. Tanpa adanya
perpustakaan, pendidikan tetap berjalan akan tetapi tidak akan mampu menciptakan
manusia Indonesia seutuhnya yang merupakan tujuan pendidikan kita.
Manusia Indonesia seutuhnya ialah manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta
rasa tangguang jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan adanya perpustakaan sekolah, diharapkan dapat menarik peserta
didik untuk lebih banyak membaca, sehingga mereka dapat mengembangkan
imajinasi dan memiliki wawasan luas karena di dalam perpustakaan mereka dapat
7
menemukan banyak informasi dan pengetahuan. Dengan demikian tujuan pendidikan
kita akan segera terwujud.
G. Daftar Pustaka
- Ahmad Saleh, Ibnu, 1987, Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah, Jakarta,
Hidakarya Agung.
- Depdikbud, 1996, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Perpustakaan Lanjutan
Tingkat Pertama, Jakarta, Depdikbud.
- Depdikbud Prop. Jateng, 2000, Organisasi Dan Tata Laksana Perpustakaan
(Materi Pelatihan Perpustakaan), Jawa Tengah.
- Soeatminah, 1992, Perpustakaan Dan Pustakawan, Yogyakarta, Kanisius.
- Tim, 2003, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003,
Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, PT. Kolan Klede Putra Timur.
- Tim Penyusun Kamus Pusat Jakarta, 2001, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Edisi ke Tiga, Jakarta, Balai Pustaka.
Perpustakaan Sebagai Sarana Penunjang
Tercapainya Tujuan Pendidikan
Oleh : Hartati, S.Pd.
E-mail : hartati_jombor@yahoo.co.id
A. Pendahuluan
Untuk mempercepat tercapainya tujuan pendidikan diperlukan banyak
sarana dan prasaran, salah satunya adalah tersedianya perpustakaan sekolah yang
memadai. Perpustakaan sekolah mutlak dibutuhkan oleh peserta didik sebab didalam
perpustakaan itulah mereka menemukan banyak pengetahuan dan informasi,
seghingga para peserta didik memiliki wawasan yang luas dan mengembangkan
imajinasi.
Dalam pasal undang-undang Sisdiknas no.2 tahun 1989, ditegaskan bahwa
perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang sangat penting. Sebagai
sumber belajar maka keberadaan perpustakaan di sekolah sangatlah vital.
Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, maka sudah merupakan kewajiban
bagi setiap sekolah untuk mengusahakan perpustakaan yang ideal untuk kepentingan
kegiatan belajar mengajar bagi peserta didik maupun guru. Perpustakaan yang ideal di
sekolah dapat memberikan banyak informasi, merupakan sumber pengetahuan dan
inspirasi bagi semua yang mau memanfaatkannya, sehingga tujuan pendidikan akan
segera terwujud.
B. Perpustakaan Sekolah dan Proses Belajar Mengajar
Kita melihat kemajuan dunia yang berputar semakin pesat, teknologi
semakin maju dan pembangunan yang hebat telah dikerjakan oleh sementara orang.
Dalam hal ini manusia bukan sekedar sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai
subjek pembangunan. Untuk itu melalui profesi perpustakaan kita ikut ambil bagian
dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Pembanguan adalah masalah teknologi. Dan teknologi adalah informasi.
Sedangkan informasi adalah masalah perpustakaan. Demikianlah urutan yang dapat
kami simpulkan. Tidak mungkin kita memiliki teknologi canggih kalau kita tidak
memiliki informasinya. Semakin maju teknologi, semakin banyak informasi yang kita
2
perlukan. Informasi dari berbagi teknologi yang kita perlukan dalam pembangunan
tersebut harus menyertainya, kalau tidak teknologi tersebut akan cacat. Dan jika
demikian pembangunan akan gagal. Kita mamiliki sebuah televise yang canggih,
tetapi tidak ada informasi yang menyertainya, kemungkinan kita akan memperoleh
kesulitan kalau ingin mengganti sparepart, atau ingin memainkan video, karena buku
petunjuknya tidak ada. Karena itu informasi harus menyertai sebuah teknologi.
Kadang-kadang kita enggan menyimpan informasi demi informasi, sebab kalau kita
kumpulkan semakin banyak semakin menjadi beban. Sebaiknya berbagi informasi itu
dikumpulkan di sebuah tampat yang disebut sebagi perpustakaan. Sumber informasi
di perpustakaan diolah dan diatur sehingga mudah menemukan kembali untuk
dipakai, walaupun perpustakaan masih kecil sumber informasinya tetap kita olah
sesuai dengan standar, dan akhirnya jika perpustakaan menjadi besar, layanan akan
tetap baik dan lancar.
Dalam hal ini kita sorot keberadaan perpustakaan sekolah, sebagai suatu
lembaga yang akan memberikan dasar dari segala dasar. Perpustakaan sekolah
diharapkan dapat menemukan kembali mutu pendidikan dasar, menjadi dasar bagi
pendidikan berikutnya atau menjadi bekal utama dalam menempuh kehidupan. Kita
sering mendengar mutu guru yang demikian merosot. Mutu tersebut dapat kita
naikkan jika kita mau menengok ke perpustakaan, disana ada harapan. Dari
perpustakaan sekolah ini diharapkan guru mau belajar lagi membaca apa yang
berhubungan dengan masalah belajar mengajar. Berbagi metode mengajar yang paling
efektif untuk masa kini. Di perpustakaan sekolah anak dapat mengembangkan minat
mereka, mencari bacaan yang memperkaya pengalaman melalui bacaaan yang
tersedia. Melalui perpustakaan sekolah diharapkan anak dapat mengembangkan
ketrampilan untuk mencari informasi guna keperluan mereka secara mandiri. Mereka
kita berikan wawasan mengenai “era informasi”, “era globalisasi”. Kita berikan cara
mengatasi hidup di dalam kedua era tersebut.dan dalam hal ini perpustakaan
menjawab kedua tantangan tersebut.
C. Tugas dan Fungsi Perpustakaan Sekolah dan Proses Belajar Mengajar
Secara garis besar tugas dan fungsi perpustakaan sekolah adalah sebagi
berikut :
a. Sebagai pusat belajar mengajar. Perustakaan sekolah berfungsi membantu
program pendidikan pada umumnya sesuai dengan tujuan kurikulum
3
masing-masing. Mengembangkan kemampuan anak mengembangkan
sumber informasi. Bagi guru, perpustakaan sekolah merupakan tempat untuk
membantu guru mengajar dan memperkaya pengetahuan.
b. Membantu anak didik memperjelas dan memperluas pengtahuannya tentang
suatu pelajaran di kelas.
c. Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca yang menuju
ke kebiasaan belajar mandiri.
d. Membantu anak untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemarannya.
e. Membiasakan anak untuk mencari informasi di perpusakaan akan
menolongnya kelak dalam pelajaran selanjutnya.
f. Perustakaan sekolah merupakan tempat memperoleh bahan rekreasi sehat,
melalui buku-buku bacaan fiksi.
g. Perpustakaan sekolah memperluas kesempatan belajar bagi anak didik.
Semua keterangan di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tanpa
perpustakaan tidak mungkin proses belajar mengajar berjalan lancar. Bahan bacaan
yang paling murah adalah yang disediakan oleh perpustakaan, tidak disediakan
masing-masing siswa. Dengan adanya perpustakaan sekolah, anak belajar hidup
bersama, bekerja sama dengan teman mereka dengan bimbingan dari guru. Mereka
akan bisa menghargai milik orang lain, yaitu harta milik perpustakaan. Dengan
perpustakaan, gru dapat meningkatkan pengajaran dengan bahan yang ada di
perpustakaan.
D. Peranan Perpustakaan Sekolah Dalam Menunjang Kurikulum
Tugas dan fungsi perpustakaan sekolah tidak boleh menyimpang dari tugas
dan fungsi di mana perpustakaan itu bernaung.
Pada jaman dahulu tugas utama dari sekolah adalah melatih kemahiran
dalam mata pelajaran tertentu. Untuk tiap-tiap mata pelajaran disediakan buku-buku
pelajaran. Seluruh program dan organisasi sekolah serta metode mengajar dan alatalat
pelajaran ditujukan untuk mencapai taraf kemahiran yang telah ditentukan. Bukubuku
pelajaran memainkan peran penting dalam system ini. Buku dan sumber
pengetahuan lain tiadak dirasa perlu, sebab buku pelajaran sudah dianggap cukup
mencakup segala sesuatu yang perlu diketahui anak. Mengajar adalah menguasai
kepada anak untuk mempelajari halaman demi halaman buku pelajaran itu. Dan tidak
jarang guru menyuruh untuk menghafal bagian tertentu dari buku pelajaran tersebut.
4
Perpustakaan yang berisikan berbagai jenis sumber pengetahuan dan diatur dalam
ruang khusus, tidak dirasa perlu; kalaupun ada buku-buku gunanya hanya sekedar
persediaan untuk bacaan berupa hiburan. Jenis dan ruang lingkup buku tidak
ditentukan dengan seksama. Para pelajar diperbolehkan meminjam buku-buku, tetapi
tidak diatur dan diharuskan memakai buku-buku untuk menambah pengetahuan
mereka.
Cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang dewasa ini
membuat manusia sadar, bahwa tugas sekolah tidak cukup melatih ingatan dan
kemahiran dalam beberapa mata pelajaan saja. Isi pelajaran tidak bisa lagi dibatasi
kepada isi buku pelajaran dan metode mengajar tidak cukup berdasarkan hafalan dan
ingatan, pendidikan bukan hanya menyampaikan dari mutu dan buku pelajaran kepada
anak didik, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak didik untuk ikut aktif
dalam usaha membuka pikirannya dan membiasakan dia memperkaya pengetahuan
dengan usaha sendiri. Pendidikan di jaman sekarang menginginkan agar semata-mata
pelajaran sebanyak mungkin diintegrasikan. Batas antara mata pelajaran yang satu
dengan yang lain makin kabur, dan terkadang hilang. Kurikulum tidak lagi dianggap
sebagai seri mata-mata pelajaran yang mempunyai batas isi antara yang satu dengan
yang lain.
Isi pelajaran haruslah lebih mendekati pengalaman-pengalaman hidup yang
sebenarnya agar tiap-tiap anak lebih mampu lagi mampersiapkan diri untuk hari
kemudian. Pelajaran harus mengikuti arah perkembangan anak didik dan pendidikan
modern lebih banyak memperhatikan bakat individual anak-anak. Tetapi ada beberapa
bidang pengetahuan dan kemahiran yang dianggap wajib dikuasai oleh tiap-tiap anak
dan sekolah-sekolah harus mengajarkan mata pelajaran inti kepada tiap anak. Setelah
para pelajar makin tinggi kelasnya masing-masing sebaiknya sudah mampu memupuk
bakat-bakat tertentu yang mereka miliki dan memperluas pengetahuan di bidang yang
sesuai dengan bakat-bakat masing-masing. Kurikulum yang sudah hidup dan dinamis,
serta proses belajar yang berdasarkan integrasi dan koordinasi ini memerlukan
sumber-sumber pengetahuan yang luas dan beraneka ragam : buku pelajaran, buku
bacaan, berkala, pamphlet, gambar, peta, guntingan surat kabar dan bahan audio
visual.
Perpustakaan sekolah diadakan bukan lagi sekedar melayani selera pelajar
untuk membaca buku-buku pelipur lara perpustakaan itu harus mampu membantu
pelajar mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan, dan melahirkan
5
kecekatan. Perpustakaan itu harus mampu mendorong anak-anak dalam aktifitas
kulikuler dan ekstrakulikuler. Dengan kata lain perpustakaan sekolah merupakan satu
kesatuan integral dengan alat-alat pendidikan yang lain. Koleksi yang lengkap serta
variasi subjek yang cukup, memperluas kesempatan pada pemakainya untuk
menambah cakrawala pengetahuannya.
Sebuah perpustakaan yang baik, dapat memberikan latihan kepada pelajar
cara-cara mencari dan menemukan informasi dalam perpustakaan yang walau bagai
mana besarnya. Mereka akan mendapatkan ketrampilan menemukan, menjaring dan
menilai informasi. Kemampuan mereka menarik kesimpulan yang tepat akan terbina.
Ketrampilan-ketrampilan ini sangat berguna bagi anak didik di hari kemudian.
Kebiasaan belajar sendiri memakai buku, majalah dan bahan pustaka yang lain akan
membawa manfaat besar dalam hidupnya. Dunia yang cepat maju menginginkan agar
orang jangan berhenti belajar setelah meninggalkan bangku sekolah. Penemuanpenemuan
baru setiap tahun menambah pengetahuan manusia dan ikut merubah
hidupnya dan kita mau tidak mau harus berusaha mendapatkannya, bukan hanya
mengikuti perubahan-perubahan itu, tetapi juga ikut membneri sumbangan terhadap
kemajuan manusia.
E. Guru Pustakawan dan Tugasnya
Guru pustakawan hendaknya mampu menyebarluaskan isi dan pencapaian
tugas perpustakaan, membina dan mengembangkan minat baca anak. Sekolah
merupakan alat untuk meletakkan dasar-dasar dan citra yang sebenarnya mengenai
perpustakaan. Sekolah juga merupakan tempat pesemaian minat dan kebiasaan
membaca yang sangat potensial bagi anak-anak. Guru pustakawan hendaknya
terampil dan mempunyai kemauan untuk membantu orang lain. Guru senior atau
wakil kepala sekolah kiranya sangat tepat untuk koordinator ini.
Besar kecilnya hasil yang dicapai oleh perpustakaan terganung sifap-sifap
guru pada sekolah tersebut. Perpustakaan dapat memberi kesan hidup bila petugasnya
mencintai pekerjaannya, tahu seluk beluknya, mengerti perannya dalam pendidikan
modern, dapat menyelami jiwa anak-anak, dapat membuat warga sekolah merasa
bahwa perpustakaan itu ada di sekolah untuk melayani keperluan intelektual, moral
dan kultural mereka.
Perpustakaan ini dapat cepat tumbuh, bila kepala sekolah dan guru serta
murid-murid merasa bahwa persoalan perpustakaan itu adalah tanggung jawab
6
bersama. Peran guru haruslah pandai membawakan peranan perpustakaan itu agar
betul-betul menjadi darah daging system pendidikan dan pengajaran,, dan bukan
bagian yang terpisah berdiri sendiri. Organisasi, rencana dan aktifitas perpustakaan itu
haruslah tertuju kepada maksud ini.
Guru pustakawan seharusnya mengetahui rencana pelajaran sekolah agar ia
dapat membantu guru-guru dan pelajar-pelajar. Ia harus menanamkan kebiasaan
membaca buku-buku ilmiah dan juga buku hiburan. Ia juga harus pandai menciptakan
suasana ruang atau tempat perpustakaan yang menyenangkan, sehingga para pemakai
merasa betah membaca dan belajar di perpustakaan.
Dengan kebijaksanaan, petugas perpustakaan haruslah pandai menanamkan
tanggung jawab kepada anak-anak agar mereka ikut bekerja sama menjaga agar aturan
tata tertib perpustakaan jangan dilanggar. Disiplin dalam perpustakaan baiknya dating
dari hati sanubari anak-anak sendiri, jangan karena tekanan dan teguran atau
hukuman.
Bakat-bakat dengan pengetahuan perlu sekali, tetapi agar perpustakaan
efektif dapat dipakai, jangan sampai kacau dan jangan sampai hilang buku-bukunya.
Diperlukan teknik pengendalian perpustakaan, pengetahuan teknik yang seksama
perlu sekali jika jumlah buku-buku sudah mencapai jumlah ribuan. Koleksi
perpustakaan di bawah seribu dapat memakai system sederhana.
F. Kesimpulan
Dengan terciptanya Undang-Undang No.2 tahun 1989, kita memasuki era
pendidikan modern. Pada pendidikan yang modern, tidak mungkin sebuah sekolah
sebagai penyelenggara pendidikan tanpa memiliki perpustakaan. Tanpa adanya
perpustakaan, pendidikan tetap berjalan akan tetapi tidak akan mampu menciptakan
manusia Indonesia seutuhnya yang merupakan tujuan pendidikan kita.
Manusia Indonesia seutuhnya ialah manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta
rasa tangguang jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan adanya perpustakaan sekolah, diharapkan dapat menarik peserta
didik untuk lebih banyak membaca, sehingga mereka dapat mengembangkan
imajinasi dan memiliki wawasan luas karena di dalam perpustakaan mereka dapat
7
menemukan banyak informasi dan pengetahuan. Dengan demikian tujuan pendidikan
kita akan segera terwujud.
G. Daftar Pustaka
- Ahmad Saleh, Ibnu, 1987, Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah, Jakarta,
Hidakarya Agung.
- Depdikbud, 1996, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Perpustakaan Lanjutan
Tingkat Pertama, Jakarta, Depdikbud.
- Depdikbud Prop. Jateng, 2000, Organisasi Dan Tata Laksana Perpustakaan
(Materi Pelatihan Perpustakaan), Jawa Tengah.
- Soeatminah, 1992, Perpustakaan Dan Pustakawan, Yogyakarta, Kanisius.
- Tim, 2003, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003,
Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, PT. Kolan Klede Putra Timur.
- Tim Penyusun Kamus Pusat Jakarta, 2001, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Edisi ke Tiga, Jakarta, Balai Pustaka.
Friday, May 16, 2008
makalah
ini saya ambil dari gizi.net siapa tau banyak orang yang butuh makalah ini,smoga bermanfaat...
Dr Widodo Judarwanto SpA
Orang tua si Udin mengeluh, anaknya akhir-akhir ini tidak mau makan di rumah. Selidik punya selidik ternyata uang jajan dan kebiasaan jajan di sekolah semakin bertambah. Kegiatan di sekolah menyita waktu terbesar dari aktifitas keseluruhan anak sehari hari, termasuk aktifitas makan. Makanan jajanan di sekolah ternyata sangat beresiko terjadi cemaran biologis atau kimiawi yang banyak mengganggu kesehatan. Perilaku makan pada anak usia di sekolah tersebut harus dihatikan secara cermat dan hatihati. Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan kualitas anak-anak saat ini. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Tumbuh berkembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantiítas yang baik serta benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Sering timbul masalah terutama dalam pemberian makanan yang tidak benar dan menyimpang. Penyimpangan ini mengakibatkan gangguan pada banyak organ organ dan sistem tubuh anak. Foodborne diseases atau penyakit bawaan makanan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di banyak negara. Penyakit ini dianggap bukan termasuk penyakit yang serius, sehingga seringkali kurang diperhatikan.
PEMBERIAN NUTRISI YANG BAIK DAN BENAR PADA ANAK SEKOLAH
Untuk memberikan makanan yang benar pada anak usia sekolah harus dilihat dari banyak
aspek,seperti ekonomi, sosial ,budaya,agama,disamping aspek medik dari anak itu sendiri. Makanan pada anak usia sekolah harus serasi,selaras dan seimbang. Serasi artinya sesuai dengan tingkat tumbuh kembang anak. Selaras adalah sesuai dengan kondisi ekonomi,sosial budaya serta agama dari keluarga. Sedangkan seimbang artinya nilai gizinya harus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan usia dan jenis bahan makanan seperti kabohidrat, protein dan lemak. Karena besarnya variasi kebutuhan makanan pada masing-masing anak,maka dalam memberikan nasehat makanan pada anak tidak boleh terlalu kaku. Pemberian makanan pada anak tidak boleh dilakukan dengan kekerasan tetapi dengan persuasif dan monitoring terhadap tumbuh kembangnya. Pemberian makan yang baik harus sesuai dengan Jumlah, Jenis dan Jadwal pada umur anak tertentu. Ketiga hal tersebut harus terpenuhi sesuai usia anak secara keseluruhan, bukan hanya mengutamakan jenis tapi melupakan jumlahnya atau sebaliknya memberikan jumlah yang cukup tapi jenisnya tidak sesuai untuk anak. Contoh, pemberian makanan jumlahnya sudah cukup banyak tapi jenis makanannya kurang mengandung nilai gizi yan baik. Pada usia sekolah sudah harus dibagi dalam jenis kelaminnya mengingat kebutuhan mereka yang berbeda. Anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik sehingga mmerlukan kalori yang lebih banyak dibandingkan anak perempuan. Pada usia ini biasanya anak perempuan sudah mengalami masa haid sehingga memerlukan lebih banyak protein, zat besi dari usia sebelumnya. Sarapan pagi bagi anak usia sekolah sangatlah penting, karena waktu sekolah adalah penuh aktifitas yang membutuhkan energi dan kalori yang cukup besar. Untuk sarapan pagi harus memenuhi sebanyak ¼ kalori sehari. Dengan mengkonsumsi 2 potong roti dan telur; satu porsi bubur ayam; satu gelas susu dan buah; akan mendapatkan 300 kalori. Bila tidak sempat sarapan pagi sebaiknya anak dibekali dengan makanan/snack yang berat (bergizi lengkap dan seimbang) misalnya : arem-arem, mi goreng atau roti isi daging. Makan siang biasanya menu makanannya lebih bervariasi karena waktu tidak terbatas. Makan malam merupakan saat makan yang menyenangkan karena bisa berkumpul dengan keluarga.
BAHAYA MAKAN JAJANAN
Pada umumnya kebiasaan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan di kantin atau
warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food. Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Jajanan kaki lima dapat mejawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah, mudah, menarik dan bervariasi. Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah. Sebuah penelitian di Jakarta baru-baru ini menemukan bahwa uang jajan anak sekolah rata-rata sekarang berkisar antara Rp 2000 – Rp 4000 per hari. Bahkan ada yang mencapai Rp 7000. Sekitar 5% anak-anak tersebut membawa bekal dari rumah. Mereka lebih terpapar pada makanan jajanan kaki lima dan mempunyai kemampuan untuk membeli makanan tersebut. Menariknya, makanan jajanan kaki lima menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%, protein 29% dan zat besi 52%. Karena itu dapat dipahami peran penting makanan jajanan kaki lima pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah. Namun demikian, keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi masih dipertanyakan. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella Paratyphi A di 25% - 50% sampel minuman yang dijual di kaki lima. Penelitian lain yang dilakukan suatu lembaga studi di daerah Jakarta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sekolah adalah lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso dengan saus, ketan uli, es sirop, dan cilok. Berdasarkan uji lab, pada otak-otak dan bakso ditemukan borax, tahu goreng dan mie kuning basah ditemukan formalin, dan es sirop merah positif mengandung rhodamin B. Selain cemaran mikrobiologis, cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan kaki lima adalah penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ilegal seperti borax (pengempal yang mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet yang digunakan untuk mayat), rhodamin B ( pewarna merah pada tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil). Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti antara lain kanker dan tumor pada organ tubuh manusia. Belakangan juga terungkap bahwa reaksi simpang makanan tertentu ternyata dapat mempengaruhi fungsi otak termasuk gangguan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perilaku tersebut meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, hiperaktif dan memperberat gejala pada penderita autism. Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP ini menimbulkan gelaja-gejala yang sangat umum seperti pusing, mual, muntah, diare atau bahkan kesulitan Luang air besar. Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari WHO yang mengatur dan mengevaluasi standar BTP melarang penggunaan bahan kimia tersebut pada makanan. Standar ini juga diadopsi oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes no. 722/Menkes/Per/IX/1998.
Wawancara dengan PKL menunjukkan bahwa mereka tidak tahu adanya BTP ilegal pada bahan baku jajanan yang mereka jual. BTP ilegal menjadi primadona bahan tambahan di jajanan kaki lima karena harganya murah, dapat memberikan penampilan makanan yang menarik (misalnya warnanya sangat cerah sehingga menarik perhatian anak-anak) dan mudah didapat. Lebih jauh lagi, kita ketahui bahwa makanan yang dijajakan oleh PKL umumnya tidak dipersiapkan dengan secara baik dan bersih.
Kebanyakan PKL mempunyai pengetahuan yang rendah tentang penanganan pangan yang aman, mereka juga kurang mempunyai akses terhadap air bersih serta fasilitas cuci dan buang sampah. Terjadinya penyakit bawaan makanan pada jajanan kaki lima dapat berupa kontaminasi baik dari bahan baku, penjamah makanan yang tidak sehat, atau peralatan yang kurang bersih, juga waktu dan temperatur penyimpanan yang tidak tepat.
UPAYA PERBAIKKAN
Untuk mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak
aman, perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah, guru, orang tua, murid, serta pedagang. Sekolah dan pemerintah perlu menggiatkan kembali UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Materi komunikasi tentang keamanan pangan yang sudah pernah dilakukan oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan dapat ditingkatkan penggunaannya sebagai alat bantu penyuluhan keamanan pangan di sekolah-sekolah. Perlu diupayakan pemberian makanan ringan atau makan siang yang dilakukan di lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar anak tidak sembarang jajan. Koordinasi oleh pihak sekolah, persatuan orang tua murid dibawah konsultasi dokter sekolah atau Pusat Kesehatan Masyarakat setempat untuk dapat menyajikan makanan ringan pada waktu keluar istirahat yang bisa diatur porsi dan nilai gizinya. Upaya ini tentunya akan lebih murah dibanding anak jajan diluar disekolah yang tidak ada jaminan gizi dan kebersihannya.
Dengan menyelenggarakan kegiatan makanan tambahan tersebut, diharapkan mendapat keuntungan, misalnya : anak sudah ada jaminan makanan disekolah, sehingga orang tua tidak khawatir dengan makanan yang dimakan anaknya disekolah. Ibu yang selalu khawatir biasa memberi bekal makanan pada anaknya. Kalau makanan yang baik dan bergizi tersedia disekolah, akan meringankan tugas ibu. Dalam kegiatan ini bisa pula dikenalkan berbagai jenis bahan makanan yang mungkin tidak disukai anak ketika disajikan dirumah, tetapi akan menerima ketika disajikan disekolah. Dengan demikan anak dapat mengenal aneka bahan pangan.
Banyak studi yang menunjukkan persentase anak sekolah Amerika yang kelebihan berat badan
bertambah hampir tiga kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Kecenderungan tersebut diduga akibat makanan faft food (junk food) dan kurang olahraga. Pengalaman yang bisa diambil jadi contoh yaitu kebijakan baru di Los Angeles dalam beberapa tahun ke depan akan menghilangkan tahap demi tahap minuman ringan di mesin-mesin penjaja dan kafetaria. Minuman yang dianggap tak bermanfaat itu akan diganti dengan air putih, susu dan buah-buahan dan minuman olahraga. Hal ini menunjukkan statu kepedulian terhadap kesehatan anak usia sekolah.
Bahaya yang senantiasa mengancam kesehatan anak usia sekolah karena perilaku makan ini harus diperhatikan oleh semua pihak. Orang tua, guru, persatuan orang tua murid dan guru, pemerintah daerah khususnya departemen pendidikan dan departemen kesehatan harus mulai mengambil langkah cepat berkoordinasi untuk melakukan upaya perbaikkan. Perlu dipikirkan pembuatan peraturan atau kebjaksanaan baik oleh pihak sekolah atau instansi terkait sehingga dapat mengatasi masalah ini.
Peningkatan perhatian kesehatan anak usia sekolah ini diharapkan dapat mengciptakan peserta didik yang sehat, cerdas dan berprestasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Solihin Pujiadi. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1993
2. FAO. Street Foods. Report of an FAO technical meeting on street foods, Calcutta, 6-9 November 1995. FAO Food and
Nutrition paper 63. FAO, Rome. 1997.
3. Maskar D.H. Assessment of illegal food additives intake from street food among primary school children in selected area of
Jakarta. Thesis. SEAMEO-TROPMED RCCN University of Indonesia. 2004.
4. Guhardja S, Madanijah S, Wulandari S, Natal NPS, and Akbar M. The role of street foods in the household food consumption:
A survey in Bogor. Proceeding of the 4th ASEAN Food Conference 1992. IPB Press. 1992.
5. Anita N. Mutu mikrobiologis minuman jajanan kantin di tiga sekolah wilayah Bogor. Institut Pertanian Bogor. 2002.
6. WHO. Foodborne disease: a focus for health education. World Health Organization, Geneva. 2000.
7. WHO/ICD/SEAMEO. Persyaratan utama keamanan makanan jajanan kaki lima. (Terjemahan). SEAMEO TROPMED RCCN
UI. Jakarta. 1999.
8. Agus Firmansyah.Aspek. Gastroenterology problem makan pada bayi dan anak. Pediatric Nutrition Update, 2003.
9. Hirschmann, Jane R., CSW, and Zaphiropoulos, Lela, CSW. Preventing Childhood Eating Problems: A Practical, Positive
Approach to Raising Children Free of Food & Weight Conflicts Carlsbad, CA: Gürze Books, 1993
10. Soepardi Soedibyo, Sri Nasar. Feeding problem from nutrition perspective.Pediatric nutrition update,2003.
11. Agras S., Hammer L., McNicholas F. (1999). A prospective study of the influence of eating-disordered mothers on their
children. International Journal of Eating Disorders, 25(3), 253-62.
PERILAKU MAKAN ANAK SEKOLAH
Dr Widodo Judarwanto SpA
Orang tua si Udin mengeluh, anaknya akhir-akhir ini tidak mau makan di rumah. Selidik punya selidik ternyata uang jajan dan kebiasaan jajan di sekolah semakin bertambah. Kegiatan di sekolah menyita waktu terbesar dari aktifitas keseluruhan anak sehari hari, termasuk aktifitas makan. Makanan jajanan di sekolah ternyata sangat beresiko terjadi cemaran biologis atau kimiawi yang banyak mengganggu kesehatan. Perilaku makan pada anak usia di sekolah tersebut harus dihatikan secara cermat dan hatihati. Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan kualitas anak-anak saat ini. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Tumbuh berkembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantiítas yang baik serta benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Sering timbul masalah terutama dalam pemberian makanan yang tidak benar dan menyimpang. Penyimpangan ini mengakibatkan gangguan pada banyak organ organ dan sistem tubuh anak. Foodborne diseases atau penyakit bawaan makanan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di banyak negara. Penyakit ini dianggap bukan termasuk penyakit yang serius, sehingga seringkali kurang diperhatikan.
PEMBERIAN NUTRISI YANG BAIK DAN BENAR PADA ANAK SEKOLAH
Untuk memberikan makanan yang benar pada anak usia sekolah harus dilihat dari banyak
aspek,seperti ekonomi, sosial ,budaya,agama,disamping aspek medik dari anak itu sendiri. Makanan pada anak usia sekolah harus serasi,selaras dan seimbang. Serasi artinya sesuai dengan tingkat tumbuh kembang anak. Selaras adalah sesuai dengan kondisi ekonomi,sosial budaya serta agama dari keluarga. Sedangkan seimbang artinya nilai gizinya harus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan usia dan jenis bahan makanan seperti kabohidrat, protein dan lemak. Karena besarnya variasi kebutuhan makanan pada masing-masing anak,maka dalam memberikan nasehat makanan pada anak tidak boleh terlalu kaku. Pemberian makanan pada anak tidak boleh dilakukan dengan kekerasan tetapi dengan persuasif dan monitoring terhadap tumbuh kembangnya. Pemberian makan yang baik harus sesuai dengan Jumlah, Jenis dan Jadwal pada umur anak tertentu. Ketiga hal tersebut harus terpenuhi sesuai usia anak secara keseluruhan, bukan hanya mengutamakan jenis tapi melupakan jumlahnya atau sebaliknya memberikan jumlah yang cukup tapi jenisnya tidak sesuai untuk anak. Contoh, pemberian makanan jumlahnya sudah cukup banyak tapi jenis makanannya kurang mengandung nilai gizi yan baik. Pada usia sekolah sudah harus dibagi dalam jenis kelaminnya mengingat kebutuhan mereka yang berbeda. Anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik sehingga mmerlukan kalori yang lebih banyak dibandingkan anak perempuan. Pada usia ini biasanya anak perempuan sudah mengalami masa haid sehingga memerlukan lebih banyak protein, zat besi dari usia sebelumnya. Sarapan pagi bagi anak usia sekolah sangatlah penting, karena waktu sekolah adalah penuh aktifitas yang membutuhkan energi dan kalori yang cukup besar. Untuk sarapan pagi harus memenuhi sebanyak ¼ kalori sehari. Dengan mengkonsumsi 2 potong roti dan telur; satu porsi bubur ayam; satu gelas susu dan buah; akan mendapatkan 300 kalori. Bila tidak sempat sarapan pagi sebaiknya anak dibekali dengan makanan/snack yang berat (bergizi lengkap dan seimbang) misalnya : arem-arem, mi goreng atau roti isi daging. Makan siang biasanya menu makanannya lebih bervariasi karena waktu tidak terbatas. Makan malam merupakan saat makan yang menyenangkan karena bisa berkumpul dengan keluarga.
BAHAYA MAKAN JAJANAN
Pada umumnya kebiasaan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan di kantin atau
warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food. Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Jajanan kaki lima dapat mejawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah, mudah, menarik dan bervariasi. Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah. Sebuah penelitian di Jakarta baru-baru ini menemukan bahwa uang jajan anak sekolah rata-rata sekarang berkisar antara Rp 2000 – Rp 4000 per hari. Bahkan ada yang mencapai Rp 7000. Sekitar 5% anak-anak tersebut membawa bekal dari rumah. Mereka lebih terpapar pada makanan jajanan kaki lima dan mempunyai kemampuan untuk membeli makanan tersebut. Menariknya, makanan jajanan kaki lima menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%, protein 29% dan zat besi 52%. Karena itu dapat dipahami peran penting makanan jajanan kaki lima pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah. Namun demikian, keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi masih dipertanyakan. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella Paratyphi A di 25% - 50% sampel minuman yang dijual di kaki lima. Penelitian lain yang dilakukan suatu lembaga studi di daerah Jakarta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sekolah adalah lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso dengan saus, ketan uli, es sirop, dan cilok. Berdasarkan uji lab, pada otak-otak dan bakso ditemukan borax, tahu goreng dan mie kuning basah ditemukan formalin, dan es sirop merah positif mengandung rhodamin B. Selain cemaran mikrobiologis, cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan kaki lima adalah penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ilegal seperti borax (pengempal yang mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet yang digunakan untuk mayat), rhodamin B ( pewarna merah pada tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil). Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti antara lain kanker dan tumor pada organ tubuh manusia. Belakangan juga terungkap bahwa reaksi simpang makanan tertentu ternyata dapat mempengaruhi fungsi otak termasuk gangguan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perilaku tersebut meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, hiperaktif dan memperberat gejala pada penderita autism. Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP ini menimbulkan gelaja-gejala yang sangat umum seperti pusing, mual, muntah, diare atau bahkan kesulitan Luang air besar. Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari WHO yang mengatur dan mengevaluasi standar BTP melarang penggunaan bahan kimia tersebut pada makanan. Standar ini juga diadopsi oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes no. 722/Menkes/Per/IX/1998.
Wawancara dengan PKL menunjukkan bahwa mereka tidak tahu adanya BTP ilegal pada bahan baku jajanan yang mereka jual. BTP ilegal menjadi primadona bahan tambahan di jajanan kaki lima karena harganya murah, dapat memberikan penampilan makanan yang menarik (misalnya warnanya sangat cerah sehingga menarik perhatian anak-anak) dan mudah didapat. Lebih jauh lagi, kita ketahui bahwa makanan yang dijajakan oleh PKL umumnya tidak dipersiapkan dengan secara baik dan bersih.
Kebanyakan PKL mempunyai pengetahuan yang rendah tentang penanganan pangan yang aman, mereka juga kurang mempunyai akses terhadap air bersih serta fasilitas cuci dan buang sampah. Terjadinya penyakit bawaan makanan pada jajanan kaki lima dapat berupa kontaminasi baik dari bahan baku, penjamah makanan yang tidak sehat, atau peralatan yang kurang bersih, juga waktu dan temperatur penyimpanan yang tidak tepat.
UPAYA PERBAIKKAN
Untuk mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak
aman, perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah, guru, orang tua, murid, serta pedagang. Sekolah dan pemerintah perlu menggiatkan kembali UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Materi komunikasi tentang keamanan pangan yang sudah pernah dilakukan oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan dapat ditingkatkan penggunaannya sebagai alat bantu penyuluhan keamanan pangan di sekolah-sekolah. Perlu diupayakan pemberian makanan ringan atau makan siang yang dilakukan di lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar anak tidak sembarang jajan. Koordinasi oleh pihak sekolah, persatuan orang tua murid dibawah konsultasi dokter sekolah atau Pusat Kesehatan Masyarakat setempat untuk dapat menyajikan makanan ringan pada waktu keluar istirahat yang bisa diatur porsi dan nilai gizinya. Upaya ini tentunya akan lebih murah dibanding anak jajan diluar disekolah yang tidak ada jaminan gizi dan kebersihannya.
Dengan menyelenggarakan kegiatan makanan tambahan tersebut, diharapkan mendapat keuntungan, misalnya : anak sudah ada jaminan makanan disekolah, sehingga orang tua tidak khawatir dengan makanan yang dimakan anaknya disekolah. Ibu yang selalu khawatir biasa memberi bekal makanan pada anaknya. Kalau makanan yang baik dan bergizi tersedia disekolah, akan meringankan tugas ibu. Dalam kegiatan ini bisa pula dikenalkan berbagai jenis bahan makanan yang mungkin tidak disukai anak ketika disajikan dirumah, tetapi akan menerima ketika disajikan disekolah. Dengan demikan anak dapat mengenal aneka bahan pangan.
Banyak studi yang menunjukkan persentase anak sekolah Amerika yang kelebihan berat badan
bertambah hampir tiga kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Kecenderungan tersebut diduga akibat makanan faft food (junk food) dan kurang olahraga. Pengalaman yang bisa diambil jadi contoh yaitu kebijakan baru di Los Angeles dalam beberapa tahun ke depan akan menghilangkan tahap demi tahap minuman ringan di mesin-mesin penjaja dan kafetaria. Minuman yang dianggap tak bermanfaat itu akan diganti dengan air putih, susu dan buah-buahan dan minuman olahraga. Hal ini menunjukkan statu kepedulian terhadap kesehatan anak usia sekolah.
Bahaya yang senantiasa mengancam kesehatan anak usia sekolah karena perilaku makan ini harus diperhatikan oleh semua pihak. Orang tua, guru, persatuan orang tua murid dan guru, pemerintah daerah khususnya departemen pendidikan dan departemen kesehatan harus mulai mengambil langkah cepat berkoordinasi untuk melakukan upaya perbaikkan. Perlu dipikirkan pembuatan peraturan atau kebjaksanaan baik oleh pihak sekolah atau instansi terkait sehingga dapat mengatasi masalah ini.
Peningkatan perhatian kesehatan anak usia sekolah ini diharapkan dapat mengciptakan peserta didik yang sehat, cerdas dan berprestasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Solihin Pujiadi. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1993
2. FAO. Street Foods. Report of an FAO technical meeting on street foods, Calcutta, 6-9 November 1995. FAO Food and
Nutrition paper 63. FAO, Rome. 1997.
3. Maskar D.H. Assessment of illegal food additives intake from street food among primary school children in selected area of
Jakarta. Thesis. SEAMEO-TROPMED RCCN University of Indonesia. 2004.
4. Guhardja S, Madanijah S, Wulandari S, Natal NPS, and Akbar M. The role of street foods in the household food consumption:
A survey in Bogor. Proceeding of the 4th ASEAN Food Conference 1992. IPB Press. 1992.
5. Anita N. Mutu mikrobiologis minuman jajanan kantin di tiga sekolah wilayah Bogor. Institut Pertanian Bogor. 2002.
6. WHO. Foodborne disease: a focus for health education. World Health Organization, Geneva. 2000.
7. WHO/ICD/SEAMEO. Persyaratan utama keamanan makanan jajanan kaki lima. (Terjemahan). SEAMEO TROPMED RCCN
UI. Jakarta. 1999.
8. Agus Firmansyah.Aspek. Gastroenterology problem makan pada bayi dan anak. Pediatric Nutrition Update, 2003.
9. Hirschmann, Jane R., CSW, and Zaphiropoulos, Lela, CSW. Preventing Childhood Eating Problems: A Practical, Positive
Approach to Raising Children Free of Food & Weight Conflicts Carlsbad, CA: Gürze Books, 1993
10. Soepardi Soedibyo, Sri Nasar. Feeding problem from nutrition perspective.Pediatric nutrition update,2003.
11. Agras S., Hammer L., McNicholas F. (1999). A prospective study of the influence of eating-disordered mothers on their
children. International Journal of Eating Disorders, 25(3), 253-62.
Subscribe to:
Posts (Atom)

